Bertepatan dengan tanggal 31 Mei yang merupakan saat meninggalnya Siti Walidah atau yang dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan. Penggerak ‘Aisyiyah sekaligus istri KHA Dahlan yang juga merupakan pahlawan nasional, ada sebuah nilai yang menginspirasi sosoknya yang istimewa. Istimewa karena beliau tidak pernah mengenyam pendidikan formal jaman itu namun memiliki pemikiran yang luar biasa, melampaui zamannya, dalam ikhtiarnya memandaikan kaum perempuan. Beliau sadar bahwa kesempatan belajar bukan hanya milik kaum laki-laki, bahwa keinginan untuk mengetahui segala sesuatu bukan hanya dominasi laki-laki. Perempuan punya keinginan dan seharusnya juga mendapatkan kesempatan yang sama. Karena sesungguhnya laki-laki dan perempuan mempunyai hak yang sama untuk berbuat kebaikan dan mendapatkan pahala atas kebaikannya (QS. An-nahl : 97).
Siti Walidah adalah seorang anak perempuan yang lahir pada masa di mana perempuan tidak mendapatkan kesempatan yang sama dengan laki-laki terutama dalam menuntut ilmu. Siti Walidah merupakan putri Kyai Fadhil Kamaludingrat yang merupakan salah satu penghulu hakim di Kasultanan Yogyakarta dan saudagar batik dari Kauman. Walidah merupakan salah satu anak perempuan di antara saudara laki-lakinya yang kesemuanya mendapatkan pendidikan yang luas. Sebagai anak perempuan Kauman, Siti Walidah tidak memiliki kesempatan yang sama dengan saudara laki-lakinya. Namun karena tradisi keilmuan yang ditanamkan orang tuanya menjadikan Siti Walidah sebagai anak perempuan yang haus akan ilmu.
Ayahnya sebagai kyai dan memiliki langgar yang biasa dipergunakan untuk sholat keluarganya sekaligus mengajar ilmu agama pada masyarakat sekitarnya. Siti Walidah selalu mengikuti pelajaran ayahnya sehingga tumbuhlah dia menjadi seorang anak perempuan yang memiliki kemampuan ilmu terutama keagamaan yang kuat. Kepiawaiannya dalam membaca dan menulis huruf Arab Pegon yang menjadi bahasa dalam kitab-kitab yang dipelajarinya menjadikan Siti Walidah selalu ingin belajar dan membaca kitab-kitab. Inilah sebabnya pernikahannya dengan Muhammad Darwis yang kelak menjadi KHA Dahlan seolah memuaskan kehausannya akan ilmu.
Mendampingi Suami Mengembangkan Muhammadiyah
Dalam mendampingi perjuangan suaminya mendirikan dan mengembangkan Muhammadiyah, Siti Walidah yang kemudian dikenal dengan nama Nyai Ahmad Dahlan tidak hanya sekedar menjalankan apa yang diperintahkan atau diminta suaminya. Namun dia juga memiliki ide-ide unik yang melampaui zamannya yang kemudian dijalankannya atas izin dan restu suaminya. Hampir semua gerak Muhammadiyah yang melibatkan perempuan ada campur tangan Nyai Ahmad Dahlan. Pengajian Wal Asri, Pengajian Maghribi, Sopo Tresno, Internaat adalah beberapa ide Nyai Ahmad Dahlan dalam mendukung perjuangan suaminya.
Pengajian Wal Asri adalah pengajian bakda ashar yang diikuti para perempuan Kauman dan sekitarnya. Pengajian Maghribi diperuntukkan bagi buruh-buruh batik perempuan yang sudah agak tua yang baru bisa memiliki waktu longgar selepas maghrib. Internaat adalah konsep asrama perempuan yang sepenuhnya pendidikan didalamnya dipegang oleh Nyai Ahmad Dahlan sendiri. Internaat inilah yang membekali anak-anak perempuan dengan kemampuan kepemimpinan. Kemampuan berpidato di depan orang banyak sampai kemampuan untuk mengelola rumah tangganya termasuk ekonominya. Tentu saja ini adalah kelebihan seorang Nyai Ahmad Dahlan yang dilandasi dengan pendidikan yang diperoleh dari ayahnya. Dan dikuatkan oleh suaminya sehingga menjadikan dia sebagai perempuan yang memiliki keinginan memberdayakan dan memandaikan kaumnya.
