Periode Penting yang Tidak Akan Kembali
“Semua ini karena salahku Mbak, aku terlalu egois hingga aku keliru dalam memahami kebahagiaan yang sebenarnya bagi anakku. Kukira dengan memenuhi segala kebutuhannya, aku sudah membuatnya bahagia, ternyata tidak. Rasanya penyesalanku ini sudah terlambat. Aku seakan kehilangan putriku sendiri. Akhir-akhir ini dia selalu menolak setiap aku hubungi.”
Aku masih mematung seolah terhipnotis ketika dia, salah seorang tetanggaku yang bekerja di Korea, pada suatu sore meneleponku. Sambil terisak dia cerita panjang lebar tentang kesedihannya karena tak bisa akrab dengan putrinya sendiri sebagaimana ibu-ibu yang lain. Dari apa yang disampaikan, aku tahu ada rasa sesal di dadanya. Kadang dia minta tolong padaku untuk menyampaikan beberapa hal penting jika kesulitan menghubungi putrinya.
Kuntum, Putri Mbak Mawar
Keluarga kecil Mbak Mawar, begitu aku memanggilnya, terbilang keluarga kecil yang harmonis. Suami yang bekerja sebagai pegawai negeri golongan dasar dengan kerja sambilan ini itu cukuplah untuk makan bertiga setiap bulannya. Mbak Mawar sendiri sering menerima pesanan makanan ringan untuk berbagai pertemuan rapat atau pengajian.
Melihat keluarga Mbak Mawar yang tampak adem ayem, tak satu pun tetangga yang menyangka, tiba-tiba Mbak Mawar pergi ke Korea sebagai TKI dengan meninggalkan suami dan putri semata wayangnya yang belum mencapai usia aqil baligh. Ada apa gerangan yang membuat dia senekat itu hingga tega pergi jauh? Apakah sudah dipikir masak-masak? Bagaimana dengan tumbuh kembang putrinya yang masih butuh bimbingan seorang ibu?
Bisa jadi hanya aku yang berpikiran terlalu jauh karena belum tahu alasan apa di balik kepergiannya. Rasanya kurang etis bila sampai ketahuan aku memikirkannya sedetil itu sedangkan aku sendiri belum tentu mampu membantu mencari jalan keluarnya, jika ternyata ada masalah dalam keluarganya.
Kuntum, putri Mbak Mawar, hidup berdua dengan sang ayah yang sangat mencintai dan menyayanginya apalagi sejak ditinggal ibunya. Selain ayah, masih ada nenek, paman dan bibi yang juga menyayangi meski tak serumah tapi tinggal sekampung. Dia tumbuh seperti gadis-gadis kecil lainnya yang ceria, suka bermain dan tak pernah terlihat ada kesedihan di wajahnya meskipun hanya ditemani sang ayah.
Kuntum anak yang kuat dan selalu riang. Teman-temannya menyukainya karena dia supel dan tak pernah marah bila ada yang mengolok-oloknya. Di mataku dia sosok anak yang tahan banting, mudah memaafkan kejahilan teman-temannya dan aku belum pernah melihatnya menangis. Benar-benar gadis kecil yang manis dan menyenangkan.
Kuntum sering main ke rumah karena dia sebaya dengan putriku. Teman sekelas di SD dan teman mengaji setiap sore. Hubungan kami cukup dekat sehingga aku pun menyayanginya meski tak sedekat hubungan antara anak dan ibunya. Ada beberapa hal yang tentu saja aku tak boleh mencampurinya.
Tumbuh Kembang Kuntum tanpa Kehadiran Ibu
Tiba waktunya putriku mengalami haid pertama kali. Jauh-jauh hari aku sudah mempersiapkan dan mengenalkan apa itu haid, bagaimana mengatasi dan lain-lain. Ada sejumput penyesalan di hatiku, ketika aku terlambat menanyakan pada Kuntum bahwa ia sudah haid apa belum dengan harapan paling tidak aku bisa membantu jika suatu hari dia mendapatkannya.
