Azas Satu Menit untuk Pernikahan
Akhir-akhir ini beranda saya dipenuhi dengan curhatan permasalahan rumah tangga. Mau cari masalah apa saja ada, mulai dari konflik abadi mertua menantu, perselingkuhan, kekerasan dalam pernikahan dsb. Kemudian diikuti dengan keputusan epik untuk bercerai.
Saya tidak menyalahkan adanya perceraian, karena itu memang sebuah pintu darurat yang Allah sediakan. Bahkan di Indonesia ada yang namanya sighat taklid, empat janji yang diucapkan mempelai lelaki setelah akad.
Setidaknya ada empat poin penting dalam sighat taklid, pertama tidak meninggalkan istri lebih dari dua tahun berturut-turut. Kedua, suami harus memberikan nafkah terhadap istri. Ketiga tidak membiarkan atau mempedulikan istri lebih dari enam bulan, dan yang terakhir tidak menyakiti jasmani atau fisik istri.
Empat poin ini merupakan sebuah terobosan dari ulama Indonesia. Bagaimana secara agama, wanita dilindungi, dan difasilitasi apabila ingin berpisah. Namun, hari ini entah mengapa saya merasa agak ngeri-ngeri sedap ketika angka perceraian melambung tinggi.
***
Generasi hari ini memang berbeda dengan generasi masa lalu. Generasi masa lalu, biasanya akan merasa malu setengah mati apabila bercerai. Untuk bercerai saja meski sudah remuk redam hati, perasaan bahkan fisik mereka bertahan hanya demi anak. Simpel agar anak-anak mereka merasakan figur ayah dan ibu secara utuh.
Ah, soal perceraian ini memang unik. Apalagi dengan menjamurnya media sosial. Di mana semua bebas menceritakan apapun, mulai dari hubungan yang manis sampai yang pahit. Mulai dari cerita indah sampai yang mengenaskan. Semua cerita yang bisa sampai ke diri kita tanpa filter.
Dan jika kita tilik lebih lanjut, perceraian di Indonesia mungkin bisa jadi karena adanya paparan dari media sosial. Pada saat sebelum menikah, kita merasa ingin segera menikah agar bisa bersama dengan pasangan. Dari rasa buru-buru tanpa adanya kematangan beragama dan bersikap maka lahirlah pasangan labil.
Dikompori dengan berbagai postingan manis. Di mana seorang suami atau istri harus memenuhi kriteria tertentu, sehingga ketika suami atau pasangan tidak memenuhi kriteria tersebut kita kecewa. Ya, saya pun jujur pernah merasakan kekecewaan suami karena tidak serupa dengan bayangan “Prince Charming” dalam media sosial.
Dalam pernikahan memang tidak seratus persen manis, mungkin lebih banyak pahit, getirnya malah. Hanya saja banyak orang yang membungkus hal tersebut sehingga tak tampak di khalayak. Sebagai gantinya ketika role model yang digadang-gadang sempurna oleng, bersedihlah kita semua.
Tidak hanya itu, banyak beredarnya cerita konflik rumah tangga tanpa sadar membuat kita ketakutan. Akankah hal tersebut terjadi dalam rumah tangga kita? Atau bagi yang belum menikah mungkin akan merasa overthinking terkait pernikahan. Ah, padahal cerita kejam itu belum tentu cerita asli, bisa saja itu merupakan cerita karangan agar bisa viral.
***
Karena seumur hidup terlalu lama…
Itu adalah sebuah frasa yang terlalu sering lewat di beranda saya. Sering sekali di akhir sebuah postingan yang berisi cerita perceraian akan terselip frasa tersebut. Iya, terlalu lama jika Anda berpikir akan hidup lama.
Saya pernah mendengar sebuah ceramah, bahwa mengira hidup kita akan lama adalah sebuah kebodohan. Kita bahkan tidak tahu akan bagaimana semenit ke depan. Lalu, apakah satu menit adalah waktu yang lama?
Satu menit bukan waktu yang lama, setara dengan dua buah story whatssap berdurasi masing-masing tiga puluh detik. Masak dalam dua kali tiga puluh detik itu, Anda tidak bisa menahan untuk tidak selingkuh? Atau dalam waktu sesingkat itu, apakah Anda tidak bisa menahan sedikit untuk tidak menyakiti pasangan?
Dalam pernikahan memang diperlukan kata saling. Saling mengerti, saling introspeksi, saling bersabar, dan saling berjuang. Namun, jika tidak saling juga tidak masalah, karena di dalam Al Qur’an ada cerita mengenai tipe-tipe pasangan dalam rumah tangga.
Ada Fir’aun dan Asiyah, suami jahat istri baik, ada pula Nabi Nuh dan istrinya, suami saleh istri zalim, dan ada pula Nabi Adam dan Ibu Hawa pasangan saleh salehah. Lalu, apakah ada kata cerai? Tidak mereka saling bertahan hingga Allah sendiri yang memisahkan.
Perceraian mungkin adalah cara Allah memisahkan pasangan. Perceraian juga mungkin sebagai jalan untuk menyelamatkan diri dari hal buruk yang mungkin terjadi. Hanya saja pertanyaan mendasar sebelum melangkah dalam perceraian apakah kita sudah berusaha?
Tidak hanya sibuk menyalahkan pasangan, tapi juga introspeksi lebih dalam. Saya ingat ketika seorang konselor pernikahan bercerita mengenai salah satu kliennya. Klien beliau adalah seorang perempuan sukses cantik yang sukses. Sedangkan si suami berselingkuh dengan seorang pedagang warteg.
Apa yang dilakukan oleh Ibu ini? Beliau introspeksi apa saja kekurangan beliau. Lalu dengan izin Allah melalui doa-doa yang dia panjatkan, si suami kembali ke dirinya. Poinnya adalah dalam sebuah hubungan pernikahan kita tidak bisa menuntut pasangan. Kita hanya bisa menuntut diri kita sendiri, agar menjadi pribadi yang baik.
Saya pribadi masih banyak belajar, menikah selama tiga tahun akhirnya menyadarkan saya. Pernikahan begitu susahnya untuk dipertahankan. Saya ditampar kenyataan dan saya menyadari bahwa ini merupakan sarana ibadah seumur hidup. Sebagaimana layaknya sebuah ibadah setan akan senantiasa membuka pintu-pintu masalah agar kita goyah. Dan itu memang lumrah, untuk urusan salat yang hanya sepuluh menit saja setan mati-matian. Apalagi untuk urusan pernikahan?
Akan lebih banyak setan, entah setan yang ada dalam diri kita sendiri, setan dari pasangan, dan setan dari yang lain. Mempertahankan pernikahan akan menjadi sebuah perang yang tak berujung, Meskipun jika berakhir dengan perceraian itu juga bukan sebuah kekalahan, karena ada hal-hal tertentu yang lebih diketahui yang bersangkutan.
Ya, pada akhirnya izinkan saya meminjam istilah dari salah seorang ulama panutan saya. Bahwa jangan membayangkan hidup lama, bayangkan saja hidup satu menit. Tidak lama hanya satu menit. Lalu, dalam kurun waktu satu menit itu akankah Anda membuat kesalahan dalam pernikahan? Saya rasa tidak karena satu menit terlalu sebentar untuk membuat kesalahan.
Ibu Rumah Tangga tinggal di Semarang. Bisa silaturahnmi via FB Anisa fitrianingtyas.

Pingback: Mantra Ibu 2025 - Inspirasi Muslimah