f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
perang uhud

Fatimah, Tenaga Pengobatan dalam Perang Uhud

Fatimah binti Rasulullah merupakan putri bungsu atau anak perempuan keempat Rasulullah Saw, dari penikahan istri pertamanya Khadijah binti Khuwailid. Ia dilahirkan di Makkah pada tahun 606 M, tepat lima tahun sebelum Nabi Muhammad menerima wahyu pertama sebagai penanda kerasulan.

Ketika beranjak dewasa, Fatimah dipersunting oleh Ali bin Abi Thalib. Namun sebelumnya, Abu Bakar as-Shiddiq dan Umar bin Khattab juga ikut meminang Fatimah. Tetapi jawaban Rasulullah adalah tidak mengizikan, karena menunggu izin Allah terkait jodoh putrinya.

Alhasil, Ali bin Abi Thalib lah yang terpilih menjadi jodoh Fatimah. Pernikahan mereka pun dilangsungkan kurang lebihnya setelah Rasulullah Saw hijrah dari Makkah ke Madinah pada 622 M. Kemudian, dari pernikahan tersebut mereka dikaruniai 4 anak, yakni 2 laki-laki dan 2 perempuan. Adapun 2 putranya bernama Hasan dan Husain, sedangkan 2 putrinya bernama Zainab dan Ummi Kultsum.

Sebenarnya masih ada satu calon puteranya lagi, yakni Muhsin. Namun dikarenakan Fatimah di waktu itu mengalami keguguran, sang calon bayi akhirnya meninggal dalam posisi masih berada di dalam kandungan.

Fatimah pun memiliki banyak julukan, seperti az-Zahra yang berarti cahaya atau berkilau. Selain itu, ia juga mendapatkan julukan al-Butul yakni memusatkan perhatiannya pada ibadah, dengan maksud jiwa dan raganya ia relakan hanya untuk beribadah kepada Allah Swt.

Adapun jihad yang pernah dilakukan Fatimah adalah ikut andil dalam perang Uhud. Ia bertugas sebagai tenaga bantuan, khususnya mengobati orang-orang Muslim yang terluka, termasuk juga merawat ayahnya, yakni Rasulullah saw.

Lantas, Bagaimana Peran Fatimah dalam Perang Uhud?

Ketika perang Uhud berlangsung, kelengahan sempat terjadi pada kaum Muslimin, khususnya pada pasukan pemanah. Mereka merasa pihak musuh sudah dikalahkan, lalu lupa akan perintah Rasulullah saw. untuk tidak meninggalkan bukit tersebut. Atas kelengahan tersebut, beberapa dari mereka secara tidak langsung tergoda akan ghanimah berceceran yang sengaja ditinggalkan oleh kaum musyrikin Quraisy.

Kesempatan ini pun tidak di sia-siakan oleh kaum musyrikin Quraisy. Dari kelengahan yang terjadi, dengan dipimpin langsung oleh Khalid bin Walid yang waktu itu belum masuk Islam, mereka langsung membalas serangan untuk kaum Muslimin.

Alhasil, terbunuhlah pasukan kaum Muslimin dalam jumlah besar, bahkan Rasulullah saw. sendiri mendapati serangan dan mengalami luka diwajahnya. Ada riwayat dari Anas ra, bahwa: “Rasulullah patah empat gigi depannya dalam perang Uhud dan terluka dikepalanya, sehingga mengalir darah dikepalanya.”

Fatimah pun melihat dengan mata kepalanya sendiri, apa yang menimpa Rasulullah Saw. Atas kejadian tersebut, ia langsung memeluknya, lalu mengusap darah yang mengucur dari wajahnya. Rasulullah pun bersabda: “Allah sangat murka atas kaum yang membuat berdarah wajah Rasul-Nya.”

Disisi lain, ketika Ali bin Abi Thalib melihat Rasulullah Saw yang sedang teluka parah, ia pun datang dengan membawakan air dengan wadah dari batu. Lalu Ali berkata kepada Fatimah: “Peganglah pedang yang tidak tercela ini.”

Rasulullah Saw pun langsung mendekati wadah air yang diberikan oleh Ali, dikarenakan sangat haus. Namun disaat hendak meminumnya, Rasulullah tidak jadi meneguk airnya, karena bau dari air tersebut tidaklah mengenakkan. Lalu Rasulullah Saw berkata, “air ini busuk.” Kemudian Rasulullah menggunakan air tersebut untuk berkumur dan membersihkan darah yang ada pada mulutnya.

…                                   

Melihat kejadian tersebut, sahabat lain yang bernama Muhammad bin Maslamah langsung menuju ke sebuah sumur dan mengambil timbanya untuk mendapatkan air. Lalu dengan cepat ia membawakan air yang jernih nan segar untuk diberikan kepada Rasulullah Saw. Dan kemudian beliau meminumnya dan mendoakan kebaikan untuk Muhammad bin Maslamah.

Namun, darah Rasulullah Saw yang diusap oleh Fatimah masih bercucuran tak henti-hentinya. Oleh karenanya, Fatimah terus-menerus membersihkan darah Rasulullah Saw sembari membakarkan sepotong tikar dengan api hingga menjadikannya debu. Lalu debu tersebut digunakan untuk menyeka luka Rasulullah. Dan seketika itu juga pembulu darah tertutup dan darah pun perlahan mulai berhenti mengalir.

Kemudian, tepat pada usia 28 tahun, tanggal 3 Ramadhan, tahun 11 H. Fatimah binti Rasulullah menghembuskan nafas terakhir di Madinah. Ia wafat sekitar 15 bulan setelah wafatnya Rasulullah saw. Ada riwayat sebelum meninggal, Fatimah sering jatuh sakit, tidak mau makan dan minum. Boleh jadi dikarenakan kesedihan atas meninggalnya ayahnya.

Sebelum wafat, Fatimah memiliki beberapa keistimewaan, salah satu di antaranya telah meriwayatkan 18 hadis dari Rasulullah Saw. Satu hadisnya di antaranya disepakati oleh Bukhari dan Muslim melalui riwayat Aisyah binti Abu Bakar. Selain itu, hadis dari Fatimah juga diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Majah dan Abu Dawud.

Bagikan
Post a Comment