Jatuh, Bangkit, dan Terus Berjuang
Rahmania…
Setiap manusia pasti punya keinginan. Keinginan yang diperjuangkan dengan kesungguhan hati adalah impian atau cita-cita.
Impian melibatkan gelombang emosi yang menjadikan seseorang sangat terobsesi mewujudkannya dengan segala daya dan upayanya; sehingga ia akan berjuang sungguh-sungguh.
Impian juga melibatkan harga diri. Seseorang bisa merasa terhina bila tidak mampu mewujudkan impian-impiannya. Berbeda dengan sekedar keinginan, seseorang merasa biasa-biasa saja bila keinginannya tidak terwujud. Terpuruk dan bangkit adalah warna yang melengkapi wajah kehidupan setiap kita.
Terlepas sedalam atau sedangkal apa keterpurukan itu, setiap kita setidaknya pernah merasakan pahit, gagal atau terjengkang dari arena kompetisi hidup yang keras ini.
Keterpurukan bisa datang kapan saja, kepada siapa saja, terduga ataupun tak terduga. Karena memang hidup ini bukan kita yang mengatur, tetapi Dzat Yang Maha Menggenggam; Dialah yang menata segalanya.
Kita hanya bisa merancang, namun membuat keputusan tetap Allah Swt. Kemudian, kita berkeinginan tetapi Dia yang mewujudkan. Kita sebagai makhluk-Nya, hanya menjalani skenario yang Dia jalankan, dengan penuh ketaatan dan ketundukan.
Ada kalanya kita berada di atas, ada kalanya pula kita terlempar ke bawah. Tidak ada kemapanan yang permanen; terus-menerus berada di puncak. Hidup ini berada di antara dua keadaan itu. Terserah Sang Pemilik Kehidupan, di mana dan seperti apa kita akan ditempatkan hari ini atau hari esok.
Apakah semua orang menemukan jalan mudah dalam mewujudkan impian-impiannya?
Kenyataannya tidak! Semua orang pernah mengalami kegagalan dalam meraih mimpinya.
Riwayat orang-orang yang sukses biasanya tidak lepas dengan berbagai macam kegagalan. Thomas Alfa Eddison misalnya, sukses menemukan lampu pijar setelah melakukan percobaan yang ke seribu kali. Ia gagal pada 999 kali percobaan sebelumnya. Setiap gagal dalam percobaannya, ia menyikapinya dengan positif dengan mengatakan: “Saya telah berhasil menemukan metoda yang tidak menghasilkan lampu pijar”.
Ia kemudian mencari cara lain, berulang-ulang. Sampai pada akhirnya menemukan cara yang yang benar. Coba kalau dia berhenti pada percobaan sebelum yang keseribu, pastilah adanya lampu pijar bukan karena penemuannya. Keuletannya untuk bangkit dari setiap kegagalan dan mencobanya hingga berhasil mengantarkannya kepada kesuksesan.
Seharusnyalah kita tidak risau dengan kegagalan, karena semua orang pernah mengalaminya. Tidak mungkin hal-hal yang kita lakukan semuanya berhasil. Kita harus melaluinya sebagai bagian dari proses menuju keberhasilan.
Bukankah kita telah punya pengalaman gagal berkali-kali dan selalu bangkit setelah mengalaminya? Coba Anda ingat, berapa kali semasa kecil, Anda terjatuh saat belajar jalan? Pasti berkali-kali! Tak seorangpun yang langsung bisa berjalan dan berlari.
Mula-mula kita belajar berdiri dengan takut-takut, terjatuh, berdiri lagi, terjatuh lagi, berdiri lagi, melangkah, terjatuh, berdiri dan melangkah lagi, dan lagi, dan lagi….Tak ingat berapa kali kita terjatuh. Yang pasti, meskipun terjatuh kita bangkit lagi dan lakukan lagi.
Kegagalan adalah bagian dari tahapan keberhasilan. Kita harus menerimanya dengan lapang dada dan penuh kesabaran.
Pepatah Jepang mengatakan:
“Jika terjatuh untuk yang ke tujuh kalinya, bangkitlah untuk kesempatan yang ke delapan.”
Artinya kita harus senantiasa bangkit dari setiap kegagalan, tidak boleh lama-lama bersedih dan berhenti berjuang. Hidup ini harus diisi dengan perjuangan demi perjuangan tanpa henti, dan baru boleh berakhir ketika Malaikat Maut datang menjemput kita menuju keharibaan Allah Swt.
