f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
istilah

Maksud Hati agar Terlihat Edgy, Beberapa Istilah Psikologi Ini Kerap Disalaharti

“Setelah gajian nanti aku pengin jalan-jalan ke luar kota deh buat self reward bulan ini”
“Sepertinya minggu ini aku mau beli sepatu baru lagi buat self reward”.

Begitulah contoh kalimat yang cukup kerap terdengar dari obrolan sehari-hari. Katanya mau bikin self reward sebagai bentuk apresiasi kepada diri sendiri dengan beli barang ini itu atau liburan ke mana, padahal ya memang sedang butuh barang tersebut atau yaa lagi pengin aja untuk jalan-jalan.

Hal ini menjadi contoh simple perihal kesalahpahaman dalam mengartikan sebuah istilah yang lazim digunakan.

***

Hari ini sudah lumrah bagi teman-teman mengadopsi istilah-istilah psikologi dalam percakapan keseharian. Pada titik ini nggak ada salah dan malah bagus untuk menambah khasanah bahasa sehari-hari agar lebih edgy.

Namun, sayangnya  terjadi banyak kesalahan memahami makna istilah-istilah tersebut hingga melebar pada istilah yang nggak receh misalkan soal gangguan mental.

Menurut saya hal ini tidak bisa dipisahkan dari maraknya akun-akun psikologi di media sosial yang laris diikuti jamaah millenial. Di satu sisi dengan adanya akun-akun tersebut memang ada baiknya, mampu memberi edukasi pada netizen sehingga meningkatkan kepedulian terhadap isu-isu kesehatan mental dan pengembangan diri.

Namun, jika hanya ikut-ikutan terlebih cuma untuk keren-kerenan jatuhnya malah miris sekaligus nyebahi.

Sebagai contoh nih ya, ada yang dengan pedenya melabeli diri sendiri dengan jenis mental illness tertentu. Plisss, ini penyakit loh yaa, bukan buat gaya-gayaan.

Berangkat dari hal tersebut dan didasarkan observasi jalanan yang saya lakukan, berikut ini beberapa istilah yang sering disalahartikan.

Pertama, yaitu bipolar.

Pernah saya menemukan ada akun instagram ( yang tidak perlu saya promosikan akunnya, karena sudah lupa juga ) menuliskan di bionya sebagai seorang bipolar. Sebentar, sebentar, saya pikir ini kok ada yang janggal ya.

Baca Juga  Solusi Deteksi Gangguan Jiwa di Tingkat Puskesmas (2)

Padahal penderita bipolar yang sesungguhnya akan melewati hari-hari yang sangat berat dalam hari-harinya untuk berjuang agar bisa hidup normal, dan maaf itu merupakan beban berat yang amat sangat kecil kemungkinan untuk diumbar ke media sosial.

Ada lagi yang lain, seorang teman remaja ngomong kepada saya bahwa dirinya merasa sebagai seorang bipolar hanya karena suka tiba-tiba sedih dan beberapa saat kemudian berubah menjadi sangat senang. Saya kok merasa gimana yaa, kondisi seperti ini kan sangat-sangat wajar terjadi pada umat manusia di seluruh penjuru bumi yang kadang bulat kadang datar ini.

Intinya yang namanya bipolar disorder tidak sesederhana itu sobat. Banyak aspek yang menjadi pertimbangan sehingga butuh analisis mendalam oleh profesional baik psikolog maupun psikiater. Yukk kurang-kurangi mendiagnosis diri sendiri berbekal definisi dari sumber-sumber yang belum jelas. Itu nggak lucu sama sekali.

Kedua, yaitu Antisosial

Ini juga istilah yang sangat kondang bahkan mampu mengungguli kepopuleran sang raja cabe di terminal mojok.

Biasanya disingkat menjadi ansos, yang terlanjur umum dimaknai sebagai perilaku orang yang sulit atau nggak mau bersosialisasi. Menurut saya muncul pemaknaan yang demikian sangat besar kemungkinan diartikan dengan gampang berdasarkan dua kata penyusunnya, yaitu anti dan sosial.

