Jangan Banyak Melihat Rumput Tetangga, Peliharalah Rumput Kita
“Hidupku gak sempurna!”
“Uripku terasa hampa!”
“Uripku gini-gini saja!”
Ada yang pernah mengalami ini? Semua lah ya, namanya juga manusia. Manusia itu hari ini berdoa minta avanza, dikasih avanza nambah pengen lagi jadi innova, punya innova pengen lagi mobil yang lebih keren lainnya.
Padahal kita dari kecil sudah diajari, bila soal harta pandanglah orang di bawah kita, perkara ilmu dan ibadah barulah memandang ke atas kita. Jadi bagi yang punya avanza biar kita bersyukur lihatlah saudara kita yang masih pakai motor roda dua, yang punyamotor pandanglah saudara kita yang masih pakai sepeda. Itu baru kendaraannya, belum lagi kurang puas sama tasnya. Belum lagi kurang puas dengan bentuk hidungnya. Belum lagi kurang puas dengan rumahnya. Masih belum lagi kurang puas dengan HP dan gadgetnya. Intinya, kurang puas dengan semuanya. Iya, semuanya, dan tidak tahu nanti berhentinya di titik apa. Manusia.
Sayang sekali manusia kadang lupa. Mereka hanya membandingkan pencapaian kawan-kawan mereka. Mengagumi apa yang dilihatnya. Ingin memiliki apa yang sudah dimiliki manusia lainnya, tanpa mau membandingkan cobaan dan kesulitan apa yang ada di belakangnya. Asal kita tahu, cobaan dan kesulitan yang diturunkan padanya akan berbanding lurus dengan apa yang akan mereka dapatkan. Karena itu janji Allah kepada kita.
Misalnya saja, kita ingin sekali seperti kawan yang terlihat bahagia hidupnya. Sekolah tinggi dan sering ke luar negeri, mobilnya bagus, kemana-mana ditemani suami. Anak sehat ganteng dan cantik. Makan di restoran dan sering berekreasi di tempat yang menarik. Sedangkan kita, keluar kota saja bisa dihitung dengan jari. Mobil tua dan rumah pun berukuran mini. Tapi, apakah kita pernah merenungi juga, kira-kira ujian apa yang ada di belakang mereka? Seberat apakah mereka melewati hidupnya?
Kita sudah mendapat rezeki dan ujian sudah sesuai takaran yang paling baik dari Allah yang Maha Baik. Kita tidak bisa menjadi mereka, mereka pun juga tidak bisa menjadi kita. Ujian yang ada pada kita tidak akan bisa diselesaikan oleh mereka, pun dengan ujian mereka tidak akan sanggup kita yang menyelesaikannya. Sesungguhnya, manusia di dunia ini semua punya masalah. Bedanya, ada jenis manusia yang punya masalah tapi “dinikmati” sendiri, ada pula jenis manusia yang bila punya masalah seluruh dunia harus mengetahui. Hihihi. Manusia jenis yang pertama inilah yang sering menjadi objek rasa iri, karena yang tampak padanya hanya bahagia, seperti tidak ada masalah dalam hidupnya.
Berita baikya, Allah itu cuma butuh takwa. Iya, mau punya apa saja yang penting takwa. Tidak butuh punya apa-apa di dunia. Yang penting punya banyak bekal buat kembali kepadaNya. Tidak terkenal di dunia tidak mengapa, tapi terkenal di hadapan malaikat dan Tuhannya. Tidak menjadi orang yang kelihatan hebat dan punya segalanya tak mengapa, yang terpenting istiqomah bertakwa.
Agar kita merasa puas dan bahagia kadang hanya butuh bersyukur dan menerima. Karena dengan bersyukur dan menerima maka akan ditambah lagi nikmatnya. Bersyukur lagi, nikmatnya datang lagi, bersyukur lagi, datang lagi, begitu seterusnya. Banyak hal yang seharusnya disyukuri malah dilupakan. Rumput tetangga akan lebih hijau kalau tenaga kita hanya digunakan untuk fokus melihatnya, lebih baik gunakan tenaga kita untuk merawat rumput sendiri saja. Pasti hasilnya akan lebih hijau dari punya tetangga. Asal jangan pakai “pewarna.”
Mompreneur, founder @emakberdaya