Ketua Aisyiyah Pertama bukan Nyai Ahmad Dahlan
Ketika ‘Aisyiyah didirikan pada tahun 1917, KHA Dahlan tidak menunjuk istrinya namun menunjuk Siti Bariyah sebagai ketuanya. Alasan nepotisme memang paling banyak diajukan kenapa bukan Nyai Ahmad Dahlan yang ditunjuk sebagai ketua namun Siti Bariyah, salah satu perempuan Kauman yang mendapatkan pendidikan formal. Pertimbangan kemampuan organisatoris yang dimiliki Siti Bariyahlah yang membuat KHA Dahlan memilihnya karena diawal keberadaannya ‘Aisyiyah membutuhkan pemimpin yang bisa meletakkan dasar-dasar keorganisasin yang kuat. Namun ada yang perlu diketahui dibalik penunjukan Siti Bariyah dan bukan Nyai Ahmad Dahlan sebagai ketua ‘Aisyiyah.
Berdasarkan cerita dari Siti Juwariyah yang merupakan cucu perempuan tertua Nyai Ahmad Dahlan dan sempat hidup bersama beliau yang dituturkan kepada putrinya, Siti Hadiroh, bahwa sebenarnya Nyai Ahmad Dahlan sendirilah yang menolak untuk menjadi ketua ‘Aisyiyah. Saat itu beliau masih buta huruf latin dalam artian tidak bisa baca tulis latin. Beliau sangat sadar bahwa untuk memimpin ‘Aisyiyah dibutuhkan orang yang memiliki kemampuan berkomunikasi dengan banyak pihak. Di mana pada saat itu bahasa Melayu yang banyak dipergunakan sehingga kemampuan membaca dan menulis latin sangat dibutuhkan dalam memimpin ‘Aisyiyah. Nyai Ahmad Dahlan sangat menginginkan ‘Aisyiyah berkembang dan mendampingi Muhammadiyah dalam mencerdaskan anak bangsa. Sehingga harus dipimpin orang yang memiliki kemampuan berjejaring yang kuat.
Pilihan pada Siti Bariyah pada saat itulah yang paling tepat. Inilah akhlak yang luar biasa yang diwariskan KHA Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan yang langsung dicontohkan beliau berdua. Right man on the right place adalah prinsip Kyai dan Nyai dalam menempatkan seseorang untuk mengurus Muhammadiyah termasuk ‘Aisyiyah. Jadi bukan karena Nyai tidak memiliki kemampuan manajerial dan pemikiran modern namun Nyai menyadari kekurangannya yang dianggapnya bisa menghambat perkembangan ‘Aisyiyah. Perlu diingat bahwa meskipun Nyai Ahmad Dahlan tidak memimpin ‘Aisyiyah namun semua keputusan dan gerakan ‘Aisyiyah merupakan ide beliau. Kemudian dijalankan murid-muridnya dan Siti Bariyah selaku ketua ‘Aisyiyah, termasuk ide untuk melakukan pendidikan usia dini melalui Frobel Kindergarten ‘Aisyiyah.
Belajar Baca Tulis Latin bersama Murid-muridnya
Apakah Nyai Ahmad Dahlan berhenti sampai disini ? Tidak. Beliau kemudian mengundang seorang guru Ny Tjitrosoebono yang diminta mengajarkan baca tulis latin di mana Nyai ahmad Dahlan ikut bergabung bersama murid-muridnya. Nyai Ahmad Dahlan sama sekali tidak malu untuk menuntut ilmu bersama para muridnya karena beliau memiliki semangat untuk bisa menguasai huruf latin. Untuk apa ? Untuk mengembangkan ‘Aisyiyah. Itulah semangat yang dimiliki seorang Nyai Ahmad Dahlan untuk bisa baca dan tulis latin. Nyai sangat paham benar bahwa dia harus bisa menguasai baca tulis latin jika ingin mengetahui lebih banyak tentang keorganisasian dan membawa ‘Aisyiyah lebih berkembang.
