f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
perselingkuhan

Tak Ada yang Nyaman di Zona Nyaman

Saya adalah sarjana pendidikan yang seharusnya memilih jalan mengabdi setelah lulus dari kampus. Setelah menjalani kehidupan 12 bulan mengajar di sebuah sekolah dasar dengan predikat tenaga honorer dengan upah sangat menyedihkan, akhirnya saya memohon undur diri pada kepala sekolah dengan alasan yang sengaja saya buat-buat. Biar terkesan tidak menghindar dari kenyataan.

Beban sebagai seorang sarjana tidak bisa saya pikul dengan pendapatan yang hanya bisa menutup biaya makan semata. Sementara untuk pemasukan tambahan saya melelang kemampuan kepada guru-guru senior di sekolah yang gaptek teknologi untuk mengetik perangkat pembelajaran mereka.

Terkadang saat uang sertifikasi mereka cair saya kebagian sedikit manisnya. Guru senior selalu punya rasa memperlakukan tenaga honorer dengan cara menyenangkan. Sekadar uang bensin atau jajan di kantin tidaklah begitu buruk.

Perkara pendapatan membuat saya keluar dari sekolah dan memilih untuk bekerja di sebuah perusahaan outsourcing. Pemasukan naik lima kali lipat membuat saya merasa girang dan sedikit bisa menyokong uang jajan adik yang masih SMA. Hanya saja perkara baru yang tidak pernah saya prediksi sebelumnya datang. Ternyata saya menderita sindrom kebosanan pada rutinitas yang dilakukan berulang-ulang.

****

Bekerja dari Senin ke Sabtu, sedari pukul 8 pagi dan tamat di pukul 5 sore kukira pekerjaan idaman. Menatap layar komputer seharian yang hanya dijeda oleh jam makan dan salat ternyata tidak selamanya indah. Ada titik-titik jenuh yang tumbuh subur. Minim sekali interaksi dengan manusia membuat saya merasa perlu memutar otak untuk kabur secepatnya.

Ritme kerja yang awalnya menyenangkan dan saya kira akan menyukainya dalam durasi lama. Ternyata tidak. Saya hanya bisa merasakan kenyamanan selam 5 bulan pertama. Memasuki bulan ke enam ternyata situasi berkehendak berbeda. Saya memasuki fase bosan. Malas berangkat ke kantor dan selalu ingin pukul 5 sore tiba dengan cepat. Di bulan ke delapan saya resign. Hari libur hanya terpakai untuk rebahan seharian. Saya tidak mau menjadi tua dengan cara yang membosankan. Mengeluh setiap hari. Menyalahkan keadaan. Serta paling buruknya tidak menemukan pendamping hidup karena begitu sibuknya bekerja.

Baca Juga  Sifat Pemimpin Tak Jauh dari Sistem

Secara nominal pemasukan sebagai seorang pemuda tanpa pasangan memang terasa cukup. Apa lagi aktivitas sehari-hari hampir selalu sama membuat isi dompet jarang keluar. Di kantor ada jatah makan siang. Praktis saya hanya memikirkan makan malam saja. Sarapan yang penting bisa ngopi sudah lebih dari cukup. Itupun kopi rentengan seharga Rp 1.500. Jika beruntung ada rekan kerja yang senang hati berbagi bekal entah itu roti atau kue pasar.

***

Di masa-masa awal bekerja kantoran saya merasa berada di zona nyaman. Paling tidak saya akan bertahan di kantor 3-4 tahun. Menabung ilmu. Setelah itu pindah ke perusahaan yang lebih mentereng. Namun kenyataannya zona nyaman tidak bisa selalu ditakar dengan nominal pemasukan. Ia memang bisa terlihat nyaman dari segi pendapatan, tapi ada batin yang tersiksa oleh keterpaksaan yang mesti dijalani.

Saya menjadi mengerti mengapa di luar sana banyak sekali para budak-budak berdasi memilih mundur dari perusahaan setelah mendapatkan posisi terbaik dengan imbalan luar biasa. Saya saja yang belum genap setahun sudah menyerah lebih dulu. Semakin giat kita bekerja, maka yang mendapatkan keuntungan paling luar biasa tetap pemilik perusahaan. Sementara kita yang berada di bawah hanya kebagian air yang menetes.

Zona nyaman punya versinya masing-masing. Ada yang nyaman menjadi manusia kantoran, ada yang nyaman menjajakan jualan dan ada pula yang nyaman ketika mengajar. Saya benar-benar tidak bisa lepas dari dunia pendidikan. Keluar dari kantor saya kembali ke jalur semestinya. Karena di kota sudah membuat saya jenuh dan ingin lari sementara waktu.

Saya memilih untuk mengajar di pedalaman Papua. Di sana sepi dan jauh dari lampu-lampu serta kebisingan kota. Bisa dikatakan di Papua saya menginstal ulang tujuan hidup saya. Mempertanyakan zona nyaman yang pernah saya kira benar-benar nyaman ternyata hal itu yang justru mendepak saya untuk pergi sejauh mungkin.

Baca Juga  Sesuatu di Jogja
****

Saya menghabiskan satu tahun di Papua. Pulang dari sana justru membuka cakrawala pikiran. Saya tahu harus melakukan apa ke depannya. Yang pasti saya harus menjauh dari zona nyaman. Ketika mulai merasa nyaman di suatu tempat segala apa yang berjalan monoton dan memberikan apa yang saya mau dengan mudah, itu artinya saya harus berkemas lagi. Berangkat lagi. Mencari lagi.

Hidup adalah sarana mencari tahu apa yang benar-benar cocok untuk kita jalani. Jika menemukan kenyamanan dan merasa pas, tinggallah lebih lama atau perlu seterusnya hingga usia padam. Jika dirasa ada yang menghambat untuk bertumbuh, sebaiknya bersiap-siap untuk mencari hal baru lainnya. Kendaraan sudah menunggu di depan. Tunggu apa lagi? Sila berangkat.

Bagikan
Post a Comment