Membaca Ulang Pemikiran Rahma El Yunusiah dalam Konsep Emansipasi Kaum Perempuan di Minangkabau
Sejak awal abad ke- 20 sampai hari ini kita menyaksikan upaya-upaya baru yang menggugat keterpinggiran perempuan. Lebih dari itu perempuan-perempuan Indonesia hari ini tengah mengalami problem besar: kekerasan terhadap perempuan dan anak dalam berbagai bentuknya. Dan berlangsung hampir di semua ruang dan waktu kehidupan.
Mereka harus dibebaskan dari situasi ini dan harus dicerdaskan. Terbukanya akses pendidikan yang setara bagi laki-laki dan perempuan dalam kehidupan demokrasi yang berkembang saat ini seakan membuka ruang bagi kaum perempuan. Guna meraih kemajuan, keadilan dan kesejahteraan bersama.
Kecerdasan dan kemajuan perempuan adalah kecerdasan dan kemajuan untuk semua. Dewasa ini, perempuan yang memiliki karir di luar rumah bukan menjadi hal yang tabu.
Kerja sebagai pegawai kantoran yang mengharuskannya pergi pagi pulang sore seakan menjadi trend di masa kini. Meningkatkan prestasi akademik dan soft skill telah lumrah kaum perempuan lakukan di masa kini. Hal ini menjadikan perempuan lebih banyak muncul di ruang publik.
Berprofesi sebagai pegawai kantoran, presenter, reporter, model iklan, artis, musisi, politisi bahkan kuli bangunan sekalipun. Ruang publik yang awalnya merupakan hal tabu bagi perempuan kini adalah wadah untuk mengekspresikan dan mengaktualisasikan diri.
Perempuan dapat dengan leluasa melakukan hal-hal yang biasanya kaum laki-laki lakukan di ranah publik. Emansipasi perempuanlah sebutannya untuk wacana ini. Persamaan hak dan kesetaraan gender menjadi makna utama dari emansipasi perempuan (Citra Mustikawati, 2015: 66).
Jika melihat wacana emansipasi perempuan di Indonesia, kita tidak dapat melepaskan beberapa sosok tokoh pahlawan yang berasal dari kaum perempuan. Seperti; R.A. Kartini, Rahmah El Yunusiah, Rohanah Kudus, dll.
Rahmah El Yunusiah Pejuang Emansipasi Perempuan asal Sumatera Barat
Sejak abad ke-20, Rahmah El Yunusiah adalah salah satu pejuang emansipasi perempuan di Indonesia, khususnya di Sumatera Barat.
Kiprahnya dalam memperjuangkan dan mendedikasikan seluruh hidupnya untuk pendidikan kaum perempuan Indonesia. Bermula dari keprihatinannya terhadap nasib perempuan di zamannya, Khususnya di Minangkabau. Yang salah satu penyebabnya adanya ketidaksetaraan kesempatan belajar antara laki-laki dan perempuan.
Maka dari itu, perjuangannya untuk perempuan Rahmah wujudkan dengan mendirikan madrasah khusus perempuan yang namanya Madrasah Diniyyah Putri di negeri Minangkabau sebagai pembaharuan pendidikan Islam bagi perempuan. Rahmah El Yunusiah lahir dari keluarga ulama Minangkabau.
Rahmah lahir pada tanggal 29 Desember tahun 1900 di Padang Panjang, Sumatera Barat (Edward, Dkk., 1981: 206). Ayah Rahmah merupakan Qadli di Negeri Pandai Sikek, Padang Panjang dan pimpinan Tarekat Naqsabandiyah al-Khalidiyah yang bernama Syekh Muhammad Yunus (Burhanuddin Daya, 1995: 180).
Selain itu ia juga seorang yang ahli ilmu Falaq dan Hisab. Sementara ibunya adalah seorang anak gadis yang masih berdarah keturunan ulama, empat tingkat di atas masih ada hubungannya dengan Mamak Haji Miskin, sang pembaharu gerakan Paderi. Ibu kandungnya bernama Ummi Rafi’ah. Dari silsilah keturunan Rahmah el-Yunusiyah nampak bahwa ia berasal dari keturunan ulama.
Dalam usia enam belas tahun ia menikah dengan seorang alim dan mubaligh bernama Haji Bahauddin Lathif dari Sumpur Padang Panjang. Perkawinan ini tidak berlangsung lama, hanya enam tahun, pada tahun 1922 keduanya bercerai atas kehendak kedua belah pihak dan selanjutnya menganggap sebagai dua orang bersaudara. Dari perkawinan ini Rahmah tidak mempunyai anak. Sejak perceraian tersebut, ia tidak bersuami lagi (Burhanuddin Daya, 1995: 136).
