f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Herd Immunity

Apa Itu Herd Immunity?

Oleh : dr. Hilmy Dzakiyyah W.*

Kondisi dunia saat ini, yang mana terjadi pandemi Covid-19, masih menjadi topik hangat untuk ditelaah. Banyak sekali kita perhatikan pembicaraan berbagai macam solusi yang ditawarkan untuk mengatasi pandemi ini, salah satunya herd immunity. Sebenarnya apa herd immunity ini? Dan bagaimana hubungan dengan pandemi Covid-19?

Menurut artikel dari Kementerian Kesehatan RI, herd immunity merupakan situasi di mana sebagian besar masyarakat terlindungi/kebal terhadap penyakit tertentu sehingga menimbulkan dampak tidak langsung (indirect effect) yaitu turut terlindunginya kelompok masyarakat yang bukan merupakan sasaran imunisasi dari penyakit yang bersangkutan. 

Herd immunity ini berhubungan dengan imunisasi atau pemberian vaksin. Jika sekelompok orang diberikan vaksin untuk mencegah terjadinya suatu penyakit, maka kelompok tersebut akan terlindungi atau kebal karena imunisasi tersebut, sehingga secara tidak langsung kelompok tersebut tidak dapat menularkan penyakit dan penyebaran penyakit menjadi rendah. Hasil akhir jika imunisasi ini diterapkan pada skala besar, diharapkan kelompok lainnya (yang tidak diimunisasi) juga akan terlindungi dari penyakit tersebut. Herd immunity ini diharapkan menjadi salah satu strategi untuk mengatasi Covid-19 ini. Namun hingga saat ini vaksin untuk Covid-19 masih dalam tahap penelitian. 

Disebutkan pada artikel epidemiologi oleh Kwok KO, dkk. jika konsep sistem herd immunity dengan pemberian vaksin tidak dapat dilakukan, maka dapat dilakukan sistem ‘naturally induce‘ atau mendapatkan penyakit secara alami (akibat penularan dari orang lain) hingga memunculkan sistem kekebalan tubuh. Jika banyak kelompok orang yang kebal terhadap covid-19 ini, diharapkan tidak dapat menularkan ke orang lain dalam jumlah besar. Estimasi perhitungan epidemiologi yang dilakukan Kwok KO, dkk ini menyebutkan, dibutuhkan kelompok orang kebal terhadap Covid-19 setidaknya ⅔ dari populasi agar herd immunity dapat terjadi. Namun angka kematian kasus Covid-19 ini masih tergolong tinggi, sehingga konsep herd immunity ini masih sulit untuk diterapkan. 

Baca Juga  Menunggui Ibu di Ruang Isolasi

Benarkah herd immunity dapat diterapkan di Indonesia?

Berdasar tulisan dr Alim di IBTimes, pada prakteknya, banyak penyakit infeksi lain yang sudah lebih dulu datang sebelum covid belum ada yang terbentuk herd immunity kecuali smallpox yang didapat dari vaksinasi.

Belum lagi, Selama proses menginfeksi 145 juta itu, dengan angka kematian rata-rata di Indonesia ini 6% maka akan berapa banyak yang meninggal? 8 juta orang? Katakanlah angka kematiannya 3%, berarti 4 juta? Okelah kalau mau 1%, berarti 1 koma sekian juta?

Melihat dari variasi pasiennya (tua/muda, berpenyakit lain/tidak) dimana kita belum tahu secara lebih pasti siapa yang bakal selamat dan siapa bakal jadi martir, apakah mengandalkan herd immunity yang seakan mengandalkan mekanisme survival of the fittest ini bisa diterima secara moral?

Bicara soal herd immunity ini juga bicara soal kapasitas layanan kesehatan. Kalau mengandalkan herd immunity non-vaksin tadi, berapa yang akan sakit dan memenuhi rumah sakit yang ada, khususnya ICU-nya, dalam satu waktu? Apakah kapasitas rumah sakit kita cukup? Apakah kapabilitas rumah sakit dan tenaga medis kita memadahi? Ini juga masih misteri. Dan idealnya, jangan sampai fasilitas layanan kesehatan kita overloaded.  

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menentang kebijakan kekebalan kelompok atau herd immunity yang diterapkan sejumlah negara untuk mengatasi pandemi Covid-19. Direktur Eksekutif WHO untuk Keadaan Darurat Kesehatan, Michael Ryan mengatakan dalam konferensi press WHO mengenai pandemi Covid-19. Lembaganya mengecam penerapan konsep tersebut untuk menangani wabah dengan mengorbankan nyawa manusia. Ryan juga menambahkan, penerapan konsep herd immunity sangat berbahaya, terlebih ketika vaksin Covid-19 belum tersedia. WHO menyatakan, sebuah hasil penelitian menunjukan bahwa orang yang memiliki antibodi atau kekebalan Covid-19 jauh lebih sedikit dari yang diharapkan. Selain mengarah pada kegagalan, herd immunity juga berbahaya untuk diterapkan.

Baca Juga  Geliat Ekonomi Masyarakat Sektor UMKM di Tengah Pandemi Covid-19 (2)

Banyak cara yang telah diupayakan dan diterapkan untuk mengatasi pandemi Covid-19 ini. Termasuk melakukan social distancing, physical distancing, karantina wilayah dan PSBB. Himbauan ulama untuk tidak salat berjamaah di masjid dan salat Id di rumah saja juga merupakan salah satu upaya memutus rantai penyebaran Covid-19 ini. Tidak ada zona yang aman, semua harus waspada dan mencegah sedini mungkin agar di lingkungan kita terhindar dari wabah Covid-19 ini. Semoga pandemi ini segera berlalu dan jangan lelah untuk terus ber-ikhtiar, karena Allah selalu melindungi hamba Nya yang berusaha. 

*) dr. Hilmy Dzakiyyah W.; ibu satu anak dan salah satu founder Al-Zahrawi FK Universitas Muhammadiyah Malang

Sumber :

Bagikan
Post a Comment