f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
bisnis trading

Menangkal Bisnis Abal-abal dengan Bersyukur dan Menjaga Kesehatan Akal

Malam itu saya menemani suami menonton tayangan youtube. Biasanya kami lebih suka menghabiskan waktu dengan menonton film atau tayangan humor untuk pendinginan selepas kerja. Namun untuk kali ini kami menyimak tayangan yang membahas robot trading-sebuah bisnis yang sedang populer.

Yang membuat suami saya bersemangat untuk lebih tahu tentang robot trading adalah karena banyak teman-teman kantornya terlanjur nyemplung di bisnis tersebut. Bisnis yang berhasil mewarnai setiap obrolan mereka di saat jam istirahat bahkan di sela-sela jam kerja. Yang juga telah mengaburkan fokus mereka di ruang rapat dan berbagai agenda. Beruntung suami saya adalah orang yang cukup konvensional sehingga tidak tertarik saat teman-temannya mengajak berinvestasi di bisnis ini.

Dari berbagai chanel promosi robot trading selalu ditemukan acara penuh hingar-bingar bertabur bintang bahkan mengundang pembicara terkenal. Bahkan mereka yang disebut affiliator dengan begitu vulgar mempertontonkan gaya hidup yang mewah, seringkali di luar nalar.

Prof. Rhenald Kasali tak ketinggalan membahas tentang fenomena flexing ini. Banyak sekali sosial media yang sarat dengan konten pamer kekayaan. Konsumsi barang-barang mewah yang dengan sengaja diperlihatkan kepada banyak orang bertujuan memberikan kesan bahwa ia orang hebat dan berpendapatan besar. Memberi sinyal kepada orang lain agar tergiur dan percaya yang sedang dikerjakannya benar-benar menghasilkan.  

Padahal menurut Prof. Rhenald, orang-orang kaya sesungguhnya justru malu memperlihatkan kekayaan. Mereka sangat mementingkan privacy. Sehingga sulit ditemukan orang kaya sejati yang pamer pakaian bermerk atau jet pribadi.

Orang-orang yang tidak cukup kayalah yang justru cenderung memperlihatkan kekayaan mereka. Emas di gigi, pakaian bermerk dengan logo besar menutup badan, berbagai aksesoris, dan mobil super. Ingat kasus First Travel di mana orang yang mengajak kaum muslim beribadah umroh adalah juga pelaku flexing. Mereka gemar memamerkan harta dan liburan ke berbagai negara. Pada akhirnya kita semua tahu bahwa mereka menggunakan uang jamaah untuk berfoya-foya.

Baca Juga  Dua Kunci Emas Pelaksanaan GCG

Keadaan ini diperparah dengan anak-anak muda yang menyukai easy money. Padahal hidup ini penuh perjuangan, tidak ada makan siang gratis. Tidak ada kebahagiaan dan kemakmuran yang bisa dicapai hanya dengan ongkang-ongkang apalagi rebahan. Akal sehat harus tetap dikedepankan.

Cari Tahu dan Jangan Mudah Percaya

Dalam bincang singkat saya dengan dengan Dian Nastiti, SE Ak. M. Comm seorang dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI yang menyampaikan bahwa banyak para pemula yang ingin berinvestasi dalam sebuah bisnis belum paham bahwa investasi tidak sama dengan menabung. Investasi tentunya ada resiko rugi, besar kecilnya tergantung pada model investasinya. Seringkali investor tidak diberi tahu dengan jelas mengenai resiko ini. Mereka lebih banyak disuguhi gambaran keuntungan yang besar jika bergabung.

Ketika berkaitan dengan sebuah penawaran semacam robot trading, tentu terlebih dahulu harus memastikan dari unsur legalitas dan model bisnisnya. Bisnis apapun jika terlihat too good to be true sudah selayaknya kita menaruh curiga. Sudah banyak contoh bisnis yang dijadikan kedok bagi orang-orang jahat yang ingin mengumpulkan uang buat diri mereka sendiri, tanpa peduli betapa hal ini sangat merugikan banyak orang. Sayang sekali kasus semacam ini mudah sekali dilupakan.

