f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
belajar

Ke mana Arah Pendidikan Kita?

Oleh: Diko Ahmad Riza Primadi *

 “Tujuan pendidikan adalah menciptakan manusia yang mampu melakukan hal-hal baru, tidak hanya mengulangi apa yang generasi lain telah lakukan -Jean Piaget.”

Dalam berbagai kesempatan, penulis sering kali merenung dan bertanya kepada diri sendiri tentang nasib pendidikan kita. Seberapa besar pemerintah telah memperjuangkan pendidikan bagi generasi penerus bangsa. Hati kecil penulis menjawab, “Tidak sebesar apa yang mereka nyatakan di media.”. Kenyataannya kian jelas ketika penulis menyusuri jalan raya saat hendak berangkat atau pulang bekerja, tampak anak-anak usia sekitar lima hingga belasan tahun yang seharusnya belajar di ruang yang disebut sekolah, harus menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja sebagai pengamen, penjual makanan, loper koran dan lain sebagainya. Ini merupakan contoh kecil kurangnya perhatian pemerintah serta minimnya kesadaran orang tua terhadap masa depan anak-anaknya.

Berbicara tentang anak berarti kita sedang membicarakan generasi baru dua puluh tahun yang akan datang. Masa kanak-kanak yang seharusnya mereka habiskan untuk mengenyam pendidikan dan belajar banyak hal justru harus mereka alihkan untuk bekerja memenuhi kebutuhan ekonomi serta menjadi tulang punggung keluarga. Pemandangan ini sungguh terlihat menyedihkan di negeri yang sebenarnya sangat kaya akan potensi sumber daya alamnya. Potensi alam Indonesia yang sangat melimpah ini ternyata belum dapat dinikmati secara langsung oleh sebagian besar rakyatnya. Maka dalam kondisi dan situasi seperti tersebut di atas, negara wajib hadir untuk berperan aktif mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan amanat konstitusional yang tertulis dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 melalui jalan pendidikan yang merata dan berkualitas.

Menteri baru, harapan baru

Setelah dilantiknya Nadiem Makarim beberapa waktu yang lalu sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI periode 2019-2024 yang sebelumnya menjabat sebagai CEO Gojek. Menambah sederet pertanyaan baru di kepala saya, mau dibawa kemana arah pendidikan kita? Bagaimana mungkin sesorang yang memiliki latar belakang bisnis berbasis teknologi menjadi nahkoda di perahu besar bernama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Apakah presiden tidak salah pilih? Bukankah jabatan prestisius sebagai Mendikbud selama ini dijabat oleh mereka yang mempunyai riwayat hidup sebagi guru, dosen, dan rektor. Pendidikan menjadi salah satu sektor yang mendapat sorotan serius oleh para pengamat.

Baca Juga  Anak "Tawanan Perang" yang Gandrung Buku

Berbagai macam opini bertebaran di ruang media. Tidak jarang pernyataan pro dan kontra antar masyarakat terjadi. Ada yang menyambutnya dengan sikap optimis serta ada pula yang meremehkan kemampuan menteri yang masih sangat muda 35 tahun itu. Sebagai Menteri yang mewakili kaum muda, banyak sekali harapan terkait terobosan dalam bidang Pendidikan yang ditunggu-tunggu oleh seluruh rakyat Indonesia.

Siapa pun menterinya, permasalahan di dunia pendidikan tidak boleh dianggap remeh. Belum meratanya pendidikan di Indonesia menjadi salah satu permasalahan yang serius; karena pendidikan adalah kunci untuk membangun karir kehidupan, baik secara ekonomi, sosial maupun pengembangan kepribadiannya. Anak-anak yang memperoleh pendidikan yang baik akan mampu mengangkat martabat dan kehormatan bangsanya di mata dunia. Hanya melalui jalan pendidikan saja segala pembangunan di suatu negara, baik secara fisik ataupun non fisik dapat berjalan dan terealisasi dengan baik dan benar.

