f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
bullying

Marak Tindakan Bullying di Sekolah, Apa Penyebabnya?

Ketika lebaran 10 April 2024 kemarin, saya mendapat kesempatan untuk bertemu dengan keluarga besar dan saling berbagi cerita hidup dengan mereka. Dari sekian banyak saudara, salah satunya adalah seorang remaja laki-laki yang kini seharusnya duduk di bangku kelas 1 SMA. Sebuah pengalaman tidak menyenangkan terjadi kepadanya, sehingga dia tinggal kelas selama dua tahun. Saudara saya menjadi korban dari tindakan perundungan atau yang lebih sering disebut dengan bullying.

Kisah terjadi beberapa tahun lalu ketika saudara saya itu baru masuk SMP. Lebih tepatnya, dia sekolah di sebuah pondok pesantren bebas biaya yang lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah. Di sanalah dia menjadi sasaran empuk dari para perundung yang menyebabkan mentalnya cukup terganggu. Selain itu, prestasinya juga ikut merosot. Pada titik di mana dia tidak tahan lagi, kabur dari pesantren adalah pilihannya. Karena satu dan lain hal, kini dia sedang melanjutkan pendidikan di bangku kelas 2 SMP di sekolah yang berbeda.

Mendengar kisah tersebut, timbul rasa penasaran dari diri saya, apakah yang sebenarnya menyebabkan seseorang melakukan tindakan bullying?

…

Bullying atau perundungan adalah tindakan untuk menyakiti orang lain secara sengaja dengan tujuan mendominasi atau menyingkirkan. Tindakan tersebut dilakukan secara terus menerus dan berulang sehingga korban tidak sanggup membela diri.

Aksi perundungan dilakukan dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang sebatas verbal atau dengan kata-kata, dan pada kasus yang lebih parah, para pelaku tidak segan melakukan kekerasan fisik yang bahkan sampai merenggut korban jiwa.

Menurut penelitian Arifa Retnowuni dan Athi’ Linda Yani, kasus perundungan di Indonesia lebih sering terjadi pada laki-laki, baik sebagai pelaku maupun sebagai korban, baik di lingkungan sekolah formal maupun non formal. Dalam hal ini, senioritas menjadi wadah bagi para pelaku untuk melakukan perundungan kepada juniornya, karena mereka merasa lebih superior. Bentuk perundungannya dapat berupa disuruh melayani hajat mereka, dipalaki uang atau barang, mengancam, yang tentu saja membuat korban merasa takut, trauma, risih, dan terintimidasi.

Baca Juga  Bersyukur dan Menghargai Setiap Kesempatan
…

Ada berbagai macam penyebab seseorang menjadi pelaku bullying. Secara internal, individu yang memang tidak memiliki wawasan mengenai cara memperlakukan orang lain dengan baik dan benar akan berperilaku agresif, tidak memiliki empati dan simpati, tidak mampu berkomunikasi dengan baik, dan tidak tahu akibat dari tindakannya. Selain memang karakter yang kurang, bisa jadi seorang pelaku itu dulunya adalah seorang korban kekerasan, sehingga dia memiliki dendam tersendiri yang dilampiaskan kepada orang lain.

Selain penyebab internal, keluarga yang bermasalah seringkali melatarbelakangi perilaku seorang pelaku perundungan. Orangtua yang melakukan pengabaian kepada anaknya, tidak memberikan pengajaran agama, dan tidak memberikan pendidikan karakter atau bahkan menjadikan anak sebagai sasaran peluapan emosi di saat anak tidak melakukan kesalahan apapun akan membentuk anak yang mencari perhatian dan kekuasaan di sekolah. Anak sebagai peniru unggul juga akan meniru kekerasan-kekerasan yang ada di sekitarnya.

Seperti yang kita ketahui bahwa orangtua seharusnya menjadi pengawas yang paling baik karena waktu anak sebagian besar habis di rumah. Orang tua juga yang memiliki kunci pada pengelolaan akses-akses media untuk anak. Ketika orang tua lalai dalam mengawasi anaknya, maka yang bisa terjadi adalah anak mendapatkan akses kepada tayangan media yang kurang mendidik seperti adegan kekerasan dan pertengkaran. Anak yang menonton hal-hal tersebut tanpa adanya dampingan orangtua akan memiliki sudut pandang bahwa hal-hal tersebut adalah suatu aksi yang keren. Sehingga dia ingin memprektekkannya dalam kehidupan nyata.

Kasus perundungan juga bisa terjadi akibat dari tidak adanya andil dari pihak sekolah. Misalnya kepala sekolah dan guru yang kurang maksimal atau tidak tepat dalam mengatasi kasus, ketidakjelasan peraturan sekolah, ataupun tindakan diskriminatif. Padahal, seperti yang kita ketahui bersama bahwa guru adalah orangtua kedua bagi anak, tepatnya di lingkungan sekolah. Guru seharusnya tidak sebatas fokus dalam mengurusi bidang akademis siswa, tetapi juga menekankan pada pendidikan karakter para siswa.

Baca Juga  Ukuran Kesuksesan Seorang Muslim

Penyebab terakhir yang adalah anak yang salah masuk kelompok pergaulan. Masa-masa remaja adalah masa pencarian jati diri. Banyak anak yang ingin masuk ke dalam kelompok pergaulan tertentu yang dipandang keren meskipun ada perilaku menyimpang dalam kelompoknya. Dengan masuk ke dalam kelompok tersebut, mereka seolah mendapatkan pengakuan eksistensi diri.

Berdasarkan data kasus perundungan yang sering terjadi, bahwa pelaku perundungan senang bermain keroyokan ketika menindas anak yang lebih lemah. Jumlah orang yang lebih banyak membuat mereka merasa menjadi mayoritas. Sedangkan, para korban bully seringkali memiliki hanya sedikit teman karena anak yang lain takut akan ikut kena bully jika berteman dengannya.

Bullying adalah fenomena serius dalam bidang pendidikan yang masih sering disepelekan. Saya harap kita semua tidak menutup mata jika mengetahui ada tindakan perundungan yang terjadi di sekitar. Setidaknya, hal paling kecil yang dapat kita lakukan adalah memberikan perhatian dan juga membersamai para korban bullying.

Bagikan
Post a Comment