Menuju Bebas Finansial Ala KK
Saya dan teman-teman menyebutnya KK. Sebenarnya ini singkatan yang artinya Kak Kurtubi. Sudah 3 tahun saya mengenalnya. Pertemanan kami dimulai saat kami bersama dalam seminar Magnet Rejeki di Bogor.
Sejak itu, pertemanan kami berlanjut menjadi sebuah persahabatan. Tidak berlebihan rasanya, jika label persaudaraan melekat untuk kami juga teman-teman. Sesekali kami mengunjungi rumahnya yang terletak di Tajur Halang, Bogor.
Kami juga terlibat dalam kepengurusan GBB, Gerakan Berbagi Berkah selama 3 tahun. Gerakan ini memprakarsai berdirinya rumah quran di Tajur Halang, Bogor, setahun lalu. Tak hanya itu, santunan bulanan yatim duafa pun rutin dilaksanakan.
Ada yang menarik dari KK. Di usianya yang 28 tahun, ia terbilang sukses. Punya istri dan anak, rumah, mobil juga beberapa properti lainnya. Tentunya ini prestasi, mengingat, di usia yang sama, tak banyak orang yang bisa seperti itu.
Suatu hari, saya berkunjung ke rumahnya. Kami menghajar gorengan yang kubawa. Tak lupa melahap opak – cemilan dari Tasik. Ditemani milo hangat, rasanya kami merupakan mahluk paling bahagia hari itu.
Rupanya, bukan itu yang menyenangkan. Tanpa disangka-sangka, KK menjelaskan tentang financial freedom. Simpelnya bebas finansial. Jadilah hari itu, aku dan kakak perempuanku berasa sedang kuliah jurusan keuangan.
Aku buka kuping lebar-lebar. Aku serius menyimak. Dan aku lupa dengan gorengan dan opak yang menanti kubantai, hehe.
Wellstyle Bukan Lifestyle
Lahir dari keluarga yang berada di garis kemiskinan melahirkan mental pejuang bagi KK dalam kehidupan. Suatu hari ia pernah berkata, “Udah kenyang difitnah sejak kecil, dihina, hanya karena keluarga kami miskin.”
Aku terdiam. Mencoba menelusuri kehidupannya yang tidak mudah.
Rupanya, inilah yang membuat KK membara memperoleh kehidupan yang lebih baik. Ia ingin bisa membalikkan tangan. Ia mau tangannya berada di atas.
Ia mulai menabung dan bekerja keras. Sejak 2009, ia kerja sebagai staff warnet dengan gaji 20 ribu sehari. Tahun berikutnya, dia kerja di sebuah toko buku terkenal. Lalu, tahun 2014 ia bekerja di sebuah ritel terbesal di Indonesia sebagai SPB – Sales Promotion Boy.
Meski sudah kerja dan punya penghasilan, KK tidak boros. Ia tetap hidup hemat dan sederhana. Ia terus menabung, tak hanya uang tapi juga logam mulia.
Perjuangannya membuahkan hasil. Pada tahun 20014, ia bisa membeli tanah seluas 2000 meter persegi di Tasikmalaya, Jawa Barat, hasil kerja kerasnya.
Alih-alih bersenang-senang dengan hasil kerja yang ia sudah peroleh, KK lebih memilih hidup sederhana. Selebihnya, ia tetap bisa menabung untuk membeli properti.
Sebagai manusia biasa, ia juga pernah terfikir untuk mengejar lifestyle.
“Ketika melihat orang lain memiliki sesuatu yangg tidak kita miliki, ada rasa ingin memilikinya. Tapi kembali lagi kami alihkan pada goal setting yang telah kami tulis pada kertas impian,” katanya.
KK lbih memilih wellstyle ketimbang lifestyle. Tampak megah di luar bukan pilihannya. Ia merasa nyaman dengan gaya hidup yang simpel tapi berisi di dalam.
“Sebenarnya saya bisa beli mobil Fortuner atau Pajero, tapi saya pikir Sigra juga sudah cukup untuk kami,” katanya merendah.
Strategi Investasi Ala KK
Tidak berhenti sampai di investasi tanah di Tasik, KK juga membeli rumah di daerah Tajur Halang di tahun 2019. Sesaat sebelum pandemi menyapa.
Sebelumnya, di tahun 2017, ia membeli kios di daerah Sawangan, Depok.
Saat pandemi, tahun 2020 saat orang-orang krisis uang dan berhenti dari pekerjaan, KK malah beli kios di daerah Bojong, Depok.
Kemudian, masih pada periode Covid, ia beli lagi kios pada tahun 2021, di daerah Tajur Halang, Bogor.
Tentu tindakan-tindakannya ini menimbulkan pertanyaan? Darimana dan kok bisa?
Lagi, dalam sebuah pertemuan ia menjelaskan padaku dan kawan-kawan.
“ Aset alokasi yang saya terapkan ada 4. Reksadana pasar uang syariah, logam mulia, obligasi dan properti.”
Ia menekankan bahwa alokasi ini setelah income dikurangi 10% untuk sedekah. Nah, yang 90% adalah 70% untuk harian dan 20% untuk investasi.
“Untuk harian bila bisa dikurangi maka akan lebih baik.”
Sebelum bisa beli properti, ia menabungnya dalam bentuk obligasi dan logam mulia. Kalau angkanya sudah cukup, ia akan mengkonversinya menjadi properti.
Menurutnya, banyak orang hebat di luar sana justru terjatuh sebelum mencapai financial freedom karena tidak menerapkan keuangan yang sehat.
KK mengakui, ia tetap hidup sederhan meski pada tahun 2015 ia memiliki bisnis konter pulsa. Baginya, investasi jangka panjang jauh lebih penting dari sekadar gaya hidup.
“Dua tahun awal saat kami mulai bisnis, kami menerapkan hidup sederhana. Pola makan hidup hemat, mungkin makan daging sama ikan sama ayam, tersebut bisa kehitung. Makanan andalan kami adalah tahu tempe dan sayur asem. Karna kami punya target untuk membesarkan bisnis serta bisa mencapai target untuk membeli properti,” jelasnya.
Meski investasi adalah hal utama, KK tetap menabung untuk kebutuhan dana darurat. Selebihnya ia alokasikan untuk investasi dan membesarkan bisnis.
Saat bertemu dengannya beberapa waktu lalu, ia berpesan:
“Tetaplah fokus pada tiga hal ini ; menunda kesenangan, mengurangi taraf hidup dan melakukan aset lokasi.”
***
Founder Excellent in House Training, penyedia guru bahasa Inggris untuk karyawan kantor.
Instagram @ratu_masrana

Kyai Cepu
Keren 👍
ratu
Terima kasih sudah mampir. Sukses terus untuk pak Kyai.
Oesoen
Terharu.. And keren banget dek
Ratu
Alhamdulillah tq sudah mampir. Swmoga menginspirasi ya