Reshuffle Luar Biasa
Beberapa hari yang lalu, seluruh warga negara Indonesia menyaksikan peristiwa reshuffle Kabinet pemerintahan Presiden Jokowi.
Di usia pemerintahan yang baru sekitar satu tahun lebih, presiden Jokowi melakukan perombakan kabinetnya. Beberapa alasan yang oleh para analis politik, Presiden Jokowi melakukan reshuffle kabinetnya adalah karena adanya dua orang menteri yang mendapatkan ‘kartu merah’ dari KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).
Selain itu keadaan negara yang sedang mengalami pandemi Covid-19 membuat kinerja beberapa kementerian, ternilai belum memuaskan untuk bisa mengatasinya. Oleh karena itulah presiden menilai perlu adanya penyegaran dan pergantian kabinetnya agar permasalahan Covid-19 bisa lebih cepat tertangani dengan baik.
Prerogatif Presiden
Reshuffle adalah hal yang lumrah bagi negara yang menganut sistem pemerintahan presidensial. Presiden mempunyai hak prerogatif dalam mengangkat dan memberhentikan para pembantunya.
Biasanya, alasannya karena ketidaksesuaian harapan presiden dengan hasil kerja kementerian di kabinet tersebut. Bisa juga karena kinerja menteri-menterinya yang kurang baik dan lamban dari target atau capaian presiden.
Bila pergantian menteri ini karena ketidakcepatan kerja, target yang belum tercapai, atau kinerja dari menteri tersebut yang buruk maka hal tersebut; adalah wajar dan sudah seharusnya segera dilakukan. Karena hal tersebut dapat berakibat pada pelayanan ke masyarakat terganggu dan tidak optimal.
Tetapi bila pergantian tersebut bukan karena hal-hal di atas, maka hal itu menjadi luar biasa. Reshuffle yang tidak biasa tersebut pernah terjadi di masa Khalifah Umar bin Khattab. Khalifah Umar mencopot jabatan panglima perang dari Khalid bin Walid dan menggantinya dengan Abdullah bin Ubaid.
Reshuffle di Masa Khalifah
Khalid bin Walid adalah seorang ahli dalam strategi peperangan. Sebagai seorang panglima perang, pasukan yang dipimpinnya tidak pernah terkalahkan baik saat beliau belum masuk Islam maupun setelah masuk Islam.
Beliau mendapat julukan ‘Pedang Allah’. Dan memang kelihatannya Allah telah menggariskan beliau untuk memenangkan setiap pertempuran. Termasuk saat menghadapi pasukan musuh yang besar seperti Persia, Iraq dsb.
Saking besarnya pengaruh beliau dalam memenangkan setiap peperangan membuat banyak orang memujinya dengan syair-syair. Mereka menganggap bahwa setiap kemenangan yang diraih adalah berkat kepemimpinan dan kepandaian Khalid bin Walid dalam mengatur strategi di medan perang.
Orang-orang dan pasukannya lupa bahwa setiap kemenangan yang diraih oleh umat Islam adalah karunia dari Allah Swt. Hal inilah yang terlihat dengan jeli oleh Khalifah Umar bin Khattab sebagai pokok permasalahan.
Kisah Kepemimpinan Umar
Khalifah Umar tidak berharap akidah umat Islam menjadi luntur karena rasa bangga yang berlebihan kepada Khalid bin Walid dan melupakan bahwasannya semuanya adalah karena pertolongan Allah Swt semata.
Bagi Khalifah Umar, penanaman tauhid dan kokohnya akidah adalah lebih utama dari pada sekadar kemenangan di setiap peperangan. Alasan itulah yang membuat Khalifah Umar memutuskan untuk memberhentikan Khalid bin Walid dari jabatan panglima perang dan menggantikannya dengan Abdullah bin Ubaid.
Singkat cerita, Khalifah Umar mengirimkan surat pemberitahuan pemberhentian Khalid bin Walid sebagai panglima perang; yang saat itu sedang mengadakan rapat untuk menyerang Byzantium (Romawi Timur).