Saat mengalami kegagalan, boleh jadi kita sedih, berduka cita, kecewa, dan merasa tak nyaman. Itu manusiawi! Yang penting jangan sampai berlarut-larut. Bila Anda mengalaminya, bersegeralah bangkit dengan mengatasi kesulitan-kesulitan yang menyebabkan kegagalan itu.
Rasulullah Saw mengajarkan doa menghadapi kesulitan dan duka cita dengan sebuah ungkapan yang sangat indah:
“Ya Allah, aku ini adalah hambaMu, anak dari hambaMu laki-laki dan hambaMu perempuan, ubun-ubunku berada dalam tanganMu, berlakulah atasku hukumMu, adillah atasku takdirMu. Aku memohon kepadaMu dengan nama-nama kepunyaanMu, yang Engkau namai dengannya diriMu, atau yang Engkau turunkan di dalam kitabMu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang di antara makhlukMu, atau yang Engkau simpan dalam perbendaharaan gaib di sisiMu. Jadikanlah Al- Quran menjadi kesuburan hatiku, dan cahaya bagi dadaku, dan penyirna segala kesusahan dan kesulitan, dan penghilang dukacita.”
Nabi Muhammad SAW bersabda,
“Tidaklah menimpa kepada seseorang suatu kesusahan, kalau dibacanya doa ini, melainkan akan dihilangkan Allah kesusahannya itu dan digantikan dengan kegembiraan.”( HR Ahmad, AlHakim, Ibnu Hibban )
Doa tersebut merupakan penuntun bangkit dari kesusahan dan kesulitan menuju kegembiraan. Jalannya di awali dengan pengakuan sebagai hamba Allah Swt. Pernyataan tunduk kepada hukum Allah Swt. dan keyakinan akan keadilan takdir-Nya.
Selanjutnya, berkomitmen menjadikan Al-Quran sebagai penyuluh hati penerang jiwa; yang mengarahkan perjalanan hidupnya menghadapi segala rintangan, kesulitan, dan kesusahan hidup.
Kita harus menilai setiap apapun yang ditetapkan Allah untuk kita alami sebagai yang terbaik bagi kita.
Praktiknya, kita harus berani bertanggungjawab terhadap apapun hasil dan akibat dari respon yang kita berikan. Jangan sampai kita suka membuat dalih dan alasan, apalagi menimpakan kesalahan terhadap kegagalan kita dialami kepada orang lain.
Membuat alasan atau dalih sesungguhnya merupakan upaya mencari simpati agar orang lain memaklumi terhadap kegagalan yang dialami.
Yang harus kita ingat, apapun alasannya kegagalan tetaplah kegagalan. Semakin pandai membuat alasan, semakin banyak toleransi untuk tetap gagal dan mengurangkan enerji untuk bangkit. Sedangkan menimpakan kesalahan kepada orang lain atas kegagalannya merupakan sikap pengecut karena tidak berani bertanggung jawab.
Orang yang berpikir positif berani mengambil tanggung jawab atas setiap kegagalan yang dialami dan mengambil pelajaran darinya. Apa yang telah terjadi padanya adalah ketentuan yang harus diterimanya dengan baik dan dirasakan adil adanya. Kegagalan tidak boleh menimbulkan dukacita berlarut-larut, tetapi justru menjadi momentum bangkit lagi.
Di kala terpuruk, ketika ujian melanda, cobaan hidup yang semakin berat,kegagalan dalam hidup,kerugian dalam dunia bisnis, gagal dalam membina sebuah rumah tangga, gagal dalam mencapai sebuah prestasi, gagal dalam perkuliahan dan studi,dan banyak lagi bentuk kegagalan lainya yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Selayaknyalah bagi seorang muslim untuk segera bangkit dari segala keterpurukannya. Bangkit kembali menata ulang hidupnya. Memang setiap proses kebangkitan memerlukan energi dan daya tahan kita untuk melakukannya.
Segera temukan energi untuk bangkit,energi itu bisa kita temukan melalui kisah-kisah orang yang pernah jatuh dan kembali bangkit.Bisa kita temukan dalam nasehat yang tulus dari saudara seiman,bisa kita temukan dengan membaca buku-buku tentang yang dapat membangkitkan motivasi kita…….
Pegiat Sosial, Alumni UMSurabaya
