Perilaku Sex Bebas di Kalangan Remaja dan Pentingnya Pendidikan Kespro pada Anak
Siang itu sekira pukul 14.00 saat mentari sedang terik-teriknya. Tiga orang anak perempuan sebut saja si A, B, dan C yang masih memakai seragam putih biru masuk ke dalam ruang poli kandungan. Di sana, mereka merasa kikuk bagaimana memulai pembicaran dengan dokter perempuan itu. Mereka pun saling adu sikut dan saling lempar siapa yang akan memulai pembicaraan.
Dan pada akhirnya si A-lah yang memulai pembicaraan. Kepada dokter ia bilang bahwa ia ingin memeriksakan kandungan.
“Saya mau cek kandungan, dok. Apakah benar kandungan saya bersih atau tidak?” ujarnya agak terbata-bata.
“Kamu hamil? Kamu pernah berhubungan badan sebelumnya?” dokter mencoba menyelidik.
“Ya nggak lah, dok. Ini saya masih mens”
Mendengar pengakuannya, dokter itu segera memeriksa kandungannya. Melihat ada yang tidak beres di dalam perut yang terlihat normal-normal saja, dokter lagi-lagi bertanya perihal pernah-tidaknya ia berhubungan badan sebelumnya. Namun, ia tetap berkilah bahwa ia tak pernah berhubungan badan.
***
“Tapi pemeriksaan saya berkata sebaliknya. Kamu sudah mengandung selama 3 bulan,” kata dokter agak ketus. Lagi-lagi ia berkilah bahwa ia sudah meminum obat penggugur kandungan dan hasilnya darah keluar dari kemaluannya. Saat ditanya dapat dari mana obat itu, ia menjawab bahwa obat itu ia dapatkan dari temannya si C.
Dokter itu agak terheran-heran, “Kalian kok tahu obat penggugur kandungan?”
Tanpa tedeng aling-aling ia menjelaskan musababnya, “Sebab si C pernah hamil juga, dok. Minum obat penggugur terus ia berhasil menggugurkan kandungannya,” “Terus bagaimana dengan nasib saya ini, dok. Saya masih SMP,” ujarnya.
“Ya sudah, kalau begitu begini saja. Bilang ke pacarmu itu agar segera menikahimu. Tapi sebelum itu, kamu harus beri tahu orang tuamu dulu bahwa kamu hamil,”
“Tapi itu nggak mungkin, dok,” ujarnya buru-buru memotong solusi yang diberikan oleh dokter.
“Apanya yang tak mungkin? Kamu hanya mengakui apa-apa yang kamu sembunyikan, sudah itu saja,”
Dan secara tak disangka-sangka, ia memberiu tahu rahasia besar di balik semua ini.
“Sebab saya hamil sama pacarnya si C dok”.
***
Dari kisah nyata yang saya tulis ulang di atas yang beredar di media sosial baru-baru ini, membuktikan bahwa pergaulan anak zaman kiwari semakin mengkhawatirkan. Kondisi ini kian diperparah dengan berkembangnya sosmed yang kini makin luas aksesnya. Seringkali orang tua gaptek dengan teknologi, sedangkan dalam penguasaan teknologi, anak jauh melebihi orang tuanya.
Akibatnya si anak menjadi lost control, nihil pengawasan, dan tentu saja bebas mengakses segala macam konten yang jelas tak terfilter.
Maka dari itu, di sinilah pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi (kespro) diberikan sedari dini kepada anak hingga beranjak remaja. Ulasan tentang pendidikan kespro sudah dibahas di beberapa artikel. Yang jelas, tanpa edukasi kespro, anak punya rasa penasaran yang tinggi tentang apa-apa yang tak diketahuinya terhadap tubuhnya, akibatnya ia mengambil keputusan yang fatal saat mengeksplorasi seksualitasnya.
Namun yang disayangkan, fenomena yang terjadi di Indonesia saat ini agaknya masih menimbulkan pro-kontra di masyarakat. Beberapa orang beranggapan jika membicarakan seks pada anak itu hal yang tabu dan tidak menutup kemungkinan malah akan mendorong remaja untuk mencoba hal baru di luar dirinya yang belum pernah sama sekali ia coba. Di samping itu, sebagian besar masyarakat masih berpandangan bahwa pendidikan kespro seolah sebagai suatu hal yang vulgar.
Dan saya rasa, mereka yang berpikiran seperti itu masih belum faham tentang materi yang akan diberikan seperti apa dan bagaimana cara penyampaiannya, sehingga muncul spekulasi yang saling berlawanan. Boleh jadi yang mereka bayangkan: pendidikan kesehatan reproduksi sama dengan cara berhubungan sex. Padahal tidak hanya itu, masih banyak materi dasar yang harus dimengerti oleh para remaja.
***
Dalam lingkup keluarga, orang tua merupakan aktor utama dalam hal pendidikan anak usia dini dan di sinilah peran orang tua sebagai ujung tombak bagi pemahaman tentang segala hal bagi anak-anaknya, dalam kasus ini pendidikan kesehatan reproduksi. Salah satu hal penting yang harus difahami orang tua adalah menjawab keingintahuan anak dengan jujur dan dengan bahasa yang lebih halus dan mudah difahami, sehingga anak bisa memahami dengan baik.
Dengan pemahaman seksual yang diberikan sedari dini, saya yakin, para remaja tanggung ini kalau tahu yang namanya biaya hidup, pajak motor, biaya aqiqah, nyumbang kondangan, iuran RT, bayar BPJS, bayar listrik dan air, sampai bayar wifi indihome tidak akan terjadi yang namanya hamil di luar nikah.

Gemar membaca dan menulis sambil dengerin lagu bergenre Pop-EDM. (IG: rvdafii_ls. E-mail: ruzdanfauzi025@gmail.com)
