f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
rumah tangga

Merenungkan Kembali Makna Keseimbangan dalam Rumah Tangga

Saya agak lembek belakangan ini. Pekerjaan rumah yang tiada habisnya, ditambah lagi dengan pekerjaan tambahan lainnya. Beberapa kali saya merasa kewalahan. Ada rasa lelah dan letih menyelimuti saya. Ujung-ujungnya saya jadi merasa berperan lebih besar dalam keberlangsungan rumah tangga.

Puncaknya ketika hari ini suami menyalahkan saya dalam perkara kecil yang saya rasa ada andil beliau dalam kesalahan tersebut. Saya mendiamkan suami. Bukan ingin silent treatment, tapi saya ingin menenangkan hati dan meredamkan amarah saya.

Di tengah-tengah kemarahan, saya membuka media sosial dan menemukan sebuah tulisan yang bagus. “Untuk mencapai 100% dalam pernikahan itu bukan hanya bisa ditempuh dengan 50% dan 50%. Bisa juga dihasilkan dari 70% dan 30%, atau 60% dan 40%.” Heem, entah tulisan siapa tetapi terima kasih atas pandangan yang baru ini.

Konsep Berumah Tangga yang Dianggap Ideal

Beberapa tahun terakhir medsos memang cukup ramai. Tak hanya dengan konten hiburan, banyak juga konten curhatan dan saling bercerita perihal rumah tangga mereka. Bagaimana ketika rumah tangga yang dianggap menjadi sebuah percontohan adalah rumah tangga yang seimbang.

Seimbang di sini dimaknai dengan saling dan harus dianggap sama besar porsinya. Apapun itu harus sama, mulai dari kemampuan mencari finansial sampai dengan hal-hal lain. Contohnya perihal mengurus rumah tangga dan beberapa pekerjaan lain.

Baik, itu adalah bayangan awal pernikahan yang saya idam-idamkan juga. Saya dan suami bisa saling bekerja sama dalam urusan pekerjaan domestik maupun non domestik. Itu adalah keinginan saya untuk saling 50% dalam hubungan rumah tangga.

50% dalam benak saya sehingga tidak ada rasa saling hutang karena saling seimbang dan sama. Tidak ada keinginan saling hujat dan menyalahkan atas apa yang telah disumbangkan dalam perkara rumah tangga. Sayangnya, kadang bukan itu mau Allah.

Baca Juga  Urgensi Berilmu Sebelum Berumah Tangga

Adanya penilaian mengenai persentase keterlibatan suami maupun istri dalam rumah tangga itu perkara abstrak. Tidak jelas. Tidak ada ukuran pasti dan mutlak dari Allah mengenai apa yang dikehendaki dalam rumah tangga tersebut.

Misal dalam suatu rumah seorang istri mengalami masalah kesehatan sehingga tidak bisa menyelesaikan tugas. Maka untuk menopang keberlangsungan rumah tangga itu, suami mengambil alih semuanya yang bisa dia lakukan. Lalu, apakah seimbang? Jika kita harus menggunakan logika, pasti tidak akan bisa seimbang. Agak berat sebelah.

Perumpamaan ini juga berlaku bukan hanya perihal pembagian tugas dalam rumah tangga. Namun, juga mengenai pandangan mengenai keimanan istri atau suami. Adanya sebuah prasangka populer bahwa, keadaan keimanan dalam diri istri atau suami lurus sesuai dengan keadaan pasangan. Maka jangan heran ada pernyataan populer di kalangan perempuan. “Ya, lihat-lihat dong suaminya, kalau mau istrinya salehah.”

Padahal tidak bisa ditakar dengan seperti itu. Allah sendiri mengenang salah seorang istri terbaik di muka bumi Asiyah. Asiyah menjadi sebuah contoh dari seimbang dalam pernikahan itu tidak bisa disusun dalam hitungan 50% dan 50%.

Tentu kita mengetahui dengan jelas, suami dari Asiyah adalah Firaun yang kalau dinilai dari kacamata iman, maka persentase keimanannya adalah 0%. Berbeda dengan Asiyah yang memiliki keimanan 100% sehingga tiada ragu bagi beliau untuk bertahan mengesakan Allah meskipun dihadapkan dengan siksaan dari suaminya.

Inilah sebuah perenungan yang harus dipikirkan secara mendalam oleh semua muslimah. Perintah mengenai ketaatan kepada suami adalah hal yang mutlak. Dan meskipun ada dalam diri kita masing-masing mungkin perasaan kurang berkenan mengenai persentase kekuasaan dalam rumah tangga.

Bahkan dalam sebuah pernikahan, permulaan dimulai dengan ijab qabul dari pihak laki-laki. Lalu misal ada perceraian, cerai ini juga yang dijadikan bahan hanya suara dari suami. Sekali berkata talak atau cerai maka jatuh cerai pada perempuan. Berbanding terbalik dengan perempuan yang mau ngomong berapa ribu kalipun tiada guna.

Baca Juga  Previlege Menjadi Ibu Rumah Tangga

Jujur, di awal saya juga orang yang memang sedikit banyak mendukung pernyataan mengenai mau saleh, lihat dulu suaminya. Ya dong, biar seimbang kan ya. Jadi 50% dan 50%. Namun, jika kita pikirkan kembali bagaimana bisa kita menjadi menurunkan keimanan kita hanya karena kita ingin seimbang dengan suami? Misal suami suka judol, apakah kita harus ikut judol juga? Apakah nggak semakin rusak rumah tangga dan diri kita?

Maka dalam hal ini marilah kita tidak lagi menggunakan presentase 50% dan 50%. Karena selain 100% tidak terdiri dari 50% dan 50%. Persentase yang kita nilai belum tentu sesuai dengan penilaian dari Allah Swt.

Begini logikanya, misal di rumah kita sudah mengurus rumah dan anak lalu kita juga memanfaatkan waktu senggang itu untuk bekerja sampingan. Jeleknya semakin terlihat banyak pekerjaan kita, kita kadang terpeleset “jebakan” menyalahkan suami. Suami yang bekerja siang full kita anggap kurang memiliki kontribusi dalam rumah tangga hanya karena tidak mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Ya, mencapai rumah tangga yang seimbang itu rumit. Hal ini karena seyogyanya keseimbangan itu bukan didasarkan pada keumuman sosial. Keseimbangan itu harus didasarkan pada keimanan pada diri kita. Sehingga, kita dalam menghadapi apapun, termasuk dengan perasaan kok saya yang berkontribusi lebih dalam rumah tangga dibanding suami menjadi lenyap.

Lenyapnya perasaan ini menjadikan kita lebih legowo dan ikhlas tentang apa yang sudah kita kerjakan demi keberlangsungan rumah tangga. Rumah tangga kita memang tidak ideal dan seimbang dimata manusia. Namun, siapa tahu dimata Allah, rumah tangga kita sudah berjalan sesuai kehendaknya. Dan dengan menaiki kereta rumah tangga berbasis rel keikhlasan dan keimanan kepada Allah. Ada surga menunggu sebagai tujuan akhir kita turun.

Bagikan
Comments
  • Rins

    Penuliss kebanggaan 🔥🔥

    Juli 22, 2024
Post a Comment