Suryani Thahir: Penggagas Majelis Taklim Khusus Perempuan
Sosok perempuan hebat yang bernama Suryani Thahir dilahirkan pada 1 Januari 1940, di Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan. Ia merupakan anak sulung dari limas belas bersaudara, putri dari pasangan Thohir Rahili dan Salbiyah Ramli. Ayahnya merupakan seorang ulama Betawi, sehingga pendidikan keislaman pertamanya ia dapatkan dari orang tuanya. Mulai dari membaca Al-Qur’an hingga ilmu-ilmu dasar Islam lainya seperti Tauhid.
Riwayat Pendidikan
Setelah mendapatkan pendidikan dasar dari orang tuanya, Suryani kemudian melanjutkan belajar di beberapa lembaga pendidikan. Pada tahun 1945-1946, Suryani Thahir meneruskan studi singkatnya di Madrasah Diniyah Awwaliyah As-Syafi’iyah Bali Matraman, Tebet. Kemudian, melanjutkan belajar secara formal di Sekolah Rakyat, Kebon Coklat dan sorenya ia lanjut belajar agama di Madrasah Ibtidaiyah At-Tahiriah, Tebet (1946-1952). Semangat belajar Suryani sangatlah tinggi. Setelah lulus dari dua sekolah tersebut, ia menuju ke Sumatera Barat untuk belajar di Madrasah Diniyah Putri Padang (1952-1956).
Tidak berhenti di situ, selepas pulang dari Padang, Suryani melanjutkan perjalanan intelektualnya di Mualimat Jam’an Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, selama dua tahun (1956-1958). Belum puas dengan ilmu yang sudah ia dapatkan dari berbagai lembaga pendidikan baik formal maupun informal; ia terbang jauh ke Mesir untuk kuliah selama delapan tahun di Universitas Al-Azhar, Kairo dengan mengambil spesialisasi di jurusan Dirasah Islamiyah (1959-1967). Sebelum berangkat ke Mesir, Suryani terlebih dahulu menikah dengan Syatiri Ahmad yang kemudian juga menemani Suryani kuliah bersama di Mesir.
Beberapa jabatan yang pernah ia emban selama hidupnya, yaitu: Pimpinan Majelis Taklim Attahiriah (1968); Ketua Yayasan Diniyah Attahiriyah (1969); Pimpinan Biro Haji dan Umrah as-Suryaniyah Attahiriyah (1973); Penceramah tetap di Radio Muslim FM (1973), Komisaris Dewan Radio At-Tahiriyah (1975-2012), Ketua Umum Ikatan Mualimat dan Muballighat (1998); Ketua Umum Persatuan Wanita Alumni Timur Tengah (1998), Anggota MPR bidang Majelis Taklim (1999-2004), Anggota Majelis Ulama Indonesia (2004), dan Rektor Universitas Islam Attahiriyah, Jakarta (2014).
Selain aktif dalam kegiatan dakwah dan berbagai jabatan politik dan keagamaan, Suryan Thahir juga aktif menulis tentang tema keislaman. Beberapa judul karya yang telah ia hasilkan antara lain adalah: Masdar al-Akhlaq: Sumber Budi Pekerti, 38 Kiat Menghapus Dosa, Susunan Ibadah di Saat Bangun Malam, Hembusan Segar: Kumpulan Firman Allah dalam Hadis Qudsi, Mutiara Baiduri Manikan di Balik Kisah Yusuf AS, Miftah al-Khitabah dan Fadhilah Qiyam al-Layl.
Kiprah Perjuangan
Sepulang dari Kairo, Suryani Thahir melihat terjadinya ketimpangan pengetahuan agama antara kaum laki-laki dengan perempuan di lingkungan masyarakatnya. Kondisi yang demikian mendorong Suryani untuk memberikan kesetaraan pendidikan keagamaan kepada kaum perempuan di lingkungan sekitarnya dengan cara membuka majelis taklim khusus bagi perempuan. Selain itu, ia juga melihat bahwa kaum perempuan di sekitarnya memiliki waktu luang yang cukup untuk mengikuti majelis taklim yang akan ia dirikan.
