Lies Marcoes: Peta Gerakan Perempuan di Kalangan Masyarakat Kota
Dalam rangka menyambut acara Muktamar Muhammadiyah Aisyiyah ke-48, Muhammadiyah mengadakan Seminar Pra Muktamar. Seminar itu bertemakan tentang, “Arsitektur Gerakan Perempuan Berkemajuan”. Salah satu narasumber dalam acara tersebut ini adalah Lies Marcoes. Dia mendapatkan peran untuk memaparkan materi tentang “Peta Gerakan Perempuan Urban di Era Modern”.
Lies Marcoes memang cocok untuk menjadi narasumber mengenai topik tersebut. Hal ini karena di Indonesia dia memiliki peran penting dalam mempromosikan kesetaraan gender. Lies menjembatani jurang antara Muslim dan feminis sekuler serta mendorong seluruh feminis untuk bekerjasama dengan Islam dalam mempromosikan kesetaraan gender. Lies juga telah banyak berkontribusi dalam perubahan cara pandang masyarakat terhadap perempuan dan perempuan dalam Islam.
Dalam Seminar Pra Muktamar kali ini, ada 3 cakupan yang akan dibahas oleh Lies Marcoes.
1. Isu kepemimpinan perempuan pra modern Islam, kolonial, kemerdekaan, pembangunan, dan reformasi.
2. Peta gerakan perempuan di desa dan kota pada periode berbeda.
3. Tantangan dari bacaan kacamata kritis perempuan.
Perempuan dan Islam Pra Modern: kepemimpinan Perempuan
Perempuan di Indonesia juga memiliki rekam jejak sejarah dalam hal kepemimpinan. Dahulu di Kerajaan Aceh Darus Salam, selama 59 tahun pernah dipimpin oleh perempuan. Tajul Alam Syafiatuddin Syah (1664-1675), Nurul Alam Naqiyatuddin Syah (1975-1978), Inayatsyah Zakiyatuddin Syah (1678-1688), Kamalat Ad Din atau Kamalat Syah (1968-1969).
Tokoh lain dalam kepemimpinan adalah seperti R.A Kartini yang merupakan pelopor kemajuan pendidikan perempuan di Indonesia. Di Muhammadiyah sendiri juga ada Nyai Ahmad Dahlan yang merupakan tokoh pendidikan perempuan di Indonesia dan pendiri Aisyiyah.
Pergerakan perempuan Era kemerdekaan di Indonesia memiliki keterhubungan dengan gerakan femenis di negara-negara jajahan atau internasional. Di masa ini perempuan juga punya andil dalam memperebutkan kemerdekaan Indonesia. Di masa Orde Lama, gerakan perempuan terpecah menjadi 3 golongan, yakni gerakan nasionalisme, gerakan Perempuan Islam, gerakan perempuan berbasis Komunis. Mulai muncul organisasi “Gerwani” (Gerakan Wanita Indonesia). Gerwani dengan gerakan perempuan lainnya sama sama membahas hak-hak perempuan namun ada kontestasi karena ada kepentingan politik.
Pada masa Orde Baru, gerakan perempuan mengalami perubahan. Ideologinya mulai berubah menjadi ibuisme. Yakni “konco wingkingan” yang mana merupakan cerminan trauma pada gerakan politik perempuan. Dominasi pandangan PKK sangat kental pada masa ini. Pemerintah trauma jika perempuan ikut berpolitik, dan perempuan harus terlibat dalam pembangunan yang mana mengontrol masalah kehamilan perempuan (KB).
*
Saat itu hanya ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah yang melawan kebijakan tersebut. Mereka lebih ingin perempuan dipenuhi haknya terlebih dahulu daripada dikontrol tubuh dan masalah seksualitasnya. ‘Aisyiyah menekankan akan terpenuhinya hak-hak perempuan.
Di era orde baru juga muncul kelompok perempuan etis (awal 1980-an). Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, yakni:
1. Ada isu keterhubungan dengan gerakan perempuan internasional.
2. Adanya isu lokal, isu buruh dan gerakan buruh di perkotaan.
3. Anggota Aisyiyah aktif di isu-isu kritis seperti masalah buruh, kekerasan terhadap perempuan, dan kesehatan reproduksi.