Keserakahan sebagai alarm

Fenomena yang terjadi pada bisnis robot trading (dan berbagai bisnis lain) adalah munculnya keserakahan. Ketika seseorang mendapatkan untung, dia akan tergoda untuk menanam modal lebih banyak lagi, dan lagi. Tak ubahnya judi, semakin besar yang dipasang semakin besar kemungkinan uang akan dibawa pulang. Padahal kemungkinannya bukan hanya menang tapi juga rugi. Mereka yang terlanjur kehilangan uangnya akan memasang kembali demi menebus kerugian. Begitu seterusnya yang terjadi.

Baca Juga  Momentum “Shifting Paradigm”

Bisnis apapun, jika sudah mengubah seseorang menjadi semakin tamak maka sebaiknya perlu memikirkannya kembali. Ini merupakan sebuah indikasi atau alarm, pasti ada yang salah. 

Rasulullah SAW bersabda,

“Andai kata manusia itu telah mempunyai harta benda sebanyak dua lembah, mereka masih ingin untuk mendapatkan satu lembah lagi. Tidak ada yang dapat mengisi perutnya sampai penuh melainkan hanya tanah (maut atau kematian). Dan Allah menerima taubat orang yang telah bertaubat kepada-Nya.” (HR Muslim).

Sudah barang tentu ketamakan tidak akan membuat hati tenang. Bagaimana akan tenang jika yang dikejar hanyalah bertambahnya harta hingga lupa bahwa Allah telah menggariskan rizki setiap hambaNya.

Jangan terbawa arus

Anak-anak muda (dan tidak menutup kemungkinan mereka yang sudah lebih berumur) seringkali terjebak dalam tuntutan pergaulan. Di sisi lain ada perasaan minder jika tidak satu level dalam pergaulan. Ujungnya adalah rasa takut tertinggal dan dikucilkan. Maka memperoleh kekayaan dalam waktu singkat tentu saja menggiurkan.

Bukankah melelahkan memaksakan gaya hidup demi pertemanan. Apalagi jika sampai membuat anda terjerumus ke dalam bisnis yang tidak jelas legalitas dan kehalalannya.

Alangkah baiknya untuk tetap setia pada jati diri dan mencontoh Rasulullah Saw. yang gaya hidupnya begitu sederhana. Rasulullah begitu sederhana tidak pernah berlebihan. Beliau pernah menahan lapar dan tidur beralaskan tikar. Jikalau ada umat yang membutuhkan bantuan, beliau selalu memberikan yang terbaik. Maka cukuplah Rasulullah Saw. sebagai teladan kita.

Perintah hidup dan sederhana ini tertuang dalam QS. Al-Furqan ayat 67 sebagai berikut:

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar” (QS. Al-Furqān: 67).

Baca Juga  Pedagogi Digital dan Seni Mengajar Online
Cari Ketenangan hati, bukan Kekayaan

Gemerlap dunia memang bisa menyilaukan mata. Siapa yang menolak menjadi kaya, sepertinya tidak ada. Menjadi kaya tentu bukanlah sebuah dosa, tetapi jika kekayaan dijadikan tolok ukur kebahagiaan maka hal inilah yang perlu diluruskan.

Bisnis apapun meskipun menjanjikan hasil berlimpah jika dalam perjalanannya harus mengorbankan nyaris segalanya, mematikan akal sehat, membuat hati tidak nyaman, dan lupa bersyukur dengan segala yang telah Allah karuniakan maka sudah sepatutnya ditinggalkan.

Sebaliknya jika sebuah bisnis atau profesi yang tampak hasilnya biasa-biasa saja tetapi disyukuri setiap waktu maka akan membawa ketenangan batin dan Allah pun akan mencukupkan setiap kebutuhan orang yang menjalankannya.

Allah SWT berfirman dalam QS. Ibrahim ayat 7 yang artinya:

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; Sesungguhnya, jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Adalah lebih baik bersyukur dan meyakini bahwa pertolongan Allah dekat, menjangkau hamba-Nya kapanpun diperlukan. Tidak mengapa menjadi sederhana apa adanya, setia kepada jati diri tanpa perlu mengikuti arus. Karena jika salah dalam  melangkah bisa jadi kita akan kehilangan segalanya.

Bagikan
Post a Comment