Ternyata Kuntum lebih dahulu mengalami dibanding putriku. Yang paling menyentuh adalah semua itu ia hadapi berdua dengan sang ayah yang sudah pasti tak akan sama bila hal itu dihadapi bersama ibu. Trenyuh hati ini ketika secara tak sengaja pernah mendapati ayah Kuntum membeli pembalut dan aku baru ngeh bahwa ia sudah masuk aqil baligh.
Kendati kesehariannya Kuntum tumbuh sebagai anak periang dan lebih menampakkan bahwa ‘aku baik-baik saja’, namun pelan dan pasti ada banyak perubahan dalam sikap dan cara bertutur sapa. Ini terlihat sejak dia memasuki masa remaja. Dia cenderung sedikit bicara, lebih hati-hati walaupun masih tetap ramah kepada siapa pun.
Hampir semua keinginannya terpenuhi karena ibunya selalu mengirim uang dan tak pernah lalai. Secara periodik dua atau tiga tahun sekali ibunya pulang ke rumah beberapa hari, lalu pergi lagi karena kontraknya masih berlangsung. Inilah yang sering membuat Kuntum merasa tak memiliki seorang ibu.
Beberapa hari ibunya mengambil cuti pulang kampung, tak mampu membuat Kuntum menumpahkan rindu yang ditahannya ribuan hari. Baginya, ibu hanyalah orang yang selalu menyayangi, mencintai tapi tidak pernah mau tahu isi hatinya, tak pernah tahu kepedihan hatinya. Ibu tak pernah ada ketika dia butuh pelukan, butuh belaian bahkan butuh ciuman sayang seperti teman-temannya. Kuntum kecewa.
Kuntum tahu bahwa kita tidak boleh durhaka kepada ibu. Dia tahu itu. Meskipun dia tidak menentang ibunya secara terang-terangan, namun sisi lain di hatinya menuntut mengapa ibunya tak membersamai dia di saat dia tumbuh kembang menuju remaja hingga dewasa padahal ibunya masih ada.
Terbiasa hidup berdua dengan sang ayah, membuatnya lebih mandiri. Mampu menyelesaikan masalah tanpa harus melibatkan orang lain termasuk nenek dan kerabatnya. Jauh dari rengkuhan tangan lembut seorang ibu tak membuatnya lemah atau cengeng. Dia kuat dan tabah baik ketika sehat maupun sakit. Orang lain tak pernah tahu, ada luka atau tidak di hatinya yang terdalam karena dia sudah terbiasa dan mampu menutupi masalah pribadinya.
Di negeri ini masih banyak Kuntum-Kuntum lain yang terpaksa tumbuh dewasa tanpa didampingi seorang insan yang biasa kita panggil ibu. Beragam penyebabnya. Ada yang karena ibu telah berpulang, karena perpisahan ke dua orang tua atau karena ditinggal bekerja jauh. Beragam pula karakter yang terbentuk pada diri mereka ketika harus mengisi hari-hari tanpa seorang ibu.
Kita tidak bisa menyalahkan siapa pun di sini. Semua terjadi tentu ada alasan yang menyertai. Paling tidak ada pelajaran berharga yang bisa kita ambil. Seperti kisah Mbak Mawar. Dia merasa terlalu egois dan menyesal telah melewatkan masa-masa periode penting bersama putrinya yang tidak bisa ia tebus dengan apa pun karena periode itu tak akan kembali.
Dia sudah ikhlas andaikan putrinya tak mau menerima kehadirannya kembali di rumah karena ia telah mengakui kesalahannya, telah membuat luka batin putrinya yang tidak mungkin sembuh secepat ia mengirim uang ke rumah. Kuntum tetap ceria, tetap manis dan tetap supel. Dia hanya kurang akrab dengan ibunya karena terlalu lama ditinggal.
Bila ternyata ada luka yang masih menganga di hati Kuntum karena ibunya, hanya Kuntum dan Allah yang tahu. Seorang ibu akan selalu jembar pangapurane, mampu memaafkan dengan hati yang luas seluas samudera andai Kuntum salah. Demikian juga Mbak Mawar, ia tak segan-segan selalu minta maaf kepada putri dan suaminya.

Seorang ibu rumah tangga dengan 3 anak, masih aktif di ‘Aisyiyah Donorojo Jepara.
