Menjadi Orang Besar
Pak Hajriyanto, pasca meninggalnya Buya Syafii, menulis di Media Indonesia bahwa Buya adalah orang besar (the great man). Tulisan Pak Hajri itu sangat reflektif dan mendalam. Ia jelaskan mengapa Buya bisa menjadi orang besar dan apa yang membuat Buya menjadi besar.
Kita semua tentu sepakat dengan Pak Hajri. Kecuali sebagian kecil orang yang hingga hari ini masih dengki terhadap Buya, kita semua haqqul yaqiin bahwa Buya adalah the great man. Ia dikenal oleh banyak orang. Peristirahatannya diantarkan oleh berbagai tokoh lintas elemen. Politisi, agamawan berbagai agama, aktivis sosial, hingga warga biasa turut menitikkan air mata atas kepergiannya.
Bagi saya, orang besar tak hanya orang yang dikenal khalayak luas seperti halnya Buya. Saya dan Rahmania, barangkali, meletakkan orang-orang tertentu, orang yang dalam pandangan orang lain itu biasa saja, di dalam sanubari kita dengan penuh penghormatan. Orang yang namanya kita simpan baik-baik dalam relung hati kita. Inilah yang saya sebut sebagai orang besar menurut masing-masing dari kita.
Saya, tentu menjumpai dan berkomunikasi dengan beberapa orang yang, masyaAllah, namanya harum sekali di hati saya. Orang ini barangkali tidak Rahmania kenal. Ia tidak seterkenal Buya. Ia juga bukan siapa-siapa di mata banyak orang. Tapi, di mata saya, ia bagaikan malaikat yang hadirnya membuat jalan hidup saya sungguh berbeda. Benar-benar berbeda.
Orang-orang besar yang namanya saya simpan dengan penuh kebanggaan itu sebenarnya tidak melakukan banyak hal. Mereka hanya melakukan hal yang sederhana. Yang bisa jadi, bagi mereka sendiri, itu bukan apa-apa. Salah satu hal yang membuat nama mereka wangi semerbak di sanubari saya adalah bagaimana mereka juga mampu menaruh rasa optimisme yang begitu dalam di hati saya.
Orang-orang ini secara sukarela berbicara dengan saya. Mengajak saya untuk berani bermimpi lebih tinggi. Orang-orang ini berulang kali meyakinkan saya bahwa saya bisa menggapai mimpi-mimpi yang awalnya tampak begitu berlebihan itu.
“Bisa. Pasti bisa,” ujar salah seorang itu kepada saya.
“100% saya akan bantu kamu,” ujar seorang yang lain.
“Fokus pada mimpi, jangan fokus pada masalah,” ujar sisanya lagi.
Kata-kata itu sungguh klise. Bahkan, jika Rahmania ucapkan kalimat itu kepada saya, saya mungkin hanya akan mengiyakan tanpa menaruh perhatian sama sekali.
Ceritanya sungguh berbeda karena kata-kata di atas diucapkan oleh orang-orang yang memang secara tulus menyayangi dan memberikan perhatian penuh kepada saya. Orang yang memperhatikan setiap milestone yang saya lalui dalam perjalanan kehidupan saya. Dan orang yang secara ringan hati dan ringan tangan memberikan kepercayaan penuh, di kala tidak banyak orang yang percaya terhadap saya.
Kata-kata klise di atas seketika berubah menjadi pelecut semangat yang begitu membara. Saya, yang sering berada di titik pesimisme yang begitu mengenaskan, tiba-tiba melihat secercah cahaya. Secercah cahaya itu kemudian menuntun saya untuk bisa melewati lika-liku kehidupan yang begitu pelik dan -terkadang- kejam.
Orang-orang besar yang bagi orang lain tidak besar inilah yang sangat berpengaruh dalam kehidupan saya. Kepada mereka, saya haturkan rasa hormat yang setinggi-tingginya, sedalam-dalamnya.
“Aku sampai nangis loh bisa ketemu sama beliau suf,” ujar seorang teman melalui WA. Pesan itu ia kirim bersamaan dengan foto dirinya bersama seorang kandidat doktor di luar negeri. Orang yang dimaksud terakhir ini, barangkali tidak Rahmania kenal. Tapi, percayalah, di hati kami, namanya begitu harum mewangi.
Sekali lagi, yang ia lakukan hanya hal-hal sederhana. Ia, sebagai seorang senior, mau memberikan perhatian yang tulus kepada adik-adiknya yang begitu dhaif ini. Ia meletakkan sebuah harapan tepat di depan mata kami. Agar, sekalipun kami sedang tertidur, harapan itu terus tergantung di depan mata kami. Agar kami tidak lupa walau sedetik, tidak khilaf walau sejenak.
Orang-orang besar yang ada di hati saya, yang dengan tulus terus mendampingi itulah yang membuat saya terus berbenah, belajar, dan memperbaiki diri hingga kelak mencapai maqom yang agung, seperti maqom yang telah dicapai oleh orang-orang besar ini.
Sekeras apapun saya mencoba, saya tak akan dapat membalas seluruh hutang budi ini. Dan sepintar apapun saya bicara, hanya ucapan terima kasih yang tulus yang dapat saya haturkan.
Kader Muda Muhammadiyah
