Air Mata Doa
Subuh itu, kamu masih menangis saat aku baru saja bangun. Saat itu, kamu tidak tidur, menangis semalaman, mengingat aku tidak diterima sebagai peneliti di LIPI, yang diumumkan melalui lamannya pada 9 November 2010. Jujur, sebagai suami yang akan menjadi ayah di tengah usia kandunganmu berjalan 7 bulan, pada 22 November 2010 saat curahan hati ini ditorehkan, sungguh berat bagiku untuk menenangkanmu.
Selepas salat subuh, aku memelukmu dan berucap kembali untuk menguatkanmu dan masa depan keluarga kecil kita.
“Bunda jangan bersedih dan menangis lagi ya. Insyallah pasti ada rejeki lain.” kataku dengan suara lembut.
Memang, ada kekecewaan saya tidak diterima untuk menjadi peneliti di salah satu Lembaga riset milik negara itu. Namun, hidup harus terus dijalani meskipun dengan rasa kecewa yang terus saya bawa. Dengan terus berjalan setidaknya rasa kecewa ini akan berubah jadi rasa syukur dan doa.
Tentu saja, di tengah kedua aktivitas harapan tersebut bekerja lebih keras untuk mengajukan lamaran pekerjaan di pelbagai instansi dan perusahaan merupakan bagian aktivitas yang tidak boleh dilewatkan, meskipun, aku tidak tahu, sampai sejauh mana batas kerja keras ini harus dilakukan. Setidaknya sudah 40 aplikasi lamaran aku masukkan, sayangnya, tidak ada satupun panggilan untuk wawancara. Di sisi lain, aku sudah menghubungi beberapa jaringan LSM yang dahulu aku pernah sempat kerja sebagai peneliti lepas. Sayangnya, mereka belum membutuhkan pekerja baru. Di tengah situasi cemas itu, aku berusaha menghidupkan api semangat; mengirimkan artikel ataupun tinjauan buku ke media massa lokal dan nasional.
***
Istriku. Kamu tahu, sebagai suami, aku hanya bisa menafkahimu dari sisa-sisa beasiswa pascasarjanaku di International Peace Studies, University for Peace, Costa Rica. Jumlahnya tidak seberapa, tapi cukup untuk menafkahi keluarga kecil kita 3-4 bulan ke depan. Aku tahu, di tengah usia kehamilanmu yang sudah 7 bulan, bulan depannnya kamu harus berhenti dari pekerjaanmu yang telah kamu geluti selama 5 tahun terakhir ini. Perusahaan tempat kamu bekerja tidak mengijinkan perempuan yang sudah melahirkan lalu bekerja kembali. Otomatis berhenti dari pekerjaan adalah jalan yang harus kamu ambil. Situasi ini membuat semakin kalut menghadapi masa depan keluarga kita.
Begitu juga aku, sebagai tulang punggung keluarga baru, aku benar-benar kalut dan kebingungan bagaimana menatap masa depan kita ke depan. Saat itu, aku ingin menjual saja dua gelar pascasarjanaku agar mendapatkan uang untuk melahirkan anak kita. Aku juga sempat berpikir untuk menjadi salesman saja yang dapat menghasilkan uang lebih cepat dan langsung, meskipun hasilnya tidak seberapa. Aku tidak peduli dengan gelar. Yang aku pikirkan saat itu adalah aku dapat pekerjaan dan bisa menafkahi keluarga kecil kita.
Di tengah rasa frustasi ini ada harapan kecil muncul dari doa kita. Tepatnya pada 26 November 2010, saat aku membuka akun facebook di pagi hari, tiba-tiba Herry Yogaswara, peneliti Kependudukan LIPI dan teman seangkatan di Asian Research Fellowship di ARI NUS, tahun 2007, memberikan potongan informasi bahwa aku diterima sebagai 1 dari 6 orang mendapatkan beasiswa riset Asian Public Intellectual (API), yang disponsori oleh Nippon Foundation. Potongan informasi terlihat dari satu kalimat yang diucapkan.
“Memang anak membawa rejeki yah,” ujarnya. Usai mengungkap itu, ia tidak menjawab pertanyaanku.
