Bantulah Selagi Bisa, Karena Kita Tidak Tahu akan Mati dalam Kondisi Miskin atau Kaya
Jakarta Selatan, 2001. Saya mengambil kartu ATM itu dari dompet dengan perasaan ragu. Kala itu saya sudah sekitar setahun bekerja. Lantaran masih lajang dan pada dasarnya tidak boros, setiap bulan penghasilan saya hanya terpakai sekitar setengahnya untuk membayar kos, makan, transportasi, dan lain-lain. Selebihnya ditabung di bank. Berkat kecanggihan teknologi, seluruh hasil jerih payah itu tersimpan aman dalam sehelai kartu ATM.
Malam itu penyakit maag teman kos saya kambuh. Setelah minum obat maag yang banyak dijual di apotek, juga air hangat dicampur gula, sakitnya lumayan berkurang. Namun wajahnya masih pucat dan badannya lemas. Saat ditanya apakah mau diantar ke IGD rumah sakit terdekat, ia menolak. Teman kos yang juga sahabat saya sejak awal kuliah ini tidak mau berobat ke rumah sakit lantaran tidak memiliki cukup uang.
Sahabat saya ini belum lulus kuliah dan belum bekerja, sehingga tidak punya penghasilan sendiri. Ia tidak bisa meminta uang pada orang tuanya karena kondisi perekonomian keluarganya sedang sulit.
Kalau masalahnya hanya soal uang, tentu saya bisa membantu. Kartu ATM saya berisi rupiah yang lumayan. Namun relakah saya memberikan kartu tersebut beserta nomor PIN-nya untuk membiayai seorang sahabat berobat ke rumah sakit? Pasalnya, sederet angka yang tersimpan dalam kartu itu saya kumpulkan dengan susah payah.
Kebahagiaan Duniawi
Setiap hari Senin hingga Sabtu, pagi-pagi sekali saat matahari masih memancarkan sinarnya dengan malu-malu, saya sudah harus berangkat ke tempat kerja. Biasanya saya berjalan kaki atau naik ojek dari kos ke jalan besar, lalu melanjutkan perjalanan dengan bus kota yang penuh sesak dan tidak berpendingin udara. Mau bagaimana lagi, arah yang saya tuju tidak banyak dilalui oleh bus AC yang nyaman. Untunglah pada jam sepagi itu jalanan Jakarta belum terlampau macet. Saya biasanya sudah tiba di tempat kerja dalam waktu sekitar 45 menit.
Pulang kerja, saya kembali ke kos dengan menumpang bus yang sama, menikmati udara panas dan macetnya ibukota. Kadang diperlukan satu hingga dua jam perjalanan untuk pulang ke rumah kos. Semua itu saya jalani saja dengan rasa syukur karena pada dasarnya saya mencintai profesi saya saat itu, yaitu mengajar. Berinteraksi dengan anak-anak sekolah dasar yang jenaka, jujur, dan apa adanya, selalu menimbulkan kebahagiaan tersendiri.
Di samping itu, masih ada kebahagiaan duniawi berupa sederet angka yang setiap bulan masuk ke rekening. Pikir saya, jika rajin menabung, berinvestasi, dan kelak jadi orang kaya, saya akan bisa membantu banyak orang. Pun jika mati dalam kondisi kaya, kekayaan tersebut tidak sia-sia karena bisa saya wariskan kepada anak, keluarga, dan sanak saudara yang masih hidup.
Saya akan menjadi seorang ibu yang mewariskan cukup banyak uang bagi anaknya, hingga si anak bisa mengenyam pendidikan tinggi, bekerja, dan hidup mandiri. Andaikata saya tidak memiliki keturunan, masih ada adik-adik dan calon-calon keponakan saya di masa mendatang. Kekayaan itu juga bisa saya wariskan untuk mereka. Itu dengan catatan kalau saya mati sebagai orang kaya lho ya.
Bagaimana kalau kelak saya mati sebagai orang miskin? Bagaimana jika tidak ada harta duniawi yang bisa saya wariskan untuk keluarga? Masih bisakah saya berguna bagi orang lain?
Masa Depan dan Rahasia Alam Semesta
Lantas sebuah pertanyaan kembali mengusik. Kenapa harus selalu khawatir tentang masa depan? Masa depan selalu menjadi rahasia alam semesta yang berada di luar jangkauan. Kenapa tidak fokus ke masa sekarang saja? Sekarang jelas-jelas ada seorang sahabat yang sakit dan butuh bantuan agar bisa berobat.
Jika saya diam saja dan tidak membantu, barangkali tidak akan ada yang menyalahkan. Toh saya hanya seorang teman, bukan anggota keluarganya. Namun jika sahabat saya tidak kunjung sembuh dan penyakitnya memburuk lantaran tidak diobati dengan tuntas, sayalah yang akan maju paling depan untuk menyalahkan diri sendiri.
“Apa gunanya uang itu kalau hanya tersimpan rapi di bank? Jumlahnya pun belum banyak. Pemiliknya belum bisa dibilang kaya. Dengan kata lain, kaya belum tentu, tapi pelit sudah pasti! Pikirkan itu baik-baik, Kisanak!”
Setelah berpikir sejenak, saya merasa lega. Tekad sudah bulat. Saya berikan kartu ATM itu kepada sahabat saya, lengkap dengan bocoran nomor PIN-nya.
“Besok pagi pergilah berobat ke RS. Kalau dokter menyuruh tes ini-itu, jalani saja. Kalau diberi resep obat, tebus semuanya. Jangan lupa tanyakan secara terperinci, apa saja yang harus diperhatikan agar penyakit maag-mu tidak mudah kambuh lagi.”
Ya, menjadi miskin atau kaya di masa mendatang memang belum dapat dipastikan. Namun yang pasti, malam itu saya bisa tidur dengan nyenyak sekali. Barangkali karena saya merasa sudah membantu sebisanya, sehingga tidak akan ada penyesalan.
Semesta rupanya berbaik hati. Biaya yang dihabiskan oleh teman saya itu tidak terlalu mahal, meski ia berobat di RS terkenal yang pelayanannya amat baik. Saat kartu ATM itu dikembalikan, kekayaan saya hanya berkurang sedikit, dan saya masih lolos dari sebutan pelit, hahaha.
Marathoner, ibu rumah tangga yang suka berlari, menulis, dan menyanyi.

Umar Usman
Testemoni yang memotivasi dan menginspirasi agar hidup bermanfaat untuk sesama. Ajib!
Brigitta
Love it… menginspirasi…. kita hanya saluran rahmat…