4. Muncul gerakan buruh perempuan di perkotaan (non gerakan Perempuan Islam).
Di Indonesia ada sebuah konvergensi antara aktivis femenis sekuler dan aktivisis femenis Islam. Hal ini menjadi sebuah keunikan tersendiri. Konvergensi ini juga memunculkan pendidikan perempuan kritis baik di desa maupun di perkotaan.
Tonggak-Tonggak Munculnya Gerakan Feminis Islam di Era Modern
Di era modern, gerakan feminis Islam dimulai ketika munculnya karakter feminis (intelektual, kelas menengah yang bergerak di pemikiran kritis dan aksi untuk perubahan penindasan tentang penindasan perempuan. Para intelektual ini juga mengkritisi budaya dan agama yang potensial menindak. Selain itu ada perjumpaan feminis sekuler dengan feminis muslim yang peduli terhadap isu-isu perempuan. Di Indonesia, tokoh-tokoh Aisyiyah dan Muslimat, serta orang-orang di pesantren memiliki peran kunci sebagai jembatan dalam menjembatani dua aliran feminis.
Di era modern, mulai marak isu perempuan di daerah perkotaan. Hal ini dimulai sejak masa Orde Baru yang mengembangkan program ekonominya di mana orientasi pembangunan pada pertumbuhan ekonomi. Akhirnya mempengaruhi orientasi keluarga, termasuk orientasi kerja dan sumber uang. Berdasarkan penelitian, pada masa ini 87% merasa pendapatan keluarga tidak cukup dari satu sumber saja. Belum lagi ada masalah sumber uang yang beragam yang memunculkan krisis keluarga dalam relasi gender (suami-istri).
Perubahan Relasi dan Peran-peran Gender yang Membutuhkan Tanggapan
Umumnya penduduk kota berasal dari desa. Di desa terjadi perubahan relasi gender karena perubahan sumber-sumber tradisional ekonomi. Krisis desa dibawa ke kota tapi relasi gender tidak berubah sama sekali yang mana bertambahnya penduduk miskin dari kaum wanita. Selain itu juga muncul dehumanisasi perempuan dan pelanggaran atas gender berupa ketidakadilan.
Dalam waktu yang bersamaan, juga muncul gerakan keagamaan baru dan memiliki dampak di daerah perkotaan. Hal ini diawali adanya revolusi Iran sebagai Ideologi tandingan “Barat” dan munculnya Gerakan Ihwanul Muslimin dan Gerakan Salafi. Ormas-ormas Islam lokal juga mulai muncul dan berhadapan dengan kelompok-kelompok yang datang dari luar. Baik Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah, keduanya sibuk dengan pengembangan anggota masing-masing sehingga ada pihak-pihak warga kota yang tidak terjamah.
Perempuan Islam perkotaan tidak terjamah dakwah Islam karena tidak kontekstual dengan persoalan pekerjaan kota. Ada proses Islamisasi sebagai upaya koreksi model beragama tradisional. Keterputusan kultural memunculkan alienasi kultural yg menjadi mangsa Islam politik atau Islam anti Indonesia.
Apa yang Bisa Dilakukan dan Tantangan Selanjutnya?
Untuk mengatasi persoalan gender yang ada di Indonesia. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan:
1. Melaksanakan pelatihan dan pengkaderan tentang isu gender.
2. Menyelenggarakan pendidikan yang inklusif dan eksklusif .
3. Melakukan kajian berbasis metodologi.
4. Memasukkan isu yang relevan dengan mandat gerakan perempuan (HAM Perempuan).
Tantangan isu gender yang harus diselesaikan sekarang ini, di antaranya :
1. Muncul isu moral, isu kemiskinan, isu perempuan yang dianggap ancaman di ruang publik, dan isu perempuan dibaca berbeda oleh ormas”
2. Adanya ultra konservatif masuk negara (konservatif Ideologis ke anak anak)
3. Adanya kerusakan ekologi karena eksploitasi sumber daya alam yang besar.
Mahasiswa Sejarah dan kebudayaan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan founder Komunitas jejak Kisah
