f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
mantra ibu

Mantra Ibu 2025

Akhir tahun, kita diberi hadiah berita mengenai kenaikan PPN 12%. Terjadi simpang siur di masyarakat. Pajak naik tapi gaji belum tentu mengalami kenaikan secara sepadan. Berat. Begitulah dipikiran saya. Belum lagi dengan adanya berbagai pungutan baru dari pemerintah yang mau tidak mau kita sebagai rakyat harus sami’na wa ata’na.

Saya akui merasa gelisah dengan wacana pajak 12% yang akan diberlakukan di banyak sektor. Tentu kegelisahan saya ini beralasan karena akan banyak hal yang terimbas utamanya yang berkaitan dengan kebutuhan rumah tangga. Walaupun katanya harusnya tidak berimbas ke bagian sembako, tapi saya tidak bisa mempercayai hal tersebut.

Kegelisahan ini diperparah dengan adanya hitungan secara matematis kalau kenaikannya bukan satu persen melainkan 9%. Wah, nek urusan ini ya sukar kalau saya disuruh menjelaskan, mendengarkannya saja ngeri. Hehe, ya kebiasaan ibu-ibu yang sudah agak banyak urusan domestik ya semacam ini.

Lalu, saya dengan segenap perasaan tak menentu memutuskan untuk menelpon Ibu saya. Betul, meskipun saya ibu-ibu, saya butuh ibu saya. Semua orang butuh ibu sebagai tempat untuk berdiskusi. Apalagi setelah menjadi ibu, saya memahami kurang lebih perasaan ibu saya dulu. Sekarang saya merasakannya secara seutuhnya.

Maka, hal yang unik saya temukan dari nasehatnya. Kalau Anda kira ibu saya akan bijaksana, bukan. Kalau Anda kira Ibu saya akan seperti saya paniknya atau ikut menghujat pemerintah bukan juga. Beliau, ibu tulen, ibu rumah tangga yang baru di usia sekarang mulai lagi berkarir jadi ibu kantin.

“Ora sah wedi, nek kancane isa mangan, kowe ya isa mangan”, begitu kata beliau.

Uneg-uneg mengenai pemerintah, kegalauan, kebingungan segala rupa mencelos dengan ringannya. Bahkan ketika saya meminta beliau menceritakan mengenai adanya krisis moneter dan hal-hal perekonomian seram lainnya ibu bilang beliau baik-baik saja. Well, seringan itu kalimat beliau.

Baca Juga  Rahasia Kesuksesan Santri yang Tidak Diketahui Orang Biasa

Saya lalu berpikir, beliau bisa sebegitu tenangnya mungkin karena tidak dikepung informasi semacam saya. Beliau bisa tenang tanpa beban karena tidak serumit hidup sekarang. Kebutuhan dulu tidak sebanyak hari ini.

Kata ibu meski ada konser, ibu tidak menonton. Soal diaper yang mahal ibu juga tidak mengalami. Bahkan saya masih ingat betul adik saya tidur tanpa celana hanya dibalut potongan selimut. Apesnya ketika buang air kecil, airnya bisa langsung pas mengenai saya yang tidur didekatnya. Apa itu healing, ibu tidak pernah pergi kemana-mana hanya di rumah.

Awalnya itu. Awalnya saya menyalahkan dari keadaan hari ini ketika info begitu marak. Saya menyalahkan kemanjaan saya bergantung pada teknologi hari ini. Saya juga membenci diri sendiri yang sedikit-sedikit maunya healing.

Lalu saya ingat ibu tidak separah itu. Ibu tidak selemah dugaan saya, bahkan sebaliknya. Ibu adalah mantan bankir yang memilih resign sesudah menikah lalu mengurus kami, mendampingi Bapak, seorang pegawai negeri sipil. Gaji Bapak tidak banyak. Ibu berusaha semampunya. Mulai dari mengetatkan ikat pinggang, menjadi makelar, jualan nasi uduk tiap pagi, ikut sibuk di PKK. Beliau sibuk ikut rapat PKK biar ada pemasukan tambahan. Dan seabrek pekerjaan yang tak terhitung jumlahnya.

Beliau kuat dan ulet. Meskipun begitu, ibu tidak pernah memiliki piutang pribadi. Utang ibu dan bapak ada di bank, tapi bukan karena ibu lolos mengatur uang. Keluarga kami berhutang karena KPR, mau tidak mau sebagai perantau dengan gaji minim KPR adalah solusinya.

Jadi, dari apa yang Ibu lakukan saya belajar. Meskipun ada badai, kita tenang dan berserah. Kita mengalir ikut aliran tapi tetap waspada. Mungkin akan banyak yang tidak setuju dengan opini saya. Namun, ini adalah pembelajaran dari ibu saya.

Baca Juga  MAARIF Institute : Pelatihan Penguatan Toleransi dan Pencegahan Ekstremisme Kekerasan Untuk Pemuda dan Perempuan

Ibu dengan keterbatasan waktu dan tenaganya tetap berusaha mempertahankan keuangan kami. Ibu pangkas pengeluaran yang tidak perlu dan menyaringnya menjadi apa yang lebih prioritas. Dari kerja kerasnya membantu Bapak mengatur keuangan anak-anaknya diantar jadi sarjana.

Ya, saya tahu. Saya tahu Anda takut sebagaimana saya juga ketakutan dengan adanya Tapera, lalu ada lagi pajak 12%, pajak kendaraan, pajak apalah, iuran ini itu. Tapi Ibu saya, Ibu saya survive dengan adanya aneka gejolak ekonomi lalu yang saya kira juga sama rada ngerinya.

Maka di hari Ibu ini saya sangat berterima kasih padanya. Seburuk apapun keadaannya beliau tidak membagikan trauma dan kesulitannya kepada saya. Saya ingin juga mengucapkan kepada para Ibu yang lain, kita pasti kuat.

Jangan takut. Yakinlah, selama kita berusaha Allah tidak akan menyiakan usaha kita. Selama kita berikhtiar Allah tidak akan meninggalkan kita. Tenanglah dulu diri kita. Kita yakini bahwa akan selalu ada jalan. Kita tenangkan diri dan keluarga sambil melangkah mencari solusi untuk tetap bertahan.

Mantra pemenangnya sederhana

“Nek kancane isa mangan, kowe ya isa mangan,” yang artinya kalau temannya bisa makan kamu juga bisa makan. Mantra yang relevan dengan ayat ke 6 surat Hud, yang berbunyi, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya”.

Bagikan
Post tags:
Post a Comment