Memeluk Mimpi (3): Pecah Telur
Ucapan Noc, teman saya dari Vietnam terkait dengan ceritanya yang mengalami “pecah telur”, ternyata dialami oleh saya juga. Maksud pecah telur di sini adalah bahwa keluar negeri untuk pertama kalinya itu ibarat anak ayam yang berada dalam telur. Kita harus menunggu lama dan matang agar telur itu bisa pecah. Tentu saja, upaya memecahkan telur itu tidak mudah. Selain membutuhkan kekuatan fisik juga kemampuan daya luas berpikir agar bisa memecahkan telur tersebut. Namun, saat telur itu dapat kita pecahkan, fragmen pengetahuan kita bertambah, jaringan pertemanan semakin luas, dunia tidak lagi seputar aktivitas yang itu-itu saja. Selain berusaha keluar dari zona nyaman, bepergian keluar negeri; di mana pun negara yang kita kunjungi akan memberikan pengalaman asing sekaligus mendebarkan.
Pengalaman inilah yang membuat kita kemudian bisa membandingkan antara satu kota dengan kota lain di sebuah negara; antara satu komunitas dengan komunitas yang lain. Lebih jauh, pengalaman itu akan membentuk semacam cara kita merefleksikan diri kita sendiri atas kehidupan yang kita jalani ke depan.
***
Pada bulan Juli, tahun 2008, nama saya masuk dalam seleksi untuk mengikuti Konferensi Graduate Forum yang setiap tahun diadakan oleh ARI-NUS. Konferensi ini sebenarnya yang saya ikuti pada tahun 2007. Perbedaannya, saya tidak mendapatkan program fellowship untuk meriset dan menulis selama 3 bulan. Ini karena, saya dianggap sudah pernah mendapatkannya dan menjadi alumni. Meskipun demikian, hati saya membuncah kala itu. Senang sekali. Ini kali kedua saya bisa keluar negeri, walaupun masih di negara yang sama. Semua biaya perjalanan dan tempat tinggal saya selama konferensi ditanggung oleh pihak panitia.
Kedatangan saya yang kedua ini ke Singapura tentu memiliki pengalaman yang berbeda. Sebelumnya saya datang sebagai mahasiswa yang mendapatkan fellowship, sekarang saya menjadi mahasiswa yang merepresentasikan makalah. Namun, karena sebelumnya sudah memiliki bekal pengetahuan bagaimana mempresentasikan makalah dan menulis draft makalah berbahasa Inggris, pengalaman kedua ini membuat saya jauh lebih percaya diri untuk bicara berbahasa Inggris di hadapan para sarjana dan mahasiswa S2 dan S3 yang sedang menempuh pendidikan di pelbagai kampus; baik di Asia, Australia, Eropa, dan Amerika yang menekuni mengenai studi tentang Asia.
Pengalaman kedua keluar negeri inilah yang menjadi semacam batu loncatan saya memberanikan diri mendaftarkan beasiswa S2 untuk kedua kalinya ke luar negeri. Alasan saya mengapa ingin mengambil S2 kembali, karena saya merasa kemampuan akademik dan kemampuan bahasa Inggris saya masih lemah. Sementara untuk memperbaiki kemampuan itu dibutuhkan investasi uang yang cukup banyak; kursus kembali bahasa Inggris, membaca buku-buku dan artikel berbahasa Inggris, dan saya harus tumbuh dalam lingkungan akademis juga untuk belajar menulis dan presentasi ilmiah. Semua itu merupakan akses yang sulit saya dapatkan. Mengambil S2 kembali di luar negeri merupakan jalan terbaik untuk meraih hal itu semua. Di sisi lain, saya masih hidup sendirian dan belum memiliki pekerjaan tetap. Waktu luang yang banyak dan tidak memiliki tanggungan apapun membuat saya bisa leluasa untuk menjelajah kepada dunia asing yang saya hanya ketahui di melalui internet.
***
Dalam mencari S2 ini, saya tidak pernah memiliki rencana untuk kuliah di kampus apa dan tinggal di negara mana. Ini karena, kemampuan bahasa Inggris saya juga jauh di bawah rata-tata dan ini pengalaman pertama saya untuk mencari beasiswa luar negeri. Untuk meraih impian tersebut, saya kemudian mulai mencari informasi dan mengumpulkannya. Dari hasil penelusuran informasi inilah satu persatu semua persyaratan saya pelajari. Saat itu, sesuai dengan kemampuan TOEFL saya yang hanya mencapai skor 500, saya hanya bisa mendaftarkan diri kepada dua beasiswa, ADS (Australian Development Scholarship, sekarang menjadi Australian Award Scholarship/AAS) dan Dual Master Program Ateneo De Manila University dan University for Peace, Costa Rica, didanai oleh Nippon Foundation. Di antara dua aplikasi tersebut, hanya satu yang lolos administrasi untuk wawancara, yaitu Dual Master Program ini.
