f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
perempuan berkemajuan

Siti Chamamah Soeratno : Akar Historis Perempuan Berkemajuan

Muhammadiyah dalam menyambut acara Muktamar Muhammadiyah ‘Aisyiyah ke-48 mengadakan seminar Pra Muktamar dengan mengangkat tema Arsitektur Gerakan Perempuan Berkemajuan. Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno, M.A menjadi salah satu narasumbernya. Beliau berkesempatan untuk menyampaikan materi tentang Akar Historis Perempuan Berkemajuan.

Pada awal pembicaraannya, beliau menyinggung tentang pembasan perempuan yang tergantung dari isi pikiran yang berbicara. Memahami perempuan itu tidaklah sesederhana seperti apa yang dipersepsikan banyak orang. Yang mana perempuan hanya menumpuk permasalahan tanpa ada penyelesaian. Padahal perempuan dalam konteks historis Muhammadiyah adalah seorang pelaku serta pelaksana amal usaha Muhammadiyah. Hal ini sekaligus menandakan bahwa pelaku dan pelaksana amal usaha Muhammadiyah tidak hanya dari kaum laki-laki saja.

Perempuan dalam Perkembangan Pembahasan

Di era sekarang, peran perempuan itu dalam perkembangan pembahasan. Yang mana dari pembahasan tersebut akan menimbulkan diskusi-diskusi dalam benak orang. Maka dari itu, fungsi dari Pra Muktamar Muhammadiyah ini tidak lain adalah untuk menemukan respon solutif terhadap berbagai isu yang melekat pada perempuan.

Tahun 1912 adalah tahun lahirnya sebuah organisasi masyarakat yang bernama Muhammadiyah. Namun tahukah kita apa yang terjadi pada tahun itu? Saat itu terjadi sebuah penjajahan di Indonesia. Situasinya sangat tidak mendukung. Segala macam sektor kehidupan mengalami keterbelakangan seperti kesehatan, pendidikan, kemakmuran dan lain sebagainya.

Nah sejak saat itu Muhammadiyah mengadakan kegiatan-kegiatan yang sampai saat ini menjadi kegiatan terbesar dalam artian apa yang menjadi proses kegiatannya, apa yang menjadi wujud amal kegiatannya menjadikan masyarakat luas bisa mempersepsikannya atau bahkan mengapresiasinya. Sehingga jelas bahwa Muhammadiyah adalah organisasi kemasyarakatan.

Jadi, sangat jelas bahwa organisasi ini peduli terhadap kebutuhan masyarakat. Kerjanya atau kegiatannya adalah untuk mengharapkan, membela, membentuk masyarakat yang bahagia secara total. Total dalam segenap kehidupan baik di dunia dan di akhirat.

Maka dari itu, Muhammadiyah bisa berlangsung secara terus menerus sampai hari ini karena Muhammadiyah selalu mengikuti apa yang menjadi kebutuhan masyarakat. Hal pertama yang Muhammadiyah lakukan adalah mengajak untuk berbuat baik, selalu mengajak pada hidup bahagia karena kehidupan itu selalu berubah maka dalam Muhammadiyah memerlukan tajdid. Tujuan dari tajdid tidak lain adalah untuk memperbaharui cara dakwah kepada masyarakat. Misalnya cara berdakwah era tahun 1912 dengan era sekarang (disrupsi) tentu saja berbeda cara bicaranya.

Baca Juga  Pentingnya Nation Building bagi Masyarakat Bertutur di Era Digital
Asas Berpikir Muhammadiyah

Selanjutnya yang menjadi asas berpikir dari Muhammadiyah adalah asas Islam. Karena semuanya akan terkait dengannya. Terutama perempuan bahkan disebutkan bahwa Islamnya itu berkemajuan. Dan kita tahu bahwa berkemajuan itu rahmatan lil alamin. Tapi paham nggak apa itu rahmatan lil ‘alamin? Rahmatan lil ‘alamin itu adalah suatu kondisi yang mana kita harus mencapai kesadaran bahwa masyarakat itu harus bahagia. Menghindarkan dari yang ketidakenakan ataupun kerusakan.

Maka dari itu, Muhammadiyah harus bisa mengikuti tuntutan zaman yang sekarang sudah penuh dengan penguasaan digital sehingga Islam berkemajuan di Muhammadiyah kuncinya satu yaitu kontekstual. Maksudnya adalah sesuai kebutuhan. Tentunya untuk mencapai itu dibutuhkan perubahan-perubahan, sehingga benar bahwa Muhammadiyah juga organisasi yang ada tajdid. Maka ada dua istilah yang sering Muhammadiyah gunakan yaitu dakwah dan tajdid.

Nah dari hal tersebut kita bisa membicarakan pada satu titik pembahasan yaitu Akar Historis Perempuan Berkemajuan. Ada satu kunci untuk membicarakan hal itu yaitu dengan Islamic World View, sudut pandang yang dipakai dalam Islam. Karena kita sadar dalam perkembangan ilmu selalu mengatakan World View, terus di mana World view kita sebagai seorang Muslim? World View kita tidak sekedar bekerja di dunia saja tapi bekerja untuk mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat. Inilah yang sering kita lupakan.

Dalam masalah ini, semua akan bisa kita perbaiki jika kembali ke sini. Alhamdulillah Muhammadiyah itu organisasi Islam dan islam itu memiliki Islamic World View sesuai dengan perkembangan di Indonesia yaitu dengan pancasila sila kesatu, “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Semua asas Islam ada di Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.