Setelah membulatkan tekadnya; akhirnya Suryani Thahir membuka pengajian majelis taklim khusus perempuan di Mushalla at-Taqwa yang berada di sekitar komplek Perguruan Attahiriyah. Pada awal pendirianya, majelis taklim tersebut hanya beranggotakan 12 orang. Namun selang beberapa bulan, majelis taklim tersebut medapat sambutan luas dari berbagai elemen masyarakat; sehingga jumlah anggota majelis taklim terus mengalami peningkatan. Dengan dukungan yang begitu besar, Suryani kemudian meresmikan pendirian majelis taklimnya dengan nama Majelis Taklim Ibu Attahiriyah (MTKIA).
Dalam buku “Tentang Perempuan Islam: Wacana dan Gerakan” yang dieditori oleh Jajat Burhanudin dan Oman Fathurahman, dijelaskan bahwa majelis taklim yang Suryani dirikan berbeda dengan majelis taklim pada umumnya. Suryani ingin melakukan reorientasi majelis taklim dan reformulasi terhadap metodologi pengajaran Islam. Jika sebelumnya mejelis taklim identik dengan pengajaran agama yang menggunakan metode konvensional satu arah. Maka, MTKIA ini menggunakan metode baru dengan pengajaran agama secara dua arah; sehingga timbul jalinan diskusi dan dialog interaktif yang baik antara pemateri dan pendengar.
Pengembangan Dakwah untuk Perempuan
Kuantitas anggota majelis taklim dari tahun ke tahun terus mengalami kenaikan yang signifikan. Menurit Ida Rasyidah dalam tulisannya yang berjudul “Suryani Thahir: Perintis Pengajian Perempuan” dijelaskan bahwa Suryani Thahir mengaku jika anggota majelis taklimnya mencapai puluhan ribu orang yang berasal dari berbagai daerah. Selain mengasuh MTKIA, Suryani juga melakukan pemberdayaan khusus untuk para da’i perempuan (ustadzah) dengan membentuk Majelis Muzakarah As-Suryaniyah (MAMAA). Dalam majelis tersebut, Suryani bersama para ustadzah mengkaji empat buku, yaitu Minhaj al-Muslimin, Tafsir al-Munir, Jami’ al-Shaghir, dan Ta’lim al-Muta’allim.
Selain itu, Suryani juga sangat aktif berceramah di berbagai majelis taklim. Bahkan, dalam satu bulan ia bisa mengajar di 60 majelis taklim yang tersebar di wilayah Jabodetabek. Bahkan, menurut pengakuan putranya, jika 60% hidupnya dihabiskan di mobil, karena ia harus keluar rumah untuk berdakwah dari pukul enam pagi hingga jam lima sore. Sehingga hidupnya senantiasa hanya untuk kepentingan khidmat kepada umat.
Sebagai seorang da’i, Suryani memiliki dua prinsip utama yang harus dimiliki oleh seorang da’i, yaitu pertama, seorang pendakwah harus memiliki keselarasan terhadap apa yang diucapkan dengan apa yang dilakukan. Sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. al-Shaff [61] ayat 3. Kedua, pendakwah harus memiliki keikhlasan yang tinggi dalam berdakwah. Oleh kerana itu, Suryani tidak pernah memasang tarif dalam setiap ceramahnya.
Seiring bertambahnya usia yang semakin tua, Suryani Thahir wafat pada 5 September 2015, saat itu usianya mencapai 75 tahun. Tonggak estafet perjuangannya dalam berdakwah kepada umat kemudian diteruskan oleh keturunannya. Dengan demikian dapat diketahui bahwa peran Suryani Thahir dalam pengembangan dan pemberdayaan perempuan sangatlah besar. Ia rela menghabiskan hidupnya hanya untuk khidmat kepada umat demi memberikan hak pendidikan agama kepada kaum perempuan, demi mewujudkan lahirnya generasi perempuan-perempuan yang hebat.
