f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ayah

Ada Anak Bertanya pada Ayahnya

“Ayah, mengapa ummi sakit?”

Kira-kira apa jawaban ayah ya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, terlebih dahulu orang tua harus memiliki iman. Bagaimana jika orang tua tidak mendapatkan pendidikan keimanan sejak kecil?

Menurut K.H.I. Zarkasyi dalam buku Usuluddin seorang dewasa dapat menanamkan iman melalui dua cara. Pertama, mempelajari dalil naqli baik Alquran maupun hadis tentang ketauhidan. Kedua, menggunakan dalil aqli, yaitu akal. Adapun dalil aqli ada tiga kemungkinan, yaitu yang pertama ia menerima keimanan itu, yang kedua ia menolak, atau yang ketiga ia ragu-ragu.

Alasan mengapa orang tua terlebih dahulu yang beriman adalah dalam buku Rumahku Madrasah Pertamaku, Dr.  Khalid Ahmad Syantut menjelaskan bahwa pendidikan Islam itu dimulai dari rumah, mengoptimalkan fase usia dini, dan diperoleh dari orang tua yang shalih dan shalihah. Nah, apabila orang tua telah berhasil atau sedang berproses terus-menerus menambah keimanan, maka akan mudah menjawab pertanyaan anak tersebut. Tanpa iman orang tua takkan dapat menanamkan iman kepada buah hatinya.

*

“Ayah, mengapa ummi sakit?”

Orang tua sedang mengajarkan ketauhidan di sini. Ayah menjawab, “Nak, ayah punya cerita tentang seorang pemuda yang sedang berjalan-jalan. Ketika ia melewati sebuah pohon merambat, yang batangnya kecil, lemah, pendek, ia heran mengapa pohon kecil lemah dan pendek ini menghasilkan buah semangka yang besar. “Sungguh tidak cocok” kata pemuda itu. “Seharusnya buah semangka sebesar ini mempunyai pohon sebesar pohon beringin.

Pohon beringan besar, dahannya kuat, dan pohonnya tinggi.” Namun pemuda itu kemudian kejatuhan buah pohon beringin di kepalanya. Tepluk. “Aw, apa ini! Oh, ini buah pohon beringin! Buahnya kecil sekali.” Maka pemuda itu berpikir. “Allahu Akbar, Allah menciptakan buah pohon beringin ini kecil, sehingga kepalaku tidak pecah. Andai buahnya sebesar semangka, mau jadi apa kepalaku karena kejatuhan buahnya. Alhamdulillah” ucap pemuda itu.

Baca Juga  Suka Korea-an, Apa Dampaknya?
*

“Jadi Nak, ciptaan dan apapun hal ihwal di dunia ini, semua telah tertulis di kitab yang sangat besar, namanya kitab Lauhul Mahfudz. Ditulis sebelum terciptanya kehidupan. Allah yang menentukan buah pohon beringin itu kecil, sehingga apabila jatuh mengenai kepala orang, orang itu tidak apa-apa.

Begitu pula ummi, telah tertulis bahwa ummi akan sakit ini, selama ini, dan sembuhnya kapan itu menjadi qada dan qadar Allah. Tugas manusia hanya berusaha hidup sehat dan berdoa agar ummi sembuh dengan tidak meninggalkan penyakit apapun.”

Mengapa kita perlu beriman kepada Allah, semata agar hati menjadi tenang. Dapat menjalani hidup dengan syukur, sabar, ikhlas, dan senang hati. Iman dapat menyelamatkan kehidupan kita di akhirat. Beriman kepada Allah adalah syarat pertama seseorang untuk masuk surga. Iman juga dapat menimbulkan akhlak yang baik, dengan iman seseorang senantiasa ingat bahwa tindak tanduknya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Allah tidak membebani seseorang melebihi kemampuannya. Allah pun akan menimpakan ujian kenaikan kelas bagi hambanya yang beriman. Bahkan ujian adalah wujud cinta Allah kepada manusia. Ujian bisa buruk bisa juga baik. Keduanya berfungsi untuk menguji keistiqamahan manusia dalam beriman kepada Allah.

*

Dalam mengajarkan tauhid kepada anak-anak, pertama, tumbuhkan kecintaan kepada Sang Pencipta. Apa jadinya jika anak secara tiba-tiba diperintahkan salat, dengan paksaan, tanpa dijelaskan tujuan, tanpa diperdengarkan kisah orang-orang salih. Mereka hanya akan menjadi generasi yang salat sebagai formalitas, tiada makna di dalamnya.

Maka banyak di antara kita sekarang yang ketika salat di masjid seolah khusu, diperlambat, tetapi ketika salat di rumah sangat cepat bagai kilat. Ibadah bukan lillahi taala, tetapi riya kepada manusia. Orang-orang seperti ini telah tercederai fitrah imannya sejak kecil.

Baca Juga  Teknologi Teleporter dalam Al-Qur’an

Kedua, berikan suri tauladan dari orang tua dan pengasuh. Anak adalah peniru ulung. Anak belum mampu membedakan hal baik dan hal buruk. Semua mendapat anggapan baik. Maka ketika orang tua ingin anaknya hafiz Al-Qur’an, maka orang tuanya sebaiknya sering membaca Al-Qur’an.

Dari langkah itu, anak akan melihat betapa orang tuanya cinta kepada Al-Quran. Betapa tenangnya hati anak ketika mendengar bacaan Al-Qur’an orang tuanya. Harapannya adalah anak jatuh cinta kepada Alquran sehingga mudah untuk menghafalkan ayat-ayatnya.

“Nah, Lihat tuh meskipun sakit, ummi selalu senyum kan? Yuk, sekarang kita shalat dan berdoa kepada Allah. Semoga kita semua ditetapkan dalam iman ya Nak.”

Bagikan
Post a Comment