Rupanya hal ini memberi manfaat kepadanya sendiri, sehingga ia dapat mendedikasikan seluruh hidupnya kepada perguruan yang ia dirikan. Ia menjadi orang yang cinta dan mendalami ajaran-ajaran agama, serta memiliki perhatian sangat besar terhadap kondisi masyarakat pada masanya, khususnya di kalangan kaum perempuan (Isnaniah Shaleh, 1978: 177).
Petinggi Al-Azhar Mengunjungi Sekolah Rahmah
Tahun 1955, para petinggi Universitas Al-Azhar, Mesir, datang ke Padang, Sumatera Barat dan menyempatkan berkunjung ke Sekolah milik Rahmah. Mereka terkagum-kagum melihat ide dan upaya yang Rahmah lakukan. Para petinggi universitas tersebut mengakui bahwa Al-Azhar dan Mesir pada umumnya, masih tertinggal jauh dari sekolah yang Rahmah gagas.
Dua tahun kemudian, Mesir mengundang Rahmah. Ia mendapat gelar kehormatan “Syehkhah” dan menjadi perempuan pertama yang mendapatkan gelar itu dari Al-Azhar. Kedatangan Rahmah dan cerita soal Sekolah Diniyyah menginspirasi Al-Azhar untuk membuka Kulliyatul Lil Banat—fakultas khusus untuk perempuan yang Al-Azhar realisasikan pada 1962. Makna emansipasi perempuan pada tahun 1990-an telah mengalami pergeseran mengenai makna.
Dengan berdirinya Diniyah Putri pada 1923, memperluas misi kaum modernis untuk menyediakan sarana pendidikan bagi kaum perempuan yang akan menyiapkan mereka menjadi warga yang produktif dan muslim yang baik.
Ia menciptakan wacana baru di Minangkabau, dan meletakkan tradisi baru dalam pendidikan bagi kaum perempuan, khususnya di Minangkabau sendiri. Diniyah Putri adalah akademi agama pertama bagi putri yang didirikan di Indonesia.
Rahma percaya bahwa kaum perempuan membutuhkan model dan sistem pendidikan tersendiri yang terpisah dari laki-laki. Karena ajaran Islam memberikan perhatian khusus kepada karakter dan peran kaum perempuan. Maka dari itu mereka membutuhkan lingkungan pendidikan tersendiri di mana topik-topik ini bisa dibicarakan secara bebas (Taufiq Abdullah, Dkk., 1985: 216).
Rahmah merasa bahwa pendidikan bersama (campuran) membatasi kemampuan kaum perempuan untuk menerima pendidikan yang cocok dengan kebutuhan mereka. Rahmah ingin menawarkan kepada anak-anak perempuan pendidikan sekuler dan agama yang setara dengan pendidikan yang tersedia bagi kaum laki-laki. Lengkap dengan program pelatihan dalam hal keterampilan yang berguna, sehingga kaum perempuan dapat menjadi anggota masyarakat yang produktif.
Tujuan akhir Rahmah adalah meningkatkan kedudukan kaum perempuan dalam masyarakat melalui pendidikan modern yang berlandaskan prinsip-prinsip Islam. Ia percaya bahwa perbaikan posisi kaum perempuan dalam masyarakat kaum perempuan lakukan sendiri.
Melalui lembaga seperti itu, ia berharap bahwa perempuan bisa maju, sehingga pandangan lama yang mensubordinasikan peran perempuan lambat laun akan hilang. Dan akhirnya kaum perempuan pun akan menemukan kepribadiannya secara utuh dan mandiri dalam mengemban tugasnya sejalan dengan petunjuk agama (Junaidatul Munawaroh, 2000: 12).
Peran Perempuan Bagi Rahmah
Bagi Rahmah el-Yunusiyah, perempuan memiliki peran penting dalam kehidupan. Perempuan adalah pendidik anak yang akan mengendalikan jalur kehidupan mereka selanjutnya.
Atas dasar itu, untuk meningkatkan kualitas dan memperbaiki kedudukan perempuan, perlunya pendidikan khusus kaum perempuan yang pengajarnya adalah kaum perempuan sendiri. Dalam hal ini perlu adanya upaya untuk meningkatkan kemampuan kaum perempuan, baik di bidang intelektual, kepribadian ataupun keterampilan (Hamka, 1982: 245).
Terkesan pemikiran Rahmah el-Yunusiyah setengah abad yang lalu sejalan dengan pandangan kaum perempuan dewasa ini yaitu: “Membangun masyarakat tanpa mengikutsertakan kaum perempuan adalah sama seperti seekor burung yang ingin terbang dengan hanya satu sayap saja. Mendidik seorang perempuan berarti mendidik seluruh manusia”.
Editor: Rifky Aritama
Mahasiswa Pacsasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prodi Aqidah dan Filsafat Islam

Julhendra
Mantap bg.
Isinyo bg