Demikianlah, mestinya kesadaran dan komitmen seperti tersebut di atas juga dimiliki oleh pemerintah. Hanya dengan pendidikan yang baik dan bermutu, masa depan dan martabat bangsa ini akan terangkat naik. Sejarah membuktikan, bangsa yang besar dan maju pasti menempatkan agenda dan aktivitas pendidikan menjadi salah satu prioritasnya. Oleh karena itu, banyak negara yang kemudian menjadikan program pendidikan sebagai salah satu prioritas yang dikawal secara intens oleh presiden atau perdana mentrinya. Mereka yakin bahwa yang mampu menyelamatkan masa depan rakyat dan bangsa adalah kualitas sumber daya manusia yang tinggi melalui peyelenggaraan pendidikan.

Kembali Kepada Tujuan Utama Pendidikan

Tujuan umum pendidikan Indonesia terangkai dalam tujuan pembentukan negara RI, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Rumusan ini adalah cita-cita yang menjadi arah sekaligus basis pengukuran berbagai upaya dan kinerja kebangsaan, terutama pendidikan sebagai episentrumnya.

Baca Juga  Perempuan Berpendidikan; Dilema Etis dan Psikologi

Para pendiri bangsa menyadari benar arti pentingnya pendidikan bagi kehormatan dan kemuliaan manusia dan bangsa. Pujangga besar Melayu, Raja Ali Haji yang terkenal dengan Gurindam 12-nya itu, menekankan tiga hal penting dalam kehidupan manusia, yaitu ilmu, akal, dan adab. “jikalau beberapa pun bangsa jika tiada ilmu dan akal dan adab, ke bawah juga jatuhnya, yakni kehinaan juga diperolehnya,” tulis Raja Ali Haji.

Krisis multidimensional yang mendera Indonesia saat ini bukanlah sembarang krisis yang bisa dihadapi secara tambal sulam. Krisis ini terjadi karena pembangunan Indonesia dalam waktu yang panjang terlalu menekankan pada pembangunan material, dengan mengabaikan pembangunan mental-karakter. Dengan mengabaikan aspek mental-karakter ini, perkembangan kehidupan bangsa menyimpang dari trayek impian revolusi Indonesia. Itulah sebabnya, mengapa Bung Karno sangat menekankan program “Nation and Character Building”.  

Agenda pendidikan, sejatinya adalah agenda pembangunan karakter, moral dan budaya bangsa. Sehingga tujuan akhir dari terselenggaranya pendidikan yang merata dan berkualitas adalah terciptanya peradaban bangsa yang tinggi. Bukan sekedar membekali ilmu pengetahuan dan belajar keterampilan tertentu yang kemudian ditandai dengan ijazah namun juga memberikan feedback kepada pola pikir, pola aktifitas, pola kehidupan yang teratur kapada seluruh peserta didik. Sudah saatnya bangsa ini menunjukkan mentalitasnya sebagai bangsa yang besar dan berdaulat, hanya dengan peradaban yang tinggilah bangsa ini tidak diremehkan bangsa-bangsa lain di dunia.

Belum lagi dihantam dengan wabah corona yang kian memperkeruh kondisi pendidikan kita. Setiap anak harus belajar dari rumah. Melakukan pembelajaran hanya dari layar gadget atau sekedar menerima pesan WhatsApp. Cecep Darmawan, Seorang Pengamat Kebijakan Pendidikan mengungkapkan, perlu adanya kesadaran bahwa kondisi pandemi tidak akan bisa menjamin mutu atau pencapaian kualitas pendidikan. Pengukuran kualitas belajar tidak bisa disamakan dengan kondisi normal sebelum pandemi. Saat ini, harus dipastikan bahwa hak memperoleh pendidikan bagi segenap warganya selalu terpenuhi. Pemerintah harus menjamin hak itu.

Baca Juga  Menilik Etika Absolut dalam Filsafat Politik Islam

*) Penulis adalah Reporter Suara Muhammadiyah

Bagikan
Post a Comment