Hari Raya Idulfitri Sebagai Ajang Adu Outfit di Kalangan Remaja
Hari raya Idulfitri merupakan hari yang ditunggu-tunggu banyak kaum muslim. Pada hari itu semua dosa umat Islam telah diampuni sebagaimana kertas putih yang bersih. Hari raya Idulfitri sendiri memiliki makna kembali ke fitrah atau kembali kepada kesucian.
Umat Islam di seluruh dunia sangat antusias menyambut momen Idulfitri ini. Di Indonesia sendiri momen Idulfitri diwarnai dengan budaya mudik dan saling maaf-maafan dengan tetangga dan saudara. Baik di kalangan remaja maupun orang tua. Seiring dengan bergantinya tahun ke tahun, pasti ada saja trend-trend yang viral menjelang hari raya Idulfitri. Misalnya di hari raya Idulfitri tahun lalu yang trendnya yaitu baju dengan nuansa warna sage green atau warna-warna yang kalem. Sedangkan Idulfitri tahun ini yaitu dengan baju yang bernuansa berkilau dan warna-warna cerah.
Kebanyakan dari kalangan para remaja zaman sekarang kurang mengerti arti dari hari raya Idulfitri sendiri. Maka dari itu mereka tidak terlalu menganggap Idulfitri sebagai hari yang suci atau sakral dengan menjadikan Idulfitri sebagai ajang adu outfit. Contohnya yang masih hangat dan viral sampai sekarang ini yaitu trend baju shimmer yang berkilauan dan sering muncul baik di media sosial maupun di lingkungan sekitar kita.
Hal itu semakin luas dan semakin banyak peminatnya akibat dari banyaknya orang-orang di media sosial yang mengunggah foto-foto atau vidionya dengan menggunakan baju shimmer yang banyak mempengaruhi remaja sekarang. Sehingga mereka pun banyak yang tertarik dan mencoba membelinya dengan pesan di toko online.
Analisis Konteks Sosial dalam Dramaturgi
Teori Dramaturgi ini dikembangkan oleh seorang sosiolog asal Kanada Erving Goffman dalam bukunya yang terkenal, “The Presentation of Self in Everyday Life”. Konsep ini menggambarkan interaksi sosial sebagai pertunjukan drama di atas panggung. Di mana individu berperan sebagai aktor yang memainkan peran tertentu di lingkungan sosial yang menjadi panggungnya. Ada dua konsep dalam Dramaturgi yang sangat terkenal. Dan konsep ini selalu digunakan dalam drama, pertunjukan dan juga dalam interaksi dengan masyarakat.
Front Stage (Panggung Depan) adalah area di mana individu berinteraksi dengan orang lain secara langsung. Ia berusaha menunjukkan diri sesuai dengan versi terbaiknya. Mereka menggunakan strategi seperti penampilan fisik, bahasa tubuh, dan kata-kata untuk mempertahankan kesan baik seperti yang diinginkan.
Selain ada Front Stage tentu saja juga ada Back Stage yang biasanya ada di setiap pertunjukan drama. Back Stage (Panggung Belakang) adalah tempat di mana individu bisa berperilaku lebih bebas dan bersikap seperti kesehariannya tanpa harus mempertahankan kesan sosial yang diinginkan. Lingkup ini bisa disebut ruang pribadi atau lingkungan keluarga di mana individu merasa nyaman mengekspresikan diri tanpa pertimbangan sosial.
Jika dikaitkan dengan teori Dramaturgi, konteks sosial ini lebih cenderung terjadi di bagian front stage seseorang. Yakni di mana keadaan seseorang yang menunjukkan sikap versi terbaiknya untuk ditunjukkan kepada masyarakat. Hal ini ia lakukan agar terlihat lebih baik seperti yang diinginkan. Sedangkan ketika berada di lingkungan keluarga atau ruang pribadinya, seseorang itu akan berubah sikapnya menjadi lebih bebas dan personal. Selain itu ia juga tidak terlalu menunjukkan sikap terbaiknya seperti yang diinginkan.
Memang sudah diwajarkan pada hari raya Idulfitri banyak orang-orang yang berperan tidak seperti hari-hari biasanya. Atau lebih tepatnya menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri. Seperti orang yang biasanya pendiam saat hari biasa, namun di hari idulfitri ia sangat aktif berinteraksi dengan keluarga dan saudaranya. Sehingga tanpa disadari orang tersebut telah menunjukkan sisi front stagenya di keadaan tertentu akan berubah-ubah, sedangkan back stage nya tetap seperti hari-hari biasanya. Begitu pula dengan para remaja yang mengikuti trend hari Idulfitri dari tahun ke tahunS seakan-akan dirinya itu tidak sadar bahwa dia sedang menunjukkan sisi front stage nya begitu juga dengan back stage nya.
Mengapa bisa begitu? Karena dengan mereka mengikuti trend tersebut dari tahun ke tahun lama-lama akan menjadi kebiasaan yang akan diikuti banyak orang. Dari yang awalnya seseorang kurang minat dalam beroutfit di hari-hari biasa. Sampai akhirnya mencari, lalu membeli outfit apa yang sedang trend di tahun tertentu agar tidak ketinggalan zaman dari teman-teman sebayanya. Hal itulah yang dapat membuktikan bahwa terjadinya ajang adu outfit pada saat hari raya Idulfitri di kalangan remaja, serta memperlihatkan juga dua konsep dari Dramaturgi.
Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa di kalangan remaja sekarang banyak yang menjadikan hari raya Idulfitri sebagai ajang adu outfit daripada menganggapnya sebagai hari yang suci dan hari yang tepat untuk bermaaf-maafan. Dengan menggunakan teori Dramaturgi ini kita bisa melihat bagaimana sisi front stage seseorang di hari biasa dan di hari raya Idulfitri. Karena di saat hari-hari biasa tanpa disadari seseorang lebih banyak menggunakan sisi front stagenya yang tidak dapat dipungkiri bahwa front stage itu akan menjadi back stage ketika hari raya Idulfitri tiba.
