Dimensi Seperempat Abad: Dari Kegundahan Satu ke Kegundahan Lain
Banyak yang mengatakan bahwa umur seperempat abad tersebut sebagai fase krisis, atau bahasa keren yang kita kenal saat ini adalah quarter life crisis QLC. Fase ini umumnya dialami oleh banyak orang dengan rentang usia 20 hingga 30 tahun. Tentunya banyak hal yang kita alami di usia tersebut, mulai dari tentang hidup yang kadang tidak sesuai ekspektasi, tentang menggapai impian dan keinginan yang kadang tidak semulus bayangan.
Banyak yang memimpikan hidup yang sempurna, dengan segala ekspektasi. Seperti keinginan diri dan layaknya keinginan kebanyakan orang; melihat hidup teman-teman melalui media sosial dengan berbagai kemajuan yang progresif; terkadang membuat kita semakin kecil dan minder.
Tentang mereka yang sudah lulus kuliah dari universitas mentereng; mereka sudah lebih dulu mendapatkan pekerjaan yang mapan dengan gaji yang besar; mereka yang sering bepergian atau berlibur dengan segala fasilitas yang mewah; yang sudah lebih dulu memiliki rumah; lebih dulu memiliki pasangan hidup, mereka yang sudah lebih dulu memiliki momongan yang menggemaskan. Kita dapat dengan mudahnya melihat dengan bermodalkan smartphone, kuota dan media sosial.
Bukan, bukan salah media sosial. Bukan salah mereka juga yang tidak berniat untuk memamerkan kebahagiaan. Mungkin rumput tetangga kelihatan lebih hijau. Akan tetapi perhatikanlah kata ‘kelihatan’, kelihatan memang kata yang kurang pasti. Kita tidak bisa mengetahui pasti seberapa dalamnya, bagaimana pastinya, kita hanya bisa menerawang, mengira-ira.
Di balik itu semua, mereka pun sama memiliki ujian seperti kita. Mereka juga memiliki kesusahan, kepayahan, lelahnya hidup dan pahitnya cobaan. Hanya saja kita tidak mengetahui ujian mereka, yang mereka bagikan adalah kebahagiannya, bukan ujiannya. Di balik itu semua, percayalah semua memiliki ujian yang di hadapi. Semua merasakan terjalnya jalan yang mereka lalui, tidak sesuai dugaan kita. Tidak ada yang tidak diuji, hanya saja kadarnya berbeda dan cara kita menyikapi juga berbeda-beda.
***
Banyak dari kita pasti pernah merasakan keresahan, kegundahan, anxiety hingga merasa depresi. Kegundahan pun tidak hanya satu fase, mungkin akan datang bertubi-tubi, mungkin akan mengalami kegundahan satu ke kegundahan lain. Kegundahan lain ke kegundahan lainnya lagi.
Contoh umum kegundahan satu ke yang lain adalah ketika lulus SMA, kebanyakan dari kita akan di hadapkan pada kampus-kampus idaman dengan segala proses masuk hingga proses ujiannya. Kegundahan mungkin akan kembali kita rasakan ketika lulus kuliah, bagaimana kelanjutan setelah lulus kuliah, dan mendapatkan pekerjaan dengan segala macam ujian kesabaran ketika menyandang predikat ‘pengangguran’.
Kegundahan lain lagi akan muncul kala teman-teman sudah membina rumah tangga dengan segala kepunyaan yang dimiliki. Akan kembali dengan kegundahan lagi ketika kebanyakan sudah memiliki keturunan hingga kegundahan-kegundahan lain yang mungkin tidak ada habisnya bergulir, dan kita tidak belum memegang kunci untuk mengatasinya.
Membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain hanya akan menemui labirin-labirin tanpa ujung, tidak akan ada habisnya. Apalagi dengan standar-standar kebanyakan orang. Bukankah tidak ada ukuran pasti yang oleh kebanyakan manusia telah standarkan? Bukankah ukuran yang patut kita pegang adalah ukuran dari Allah Swt? Tentang ukuran ketakwaan. Ukuran yang sudah tentu ada balasannya, ukuran yang sudah ada jaminannya.
Memang tidak sepatutnya kita membandingkan hidup kita dengan orang lain, karena kita adalah pemeran utama dalam sebuah film yang kita buat. Dan yang patut kita dan layak kita bandingkan adalah diri kita sendiri. Apakah sudah lebih baik dari dulu? Apakah sudah lebih baik dari kemarin? Kemudian, apakah ada kemajuan karakter yang kita perankan, atau apakah ada character development dari episode-episode yang sudah kita lalui?
***
Jangan sampai karena terlalu sibuk membandingkan diri dengan orang lain membuat kita lupa akan mengevaluasi diri. Sibuk membandingkan diri hingga lupa bahwa kita juga berhak dengan berbahagia atas apa yang kita punya, bersyukur atas apa yang kita miliki sekarang.
Bahwa masih ada banyak hal yang kita lakukan, demi meningkatkan kapasitas diri. Meningkatkan kualitas diri, mengembangkan diri dengan segala potensi yang kita punya, memanfaatkan waktu yang kita miliki, dan tidak lupa akan meningkatkan kualitas diri sebagai hamba dari Sang Maha Pemilik Hidup.
Tidak, tidak dengan secara mendadak menarik gas. Kapasitas diri tentu kita tingkatkan secara perlahan. Bagaimana kita mengatur kegiatan rutinitas kita. Bagaimana kita mengatur pola tidur, pola makan, pola hidup sehat, bagaimana kita mengatur hubungan dengan Sang Pencipta dan hubungan dengan sesame.
Diawali dari hal yang terlihat sederhana adalah ketika pagi hari, bagaimana kita mengawali hari. Apakah kita bangun siang atau kita menyambut fajar dengan harapan?
Hampir segala sesuatu ditentukan ketika di awal. Jika awal saja sudah berantakan, sudah dengan segala ke-gedebag ke-debugan, maka kelanjutannya pun akan berpengaruh. Membiasakan mengawali hari dengan bangun lebih awal, tentu akan memberikan energi yang positif. Di pagi hari tentu kita selalu memohon kepada Sang Maha Pemberi agar diberikan hari yang selalu diberkahi. Kutipan ini mungkin akan sedikit membantu dan memumpuk semangat di pagi hari.
“Hebatkan pagimu, maka harimu akan menghebatkanmu” – Anonim.
Kutipan yang dapat membantu mengawali pagi yang berkah untuk mencari keberkahan di sepanjang hari. Layaknya domino, ketika kita menginginkan semangat mengawali pagi, maka sebelumnya pun kita juga harus mempersiapkannya. Mengusahakan pola tidur yang diajarkan Rasulullah, mengawalkan tidur untuk mengawalkan bangun.
Diawali dengan memperbaiki pola hidup kita, memperbaiki hubungan baik dengan Allah dan orang-orang di sekitar kita, menebarkan kebaikan, tentu akan memberikan energi positif untuk mengurangi kegundahan-kegundahan yang bisa saja datang dan melanda kapan saja.
Sarjana Sains yang kadang menulis di media sosial.
Domisili di Salatiga.
: sekata selaras. (@larastatum) • Instagram photos and videos, LinkedIn