***
Dengan isi kepala penuh pertanyaan, aku bergegas meneleponnya. Ia mengangkat teleponku dan menjawab bahwa aku diterima sebagai beasiswa selama 1 tahun untuk meriset di Filipina dengan tema “Remembering the legacies of the Marcos Dictathorship: the formation of Historical Memory and justice in the Philippines”. Mendengarkan informasi itu, aku langsung sujud syukur dan berterimakasih atas berkah dan rejeki yang diberikan.
Saat itu, aku pun langsung meneleponmu yang sedang bersiaps-siap untuk bekerja di kantor. Aku membaca raut bahagia dalam dirimu. Aku membaca ketenangan dalam tuturmu. Dengan senang, kamu ceritakan hal tersebut kepada keluargamu yang berada di Lampung Selatan. Ya, keluargamu di Lampung adalah penguat imunitas sekaligus harapanmu di tengah kerasnya Jakarta dan mimpi-mimpi kecil yang kita bangun.
Istriku, aku berpikir barangkali ini yang dimaksud rejeki lain dari Tuhan. Sungguh kita harus mengucapkan rasa terimakasih yang terhingga kepada Sang Maha Tak Terhingga. Dengan diterimanya beasiswa ini, setidaknya aku merasa agak tenang. Aku bisa memperpanjang nafas hidup keluargaku. Aku bisa merencanakan rencana-rencana hidup keluarga kita ke depan. Selain itu, aku bisa menyikapi bagaimana karir hidupku sebagai suami yang akan memiliki seorang anak. Beasiswa API ini cukup istimewa bagiku. Selain jumlahnya terbilang sangatlah lebih dari cukup, beasiswa itu dapat membuat aku dan keluargaku bisa hidup selama 2 tahun tanpa bekerja. Tentu saja, dengan pola hidup yang irit di tengah mahalnya tinggal di Ibukota Jakarta. Beasiswa ini juga menjadi semacam obat penawar di tengah kekecewaanku tidak diterima sebagai peneliti di LIPI.
***
Istriku, di tengah rasa syukur ini ternyata Tuhan memiliki rencana lain lagi kepadaku, kamu, dan bayi yang ada dalam kandunganmu. Ya, Sang Maha Baik memberikan rejeki lain kepada kita. Usai pulang dan menjadi pembicara dalam seminar “Hukum dan Penghukuman” yang diadakan pada 28 November 2010-1 Desember 2010, dengan mendapatkan uang honor sebesar Rp.400.000,- di tengah jalan ada dua orang yang meneleponku. Pertama, salah satu perusahaan outsourching di Jl. Jenderal Sudirman, memintaku untuk melakukan tes wawancara terkait dengan lamaran yang aku masukkan sebagai Program Officer untuk kedutaan Inggris di Jakarta.
Kedua, dari BOK LIPI yang mengatasnamakan Pak Sunardi, meminta kesediaanku untuk menjadi peneliti LIPI, menggantikan kandidat pertama yang lebih memilih untuk menjadi dosen Antropologi di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung. Adanya dua pilihan tersebut, aku tentu memilih yang kedua untuk tempat berlabuh. Sungguh, momen ini bukan hanya berkah bagi kamu dan aku, tetapi keluarga kecil kita. Momen ini semacam mukjizat, di mana Tuhan sangat berkuasa membolak-balikan perasaan dan posisi hamba-Nya.
Istriku, air mata yang keluar dari tangisanmu tidak sia-sia. Tuhan tidak hanya mendengarkan tetapi juga mengabulkan dari setiap doa dan tetesan air mata yang kamu menetes. Kini, aku tidak hanya memiliki pekerjaan, tetapi aku dapat bekerja sebuah institusi di mana menulis dan membaca adalah ruh dalam setiap bergerakan aktivitas yang aku lakukan. Dengan demikian, rasa syukur tak terhingga menjadi hal yang patut aku lakukan, diiringi dengan kerja keras. Air mata yang kamu keluarkan berbuah menjadi air mata harapan.
Isteriku, terimakasih atas kepercayaanmu menerima pinanganku, seorang laki-laki yang tak memiliki pekerjaan dan masa depan yang tak menentu. Kepercayaanmu memilihku adalah langkah besar dan keputusan irasional, yang tidak semua perempuan mau melakukannya. Aku berusaha menjaga amanahmu sebagai suami yang bertanggung jawab, kini dan yang akan datang.

Peneliti PMB-BRIN dan Mahasiswa S3 Kajian Melayu, National University of Singapore
IG w. akmaliah