Setelah menerima surat tersebut dan setelah memimpin rapat, Khalid bin Walid menyerahkan tampuk pimpinan perang kepada Abdullah bin Ubaid sesuai amanah dari Khalifah Umar. Setelah pimpinan perang diserahkan ke Abdullah bin Ubaid, Khalid bin Walid bergegas kembali ke Madinah untuk menghadap Khalifah Umar.
Saat bertemu dengan Khalifah Umar, Khalid bin Walid melaporkan bahwa amanah dari Khalifah Umar sudah terlaksana dengan menyerahkan kepemimpinan kepada Abdullah bin Ubaid. Selain itu, Khalid bin Walid ingin meminta klarifikasi atas keputusan tersebut. Bukan bermaksud memprotes keputusan tersebut; tetapi ia hanya ingin menanyakan apakah ada kesalahannya sehingga Khalifah Umar memutuskan hal tersebut.
Kemudian Khalifah Umar menjelaskan perihal alasannya mengganti pucuk pimpinan perang kepada Abdullah bin Ubaid. “Aku bertanggung jawab terhadap akidah umat Islam. Engkau tidak terkalahkan dalam setiap pertempuran. Engkau telah menjadi pahlawan bagi pasukan umat Islam. Tetapi akibat dari semua itu adalah rakyat banyak yang memujimu dengan syair-syair yang indah dan melupakan pujian kepada Allah Swt. Aku khawatir mereka menjadi syirik dan kufur atas nikmat Allah. Untuk itulah aku melepas jabatan panglima perang yang masyhur darimu.” Ungkap Khalifah Umar.
Reshuffle Luar Biasa
Setelah mendengarkan penjelasan dari Khalifah Umar, barulah Khalid bin Walid tersadar dan menerima dengan ikhlas keputusan tersebut. Khalid bin walid bergegas pamit dan segera kembali menuju medan perang bukan sebagai panglima perang tetapi sebagai prajurit biasa.
Orang-orang yang dulunya menjadi pasukannya terheran dan bertanya apakah gerangan yang sesungguhnya terjadi. Khalid berkata dengan lantang di hadapan bekas pasukannya “Aku berperang bukan karena Umar bin Khattab melainkan karena Allah semata”.
Reshuffle yang dilakukan Khalifah Umar bukanlah reshuffle biasa tetapi reshuffle yang luar biasa. Khalifah Umar dengan bijaksana dan berani mengambil keputusan untuk mengganti pembantunya (panglima perangnya) yang selalu berhasil memenangkan setiap pertempuran. Mengganti orang yang telah menjalankan tugasnya dengan baik dan sukses bukan perkara dan pilihan yang mudah.
Sekali lagi hal ini menunjukkan sikap kehati-hatian, kejelian melihat permasalahan dan bijaksananya seorang Khalifah Umar yang menempatkan akidah adalah hal yang utama dan prioritas dibandingkan yang lain.
Penaklukan daerah lain, berdakwah di berbagai penjuru dunia, dan perang melawan musuh yang memerangi Islam tidak lain bertujuan untuk menyebarkan dan menanamkan kalimat tauhid. Setiap peperangan yang dilakukan sejatinya untuk memantapkan akidah bukan sebaliknya yang membuat luntur dan bergesernya akidah umat Islam.
Penulis merupakan alumni FISIP, Universitas Negeri Jember yang saat ini berdomisili kota Depok. Karir penulis pernah sebagai Waka Kesiswaan SDIT Ruhama, Kepala SDIT Ruhama, guru wali kelas dan Kepala SMPIT Ruhama. Sejak tahun 2017 – sekarang diberi amanah sebagai Direktur Pendidikan di Yayasan Pendidikan Ruhama.

Titin Kartini
Barakallah pak
MasyAlloh bagus sekali isi tulisannya pak
Saya jadi dapat ilmu baru dari tulisannya
cho cho Ruhama
masyaAllah, LUARRRRBIASA, mantul pak anas.. lanjutkan pak biar banyak literasi interlokal nih kita2 ..
hehehehe
jazakallahu khoiron