Dalam persyarikatan Muhammadiyah itu anggotanya tidak hanya laki-laki saja tetapi juga perempuan. Maka dari itu, adanya ‘Aisyiyah adalah untuk menaungi gerakan perempuan itu sendiri. Semua orang pasti mengenal Kiyai Ahmad Dahlan sebagai tokoh hebat di Muhammadiyah,  begitu juga Nyai Walidah sebagai tokoh hebat di ‘Aisyiyah.

Cara Muhammadiyah Memandang Perempuan

Lalu bagaimana Muhammadiyah memandang perempuan? Caranya yaitu dengan melihatnya pada kewajiban. Yaitu mengajak untuk berdakwah sebagaimana tertera pada QS. Al-Imran ayat 104. “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Baca Juga  Bertambah Usia, Bertambah Manfaat untuk Sesama

Ketika sudah memilih Muhammadiyah sebagai wahana berdakwah itu alasannya sudah jelas karena adanya perintah untuk berdakwah yang mengajak sekelompok orang kepada kebaikan yaitu amar ma’ruf nahi munkar. Dan jikalau mampu, maka akan menjadi muflihun (orang yang berbahagia).

Jadi perintah untuk mengadakan kelompok dengan manajemen yang baik itu dalam ilmu manajemen dinamakan organisasi, maka lahirlah Muhammadiyah. Sehingga undangan berdakwah itu tidak satu-satu tapi kalau kegiatan itu bergerak bersama maka akan lebih efektif.

Dengan demikian amar ma’ruf nahi munkar yang menjadi tugas Muhammadiyah untuk menuju umat terbaik (khairu ummah) tidak hanya mengundang laki-laki saja tetapi juga perempuan. Selain itu QS. An-Nahl ayat 97 juga menyebutkan bahwa antara laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk membentuk kehidupan yang baik. “Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

Akar Historis Perempuan Berkemajuan Adalah Kembali kepada Al-Qur’an

Terkait dengan perempuan itu sendiri, pentingnya kita semua untuk kembali kepada Al-Qur’an sebagai solusi untuk mengatasi segala problematika yang ada. Dalam hal ini bagaimana Muhammadiyah sebagai organisasi berpikir suatu konsep kedudukan perempuan, status perempuan, peran perempuan, fungsi perempuan, hak perempuan yang tentunya akan muncul semuanya di situ.

Karena masih banyak persepsi orang tentang perempuan itu tidak sesuai dengan Al-Qur’an. Padalah majlis tarjih sudah membuat konsep tentang perempuan dengan segala macam dalil-dalilnya. Meskipun toh sudah banyak yang diperbaiki, akan tetapi tetap saja masih ada yang menonjol tentang segala macam kedudukan perempuan itu dengan persepsi yang rendah sehingga membuat keadaan seperti itu semakin tidak baik.

Lantas bagaimanapun kita harus kembali ke Al-Qur’an? Pernah nggak kita berpikir bagaimana kejadiannya bisa menjadi laki-laki atau perempuan? Bisa nggak hanya laki-laki saja dalam satu wilayah gitu? Nah untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita bisa merujuk pada QS. At-Thariq ayat 4-7. “Setiap orang pasti ada penjaganya (4) Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan (5) Dia diciptakan dari air (mani) yang terpancar,(6) yang keluar dari antara tulang punggung (sulbi) dan tulang dada (7).”

Baca Juga  Pelatihan Menulis Esai untuk Siswa SMA Muhammadiyah 25 Setiabudi, Pamulang

Penciptaan manusia itu dari tubuh laki-laki dan perempuan. Inilah maksud dari perintah dakwah untuk laki-laki dan perempuan itu. Jadi sama loh perintahnya. Tidak bisa perempuan hanya urusan dakwah domestik saja sedangkan laki-laki bisa leluasa di publik. Maka dari itu, perempuan juga harus berdakwah di publik.

Kalau ada pemikiran tradisionalis, kolot, konservatif itu didasarkan pada situasi perempuan yang hamil dan lain sebagiannya. Sedangkan laki-laki bebas karena tidak hamil dan lain sebagiannya. Padahal kedua-duanya itu diciptakan dalam keadaan sempurna. Tidak usah berbicara tentang kolot, konservatif dan sebagainya sebagai kebijaksanaan. Karena kebijaksanaan manusia itu tidak sebanding dengan kebijaksanaan Allah Swt.

***

Jadi dasarnya Muhammadiyah itu jelas yaitu Al-Qur’an dan Hadis. Bukan kata orang ini atau orang itu. Maka dari itu, kita dianjurkan untuk membaca dan tahu maknanya. Dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa laki-laki dan perempuan berpotensi sama untuk berkembang. Jadi yang dilihat itu sama-sama berdakwah dan beramal. Akan tetapi yang paling penting adalah siapa yang paling unggul ketakwaannya, maka yang unggul itulah yang akan menjadi umat terbaik. Maka itulah yang dipilih oleh Muhammadiyah. Dan dari situ juga yang akan melahirkan sosok perempuan berkemajuan.

Jadi, perempuan di ‘Aisyiyah itu beruntung karena berada pada The Big Family. Artinya kalau memiliki kegiatan apa-apa seperti ingin mensosialisasikan gender yang gender tadi tidak hanya jadi perhatian perempuan saja tapi juga laki-laki. Bahkan jangan sampai perempuan itu meremehkan dirinya sendiri sehingga tidak percaya bahwa dirinya mampu. Misalnya kalau ada tugas organisasi sajalah untuk menjadi ketua. Jangankan ketua organisasi, ketua panitia saja kadang ogah-ogahan.

Singkat kata, silahkan memperbanyak isu historisnya dengan hal yang sifatnya karakteristik Muhammadiyah, keislaman dan baca dengan serius itu. Semangati itu semua dan sekaligus bekali amal-amalan dengan Al-Qur’an.

Bagikan
Post a Comment