Saya mendapatkan jadwal wawancara malam hari sekitar jam 21.00 malam, menyesuaikan perbedaan waktu 7 jam dengan Costa Rica. Sementara pada jam 21.00 malam di Jakarta, di Costa Rica pada saat yang sama adalah jam 09.00 pagi. Wawancara tersebut dilakukan melalui telepon seluler. Dalam wawancara, tidak banyak yang mereka tanyakan. Mereka bertanya seputar Curriculum Vitae (CV) dan motivasi saya mengapa ingin belajar di University for Peace. Dalam wawancara tersebut, mereka sebenarnya sedang mengobservasi kemampuan bahasa Inggris saya dan pengalaman internasional yang saya pernah dapatkan. Harus diakui, pengalaman pertama kali dan kedua melakukan perjalanan ke Singapura dan sempat tinggal tiga bulan di sana memperkuat tingkat kepercayaan diri saya. Selain itu, pengalaman perjalanan itu menguatkan pengalaman yang saya bisa taruh dalam catatan CV saya.
***
Akhir Desember 2008, saya mendapatkan surat elektronik dari Carla Ortiz, Kepala Departemen Administrasi Upeace. Surat itu berisi pemberitahuan bahwasanya saya telah diterima beasiswa S2 di Upeace dan diminta untuk memenuhi sejumlah persyaratan administrasi dokumen untuk dikirimkan ke Costa Rica dan Filipina. Setelah memenuhi sejumlah persyaratan dokumen yang diminta, awal Februari 2009, saya berangkat ke Manila, Filipina. Saya berangkat bersama Bondan Widyatmoko, Peneliti LIPI yang menjadi teman satu angkatan. Di Manila ini, saya, bersama 20 mahasiswa dan mahasiswi yang kebanyakan berasal dari Asia, di mana setengahnya merupakan dari Jepang, mendapatkan pematangan untuk belajar kemampuan penulisan akademik. Ini dilakukan, agar kami mendapatkan semacam standarisasi kemampuan sebelum diberangkatkan ke Costa Rica pada pertengahan Agustus 2009.
Di antara 20 teman-teman, hanya sekitar 7 orang yang dianggap kemampuan bahasa Inggrisnya masih dianggap belum cukup. Ini didapatkan setelah melalui proses evaluasi dari hasil pembelajaran dan presentasi. Saya termasuk dalam 7 orang itu. Status saya saat berangkat ke Costa Rica untuk belajar di Upeace pada pertengahan Agustus 2009 kemudian dianggap masih probation, tahap percobaan. Tahap ini akan berubah menjadi mahasiswa penuh, apabila saya dianggap cukup mampu dalam melewati tahap pelatihan bahasa Inggris yang diberikan saat bersamaan menjalani kuliah di Upeace. Meskipun demikian, saya tetap bersyukur. Ini karena, saya telah melewati fase tahapan penting dalam hidup saya; menapaki sebuah perjalanan terhadap dunia yang asing, dunia yang sepenuhnya tidak pernah saya bayangkan untuk menjejakkan kaki ke negara Amerika Latin.
***
Dari sini, sekali lagi, saya mulai mengerti omongan Noc itu bahwa keluar negeri untuk pertama kalinya itu ibarat anak ayam yang berada dalam telur. Kita harus menunggu lama dan matang agar telur itu bisa pecah. Tentu saja, upaya memecahkan telur itu tidak mudah. Selain membutuhkan kekuatan fisik juga kemampuan daya luas berpikir agar bisa memecahkan telur tersebut. Begitu juga dengan bepergian pertama kali keluar negeri. Ada banyak perjuangan yang harus kita lakukan. Dari pengalaman membuat esai aplikasi hingga mengisinya. Pengalaman-pengalaman semacam itu seringkali mengalami kegagalan tapi ada juga langsung berhasil. Tetapi, ketika kesempatan itu didapatkan untuk pertama kalinya, kita akan mengalami kembali bepergian keluar negeri, baik atas nama beasiswa, konferensi, workshop, riset, ataupun sekedar travelling.
Di sisi lain, kehadiran akses internet, adanya pelbagai kesempatan beasiswa, relatif murahnya tiket penerbangan ke negara Asia Tenggara dan negara lainnya juga telah membuka luas kesempatan-kesempatan tersebut. Di sini, yang harus kita lakukan adalah keberanian untuk memulai mencari informasi dan kemudian segera mengirimkan aplikasi kepada sebuah program yang menawarkan aktivitas sosial ataupun akademik yang sudah saya sebutkan sebelumnya. Jika tidak memulai, kita akan selamanya di dalam telur yang tidak bisa memecahkan dirinya.

Peneliti PMB-BRIN dan Mahasiswa S3 Kajian Melayu, National University of Singapore
IG w. akmaliah
