f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
plato

Pendidikan Menurut Plato

Saya teringat waktu masih duduk di bangku sekolah dulu. Saat setiap hari selalu memegang buku LKS (Lembar Kerja Siswa). Anak-anak, jangan lupa LKS-nya dikerjakan ya! Begitu kata yang sering diucapkan guru kepada muridnya. Tiada hari tanpa mengerjakan LKS di rumah (PR).

Melihat fenomena itu dan dampaknya kepada saya, selaku murid. Lalu saya teringat pada seorang tokoh, Plato dan bukunya yang berjudul Republic.

Mengenal Plato dan Republic

Sebagaimana kita ketahui, Plato adalah seorang filsuf yang lahir dari keluarga bangsawan pada abad ke-427 SM di Athena. Sejak remaja ia sudah aktif mengikuti lingkaran diskusi Socrates, gurunya. Buku-bukunya tak terhitung dan kerap menjadi rujukan akademisi hingga hari ini.

Sebelum menjajaki dunia filsafat, pada mulanya ia aktif di bidang politik. Namun, karena gurunya, Socrates dihukum mati oleh rezim saat itu, maka ia berpindah haluan ke filsafat.

Sedangkan Republic merupakan karya Plato yang banyak dirujuk oleh pemikir, salah satunya Francis Fukuyama dalam menulis Identity. Bisa dikatakan buku ini memiliki paket komplit. Plato dalam menulis buku ini dimulai saat ia muda. Cita-citanya tentang masyarakat, pendidikan, dan pembinaan negara dituangkannya dalam karya ini, sederhananya wadah cita-citanya ada di Republic.

Pendidikan dalam ‘Republic’

Kisah alegori gua (baca di sini) menjadi titik inti dalam Republic, karena kisah ini memberikan doktrin epistemologi, ontologi, dan filsafat politik. Sebenarnya apa makna alegori gua ini? Plato mengkritik gaya pendidikan yang diajarkan oleh kaum Sofis. Mereka berdalih dapat memasukkan ilmu pengetahuan kepada masing-masing murid. Dengan perumpamaan, seperti kita mengisi air ke dalam ember yang masih kosong lalu kita penuhi.

Berbeda dengan kaum Sofis, Plato dan Socrates beranggapan bahwa mereka tidak pernah bisa memberikan ilmu pengetahuan. mereka hanya bisa membebaskan daya yang ada dalam diri masing-masing murid sehingga memantik murid-murid agar mampu belajar mandiri.

Baca Juga  Buah Asem, Waluh, dan Keberhasilan Pendidikan

Bagi Plato pendidikan adalah mengarahkan pengetahuan yang dimiliki murid pada porsi seharusnya. Pendidikan bukan sekedar transfer ilmu pengetahuan. Sebab, zaman terus berkembang, isi pengetahuan selalu berubah-ubah. Percuma saja jika pendidikan hanya menekankan isi pengetahuan. Sedangkan pengetahuan dapat dicari di mana pun dan kapan pun. Transfer ilmu kepada muridnya menjadi hilang relevansinya.

Pendidikan Sesuai Kebutuhan

Yang dibutuhkan hari ini adalah bagaimana menumbuhkan agar murid menjadi kreatif, haus ilmu pengetahuan, dan selalu mencari pengetahuan. Perlu diketahui, pengetahuan akan berubah menjadi rupa menakutkan jika berada di tangan individu yang tidak bertanggungjawab.

Kepintaran atau kecerdasan seringkali tidak dibarengi dengan moral yang baik. Apakah para teroris bukan orang cerdas dan pintar? Kalau tidak pintar dan cerdas bagaimana bisa meraka merakit bom untuk menghancurkan sesuatu yang dianggapnya tidak sesuai dengan keyakinannya. Apakah tikus-tikus Senayan bukan orang yang cerdas dan pintar? Jelas tidak, mereka memiliki sederet gelar akademik.

Maka dari itu, bagi Plato, pendidikan bukan sekedar menggarap otak murid, transfer ilmu tanpa melihat konteks si murid. Namun menggarap diri murid secara keseluruhan, otak dan moral.

Pendidikan Berkaitan Erat dengan Keutamaan Jiwa

Pendidikan juga dapat diartikan suatu hal yang mengarahkan pada perilaku baik dan benar. Pendidikan juga berarti membangun kesadaran murid/anak didik bahwa ia memiliki daya belajar, sehingga anak didik dapat mengarahkan keinginan terhadap pengetahuan. Jika keinginan anak didik terbentuk maka ilmu apa pun itu dan secepat apa pun perubahannya, akan selalu dipelajari dan diminati oleh anak.

Dalam pendidikannya aspek karakter pada anak sangat ditekankan. Oleh karena itu, Plato selalu menyandingkan pendidikan dengan keutamaan jiwa (Arete). Sama seperti dengan atlit cabang olahraga tertentu yang menjuarai even tingkat dunia, di mana ia sudah bekerja keras dalam berlatih fisik, dan tidak mengenal kata menyerah. Begitu pun dengan keutamaan jiwa yang dibentuk dari proses latihan lewat pendidikan. Keutamaan jiwa muncul dari dua sebab pembiasaan dan latihan.

Baca Juga  Membentuk Anak Laki-laki Tanpa Kehadiran Seorang Ayah

Saya memahami pendidikan menurutnya selalu memunculkan kecerdasan otak dan moral. Ini sekaligus menjadi anti-tesis terhadap pendidikan zaman sekarang. Orientasi terhadap tingginya nilai anak didik/ murid, menghilangkan substansi pendidikan sebagai pembalikan, dari yang buruk menjadi baik (moral). Pembalikan ini  mengarahkan anak didik/ murid pada pengetahuan yang benar, sesuai porsi pengetahuan itu.

Bagikan
Comments
  • Mita Afrilla

    Izin copas/share kak tulisannya

    April 5, 2021
Post a Comment