f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
marah

Menjadi Hamba Terkuat di Mata Allah

Setiap muslim sejati pasti senantiasa ingin mendapatkan kedudukan terbaik di hadapan Allah Swt; serta mengharap rida darinya dan menjadi hamba terkuat di hadapan Allah. Namun, bagaimana caranya seorang muslim untuk menggapai kedudukan yang istimewa tersebut. Apakah dengan mengerjakan shalat, puasa, zakat dan ibadah yang lainnya bisa meninggikan derajat di hadapan Allah, saya rasa belum cukup.

Terkadang banyak sekali amalan di luar sana yang kita sepelekan namun itu berdampak besar pada kehidupan baik untuk diri maupun orang lain dan tanpa kita sadari bahwasannya amalan ini yang diistimewakan oleh Allah Swt.

Lantas siapakah manusia terkuat di hadapan Allah itu. Apakah dia itu  seperti Ade Rai yang memiliki bentuk fisik six pack, Chris John petinju profesional yang diakui oleh dunia, atau Mael Lee yang mendapat julukan dari warganet indonesia sebagai “manusia terkuat di bumi”. Pastinya hal tersebut di atas bukanlah kriteria hamba terkuat di mata allah.

Muslim Kuat yang Sebenarnya

Islam mengajarkan kepada umatnya untuk memiliki sikap sabar dalam menahan amarah. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw: “Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu menahan dirinya saat marah.”. (HR Bukhori no. 5763 dan Muslim no. 2609).

Hadis di atas menerangkan bahwa orang yang selalu menang dalam perkelahian, atau memiliki ahli dalam begulat itu tidak sepenuhnya kuat dari sisi Allah Swt. Orang  yang kuat sebenarnya yaitu orang yang mampu menahan amarahnya pada kondisi apapun. Dengan menahan amarah berarti menahan diri agar tidak berkepanjangan atau terlarut dalam rasa tidak suka atau kesal.

Baca Juga  Sehimpun Basic Manners yang Akan Menunjukan Kualitas Kepribadian Seseorang

Adapun dampak dari menahan rasa marah  yaitu tidak ada permusuhan, terbebasnya rasa dendam antara satu sama lain, terciptanya masyarakat yang tentram. jika kita mampu melakukan hal tersebut maka Allah akan mengangkat derajat dan memasukannya ke dalam surganya allah sebagai hamba Allah yang sabar.

Hikmah kisah Dari Ali Bin Abi Thalib

Ketika umat Islam ditantang duel dengan pembesar musyrikin Quraiys Amr bin Wad al-Amiri. Rasulullah bertanya kepada para sahabat-sahabatnya siapa yang berani melawannya. Semua tidak ada yang berani kecuali Ali bin Abi Thalib sepupu Rasulullah, melihat kala itu Ali masih muda Nabi Saw pun mengulangi pertanyaannya, tapi tetap semua diam, akhirnya majulah Ali menghadapai Amr.

Dalam duel tersebut dengan keberanian Ali akhirnya menyabetnya dengan pedang dan Amr terjatuh tidak berdaya tinggal sekali tebas saja kalahlah Amr. Di saat seperti itu ternyata Amr masih melawan dengan meludahi wajah Ali, dan timbul amarah yang memuncak di hati Ali, karena itu Ali mengurungkan niatnya untuk membunuh Amr dan meninggalkannya.

Beliau menjawab atas kegelisahan sebagian sahabat atas sikapnya : ”Saat dia meludahi wajahku, aku marah. Aku tidak ingin membunuhnya lantaran amarahku. Aku tunggu sampai lenyap kemarahanku dan membunuhnya semata karena Allah SWT”.

Berjuang dan membela Islam itu didasari dengan kuatnya iman, bukan dilandasi nafsu kebencian dan kemarahan. Spirit Ali Bin Abi Thalib ini perlu kita tanamkan pada seluruh umat islam. khususnya para pemuda yang akan menjadi penerus generasi islam dan melanjutkan estafet perjuangan Islam.

Cara Ampuh Mengendalikan Amarah

Agar kita tidak terjerumus ke dalam dosa yang lebih besar, ada beberapa cara mengendalikan emosi yang seperti dalam Al – Qur’an dan Sunnah. Semoga menjadi obat mujarab bagi kita ketika sedang marah :

Baca Juga  Hakikat Kemuliaan Seorang Manusia
1. Diam dan Jaga Ucapan

Biasanya ketika marah banyak sekali kata-kata yang ingin kita keluarkan untuk memuaskan nafsu marah tersebut. Bahkan tanpa kita sadari ucapan yang keluar dari mulut kita mengandung cacian dan makian bahkan bisa mungucapkan kata kata kasar. Oleh karena itu hal yang pertama yang kita lakukakan adalah diam. 

2. Mengubah Posisi Lebih Rendah ( duduk atau berbaring )

Seseorang ketika sedang marah cenderung berada di posisi berdiri atau posisi lebih tinggi. Biasanya dengan berdiri dia dapat melampiaskan amarahmya terhadap seseorang seperti halnya memukul dll. Berbeda ketika berada posisi rendah entah itu dengan cara duduk atau berbaring maka dia akan kesulitan untuk meluapkan marah tersebut sehingga pada akhirnya dia akan melakukan aktifitas yang lain untuk meluapkan marah tersebut seperti contoh tidur.

Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ

“Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur.” (HR. Ahmad 21348, Abu Daud 4782 dan perawinya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).

3.    Berwudhlu dan Berdzikir kepada Allah

Apabila semua yang dilakukan di atas kurang efektif untuk menahan amarah kita yang bergejolak; maka langkah selanjutnya yang kita lakukan adalah dengan cara berwudhu dan berdzikir untuk meminta perlindungan dan pertolongan. Marah merupakan sifat dari syaitan. Setan merupakan makhluk Allah Swt yang diciptakan dari api maka dengan wudhu sifat marah akan terpadamkan sebagaimana hadist menyebutkan :

إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ

Baca Juga  Resolusi 2021, Senantiasa Menjadi Hamba yang Bertaqwa

“Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Pentingnya Mengendalikan Nafsu Amarah

Allah memerintahkan kepada kita sebagai umat yang beriman untuk senantiasa mengendalikan amarah supaya tidak melampaui batas. Banyak orang yang di luar sana terpecah belah, saling bermusuhan, saling menjatuhkan dan aktivitas negatif lainya karena tidak dapat mengendalikan emosi; sehingga berdampak buruk pada diri maupun kehidupan bermasyarakat bahkan ketika ada masalah yang kecil saja kita anggap sebagai sesuatu hal yang besar. Oleh karena itu mari kita belajar dan berusaha menjadi hamba Allah yang bersabar dan mendapatkan kedudukan yang pantas di sisi Allah Swt.

Bagikan
Post a Comment