“Semenjak putus dengan pacarnya dia sekarang menjadi ansos ya, di rumah terus dan blablabla.”

“Maaf saya orangnya ansos, nggak suka kumpul-kumpul kayak gitu” dan seterusnya.

Padahal ansos sebenarnya nggak gitu juga. Jadi definisi anti sosial menurut ….. dalam bukunya …. ( halahh malah kayak mau skripsian ). Jadi gini deh, anti sosial ini bisa dibilang gangguan kepribadian yang menyebabkan seseorang sering melakukan perilaku yang bertentangan dengan norma masyarakat umum hingga bisa merugikan dirinya dan orang lain.

Baca Juga  “Memori Baik”: Kita Yang Menua, Mereka Yang Bertumbuh

Contoh yang banyak ditemui yaitu remaja yang suka tawuran, orang-orang yang suka melanggar lalu lintas atau nyampah sembarangan.

Sangat berbeda dengan anggapan atau pemahaman tentang ansos yang lazim dipahami di keseharian selama ini.

Ketiga adalah introvert  dan ekstrovert

Masih banyak yang beranggapan bahwa orang introvert identik dengan pribadi yang pendiam, pemalu dan sulit berkomunikasi, sedangkan ekstrovert sebaliknya yaitu orang yang percaya diri, pemberani dan lincah dalam bertutur kata.

“Saya ini orang introvert jadi jangan disuruh ngomong di depan umum.“

“Eh si Bambang kok jarang ya mau diajak nongkrong bareng ya, kayaknya dia itu introvert banget orangnya”, dan seterusnya.

Pemahaman yang kurang tepat kadang membawa pada sebuah penghakiman yang kebablasan, bahwa introvert cenderung negatif hingga sulit berhasil dibandingkan ekstrovert.

Padahal nih ya, orang introvert dan ekstrovert ini ya sama-sama diciptakan Tuhan dengan setara sehingga tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Bedanya hanya pada sumber energi, sekali lagi sumber energi. Sederhananya orang introvert cepat kehilangan energi jika terlalu lama dalam keramaian sehingga butuh waktu menyendiri untuk men-charge-nya.

Sedangkan ekstrovert berlaku sebaliknya, mudah lelah justru kalau sedang sendirian, jadi butuh ketemu banyak orang atau berada di keramaian untuk mengisi ulang energi dalam dirinya. Kesimpulannya soal komunikasi, kepercayaan diri, kebaranian dan sebagainya adalah keterampilan yang bisa dilatih oleh siapapun, bukan karena introvert atau ekstrovert.

Keempat adalah toxic relationship

Istilah ini juga sudah menjadi menu wajib khususnya dalam pergaulan atau hubungan asmara. Adapaun artinya adalah hubungan yang di dalamnya lebih banyak diisi dengan ketidaknyamanan, sehingga mereka yang terlibat terjebak pada konfik batin yang ujungnya mengarah pada depresi atau sulit menjalani hidup yang sehat.

Baca Juga  Keawetan Memori ‘Mantan’ Dibanding Pelajaran

Hal inilah yang kemudian lambat laun memunculkan istilah teman yang toxic, pacar toxic atau bahkan orang tua yang toxic.

Misalkan ada seseorang yang pernah cerita bahwa tidak mau berkumpul dengan beberapa temannya karena dianggap toxic. Ada juga yang putus dengan pacarnya dengan dalih serupa.

Memang, hal ini tidak ada salahnya jika semua hanya dilihat dari kacamata pribadi. Namun, yang perlu hati-hati adalah menyebut setiap orang yang tidak cocok dengan diri kita sebagai orang yang toxic. Mbok jangan gitu, sangat mungkin justru diri sendiri yang bermasalah.

Jadi menghakimi seseorang atau sebuah hubungan toxic atau tidak toxic hanya berdasarkan rasa tidak nyaman, sebenarnya kurang tepat bahkan salah kaprah.Sekali lagi ketidaknyamanan itu banyak faktor, dan tentu tidak semua datang dari luar diri kita bukan? 

Bagikan
Post a Comment