Kecerdasan beliau, keseharian beliau dengan Kyai menjadikan Nyai Ahmad Dahlan sangat paham semangat mencerdaskan perempuan yang ingin dilakukan suaminya melalui ‘Aisyiyah. Nyai Ahmad Dahlan baru memimpin ‘Aisyiyah pada tahun 1920. Beliau menggantikan Siti Bariyah dan mulai menjalankan program-program yang semuanya bermuara pada pencerdasan perempuan. Karena pengalaman beliau pulalah ‘Aisyiyah pertama kali mencanangkan program berantas buta huruf baik latin maupun arab bagi semua anggotanya pada tahun 1923. Hal ini merupakan implementasi dari gerakan pemberantasan kebodohan yang menjadi konsen ‘Aisyiyah sejak awal berdirinya. Dan disinilah peran seorang
Nyai Ahmad Dahlan Memimpin Aisyiyah
Nyai Ahmad Dahlan sangat kuat karena beliau memiliki pengalaman tersendiri berkaitan dengan buta aksara ini. Nyai Ahmad Dahlan memimpin ‘Aisyiyah sebagai ketua selama 6 tahun (1920 – 1926) dan setelahnya menjadi penasehat sampai beliau meninggal. Kepiawaian Nyai Ahmad Dahlan dalam berorasi dan memimpin terlihat pada tahun 1926 ketika beliau memimpin sidang Muhammadiyah. Munculnya seorang perempuan memimpin sidang Muhammadiyah menarik beberapa media asing yang menuliskan betapa di tahun itu ada seorang perempuan yang memimpin sidang yang dihadiri para lelaki dan perempuan. Semangat beliau mengembangkan ‘Aisyiyah keluar Jogja terutama setelah suaminya meninggal dunia sangat luar biasa. Perjalanan dakwah dilaluinya keluar Jogja untuk mengembangkan ‘Aisyiyah. Bahkan pernah beliau berdakwah sampai Batur Dieng dan harus naik kuda untuk mencapai lokasi dakwahnya.
Perjuangan Nyai Ahmad Dahlan tidak berhenti meski usia senja. Keteladanan beliau dalam memegang prinsip-prinsip yang ditinggalkan suaminya sudah seharusnya menjadi pegangan bagi para ‘Aisyiyah modern ini. Hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan cari penghidupan di Muhammadiyah sangat erat dipegang oleh Nyai Ahmad Dahlan. Sehingga walau beliau adalah istri pendiri Muhammadiyah namun pantang beliau membebani Muhammadiyah untuk kepentingan pribadinya. Meskipun beliau bukan ketua ‘Aisyiyah pertama namun semua kepeloporan yang dilakukan ‘Aisyiyah keluar dari pemikiran-pemikiran hebatnya. Itulah Nyai Ahmad Dahlan, seorang perempuan yang terlahir dengan semangat belajar yang luar biasa. Dukungan keluarga dan lingkungan yang menjadikan beliau sosok yang tangguh dan teguh memegang prinsip.
Ketidakmauan beliau menjadi ketua ‘Aisyiyah lebih disebabkan karena kesadaran beliau akan kemampuannya yang belum bisa untuk memimpin. Namun saat kemampuan itu telah dimilikinya maka beliau bersedia untuk memimpin ‘Aisyiyah yang memang sejak awal beliau bidani kelahirannya. Itulah pemimpin yang sebenarnya yang meletakkan kepentingan dan ambisi pribadi dibawah kepentingan organisasinya. Semoga semangat ini yang diambil oleh para ‘Aisyiyah era milenial ini dimana semangat belajar yang tak kunjung padam dan kesadaran akan kemampuan diri secara jujur untuk menjadi pemimpin. Apalagi saat ini jelang Muktamar, jelang suksesi kepemimpinan maka Walidah Muda diharapkan bisa muncul untuk bisa mewarnai’Aisyiyah ke depan dengan tetap memegang prinsip-prinsip yang pernah diteladankan oleh Nyai Ahmad Dahlan.
