f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kucing jadi aku

Jadi Aku Sebentar Saja

Seandainya kamu merasakan
Jadi aku sebentar saja

Penggalan lagu yang dibawakan oleh Judika tersebut tiba tiba saja terlintas di kepala saya saat teringat kembali pertemuan arisan perumahan hari Minggu yang lalu. Sebuah permintaan kepada orang lain untuk sedikit berempati dan memposisikan diri sebagai kita.

Pada momen arisan tersebut kami membahas tentang keluhan beberapa warga mengenai kucing yang dibiarkan berkeliaran di lingkungan perumahan. Ada beberapa warga yang memang menyukai kucing serta memelihara mereka, tetapi seringkali dibiarkan berkunjung ke tetangga dan meninggalkan ‘bingkisan’ yang sangat tidak diharapkan.

Para kucing tersebut meninggalkan kotoran, muntahan, cakaran dan bulu-bulu yang bertebaran di lantai teras, kursi, pot tanaman, jok motor bahkan kap mobil. Selain itu, para kucing tersebut seringkali melakukan keributan di rumah kami. Entah itu kejar-kejaran di atap yang seringkali membuat kami terbangun di tengah malam, atau saling mengeong kencang  saat musim kawin atau bertengkar dengan sesama kucing.

Sebagai orang yang tidak memiliki para hewan tersebut dengan alasan menghindari kerepotan, kenyataannya kami menghadapi cerita yang berbeda dari keinginan. Hampir setiap hari harus repot membersihkan kotoran mereka di rumah kami, dan bersabar dengan kebisingan-kebisingan yang tak perlu didengar.  Intinya kami sudah lelah harus membereskan permasalahan-permasalahan yang sebenarnya bukan bersumber dari kami sendiri.

Dalam pertemuan tersebut, kami yang tidak memiliki kucing memohon dengan sangat agar para tetangga yang memiliki kucing membuka hati nurani mereka, merasakan apa yang kami rasakan. Kami memohon kepada mereka untuk menghargai alasan serta keputusan kami untuk tidak memiliki hewan peliharaan. Kami merasa bahwa keputusan mereka untuk memiliki hewan peliharaan juga tak pernah kami usik. Jadi, kami meminta para pemelihara kucing untuk mengurung kucing-kucing mereka di rumahnya masing-masing agar tidak berkeliaran dan merepotkan tetangga.

Baca Juga  Dari Hafalan ke Kesadaran: Perjalanan Menemukan Pembelajaran Mendalam

Ya, sadar ataupun tidak, sebenarnya apa yang kita lakukan seringkali berdampak menjadi sebuah persoalan bagi orang lain. Ada beberapa keputusan yang kita ambil pada akhirnya berdampak buruk bagi orang orang di sekitar kita. Meskipun sebenarnya pada saat bertindak atau memutuskan sesuatu, tak pernah sekalipun terbersit maksud untuk berniat buruk kepada orang lain.    

Contoh kecil misalnya, saat kita berkendara di jalan raya. Saat berbelok atau hendak menyeberang, terkadang kita lupa memberikan aba-aba kepada pengguna jalan yang lain. Tiba-tiba saja kita ‘nyemplung’ dan membuat pengendara lain terkejut. Kita tidak sadar bahwa tak semua pengendara memiliki keterampilan mengendalikan rem. Jadi tak semua pengendara akan mampu mengerem dengan cepat dan tepat saat kita nongol di depan mereka dengan‘begitu saja’.

Terkadang, ada pengendara yang sebenarnya berbaik hati memberi kita kesempatan untuk ‘nyemplung’ tetapi dia sendiri bingung bagaimana menempatkan posisi kendaraan. Hendak direm mendadak akan berakibat pada kendaraan di belakangnya. Jika memilih tetap melaju akan berakibat ke kita yang tiba-tiba saja merangsek di depannya seenaknya sendiri. Ada juga yang saking terkejut dan paniknya, memilih untuk membanting setir dan akhirnya mengorbankan diri menghantam samping. Ya kalau di sampingnya kosong. Bayangkan jika di sampingnya ada kendaraan lain atau pembatas jalan.

Kita, yang telah seenaknya ‘nyemplung’ tadi seringkali tidak menyadari efek dari tindakan tersebut. Karena kita melaju saja seenaknya, pengendara yang tadi terpaksa mengerem menghindari tabrakan, harus merasakan akibatnya. Dia harus rela diomeli pengendara di belakangnya lagi, atau mungkin lebih parah lagi, ditabrak pengendara- pengendara lain di belakangnya. Kita melaju melenggang di depan, padahal di belakang terjadi keributan karena ulah kita. Tanpa kita sadari, keegoisan kita telah memberikan akibat buruk kepada orang lain.

Baca Juga  Adakah Sekolah yang Ramah Anak?

Seringkali kita bertindak tanpa memikirkan dampaknya kepada orang lain. Hal yang kita anggap wajar dan biasa, mungkin saja merupakan a big deal bagi orang lain. Situasi yang menurut kita biasa saja, mungkin saja adalah peristiwa yang sangat penting bagi orang lain. Perkataan yang menurut kita biasa saja, sangat mungkin malah menjadi penyemangat atau penurun mental bagi orang lain.

Saya ingat sekali, suami saya pernah mengatakan bahwa kata ‘pulang’ saat liburan lebaran dan natal adalah kata yang sakral bagi dirinya. Padahal menurut saya, kata itu biasa aja. Pulang ya pulang saja. Kita kembali ke rumah, bertemu dengan orang tua, sanak saudara, dan mungkin bertemu kembali dengan tetangga dan teman-teman masa kecil.

Tetapi bagi suami saya yang notebene adalah orang perantauan, kata ‘pulang’ baginya adalah menapaki kembali segala hal yang akhirnya membuatnya terdampar di kota lain. Pulang ke kota asal, membuatnya kembali menapaki jalur-jalur yang pernah dilaluinya, membuatnya kembali mengecap beragam rasa yang menemani pahit manisnya perjalanan hidupnya.

Kata ‘pulang’ bagi suami saya tak hanya berarti menyiapkan bekal mental untuk melihat kembali setiap sudut kenangan, tetapi juga berarti menyiapkan bekal untuk berwisata kuliner, menyecap kembali makanan-makanan khas kota asal yang dulu pernah menjadi kenangan masa kecilnya. Ha ha. Yang ini sepertinya berlaku untuk saya juga sebagai penyuka kulineran.

Jadi, setiap kali membicarakan ‘pulang’, ada raut muka berbeda yang tertampil di wajah saya dan suami. Saya menganggapnya biasa saja, sedangkan suami saya mengganggapnya menjadi suatu hal yang sangat istimewa. Hal itu karena kami memiliki pemaknaan dan sudut pandang yang berbeda pada kata tersebut.

Cara pandang dan sudut pandang yang berbeda akan sangat berpengaruh pada pengambilan keputusan dan tindakan. Terkadang saat memandang suatu hal atau memutuskan suatu tindakan, kita hanya menggunakan sudut pandang kita sendiri. Jarang sekali mempertimbangkan cara pandang dan efeknya pada orang lain.

Bagikan
Post a Comment