Menyukaimu Diam-Diam
Oleh : Tati Sedfar
Awal perjumpaan yang tak terduga Kala itu, aku memintanya dengan cuma-cuma belaka Di hari biasa, dan aktivitas lainnya, aku mengawali koma Tiba di perjumpaan pertama, aku melihatnya berbeda Satu waktu yang berkesan di sepanjang waktu
Tidak percaya dijumpai olehmu, bahkan aku terus-terus memastikan Bukan sebuah harapan dan kesengajaan, tapi kebetulan-kebetulan Mungkin garis kehidupan, tentang perjumpaan, tentang pertemuan Ketidakmungkinan yang menyisakan kesan Ketidakmungkinan yang membuatku merasakan
Bagi aku yang biasa, aku mensyukuri saja Bagi aku yang tak baik, aku semampuku saja Tapi bukan itu rumusnya, yang kutahu kita harus memaksimalkan Bukan untuk memiliki, tapi belajar mencintai Mencintai dari menginspirasi
Ya, mencintai memang proses tiada henti Mencinta itu awal mula untuk hati-hati Untuk menjaga kata, laku, dan diri Untuk menjaga sang pemilik hati Aku menyukai pelataranmu, menjulang tapi menepi Seolah melambai tapi tidak diam Kamu yang berbisik di kala malam, dan menyisakan kekakuan Kamu yang menyejukan Tapi menyeimbangkan, membentuk kehati-hatian.
Kataku, kamu belum selesai, tapi kamu lumbung kehidupan, Kataku, kamu tidak seperti lainnya. Kamu, satu dari kesekian Membuat yang dicinta istimewa Membuat cinta dengan makna
Kamu menginspirasiku untuk berhati-hati, untuk terus berbagi Satu kata spiritmu, mengubah daya pikirku Kumandangmu yang tak menggebu, kerap menyisa rindu Tiba-tiba saja, kamu selalu hadir menjadi inspirasiku Dalam diam, dalam doa, dalam semu, dalam kewujudan.
Nyatanya, aku tak bisa berhenti menyukaimu. Ramadanku.
*Tati Sedfar, redaksi rahma.id, aktivis mahasiswa

Rahmania, Dosen Administrasi Publik UMJakarta
