f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Perangi Corona dengan Welas Asih

Oleh : Hindun Niyatus Sa’adah*

Hari ini, tepat sebulan saya kembali ke Indonesia setelah mengikuti sebuah program short course di Thailand. Saya yang seharusnya kembali bulan April dipercepat untuk segera kembali ke Indonesia pada bulan maret lalu. Ini artinya saya tidak mengikuti program sampai selesai akibat munculnya virus corona.

Sebelum saya diputuskan untuk pulang oleh Lembaga yang mendelegasikan saya dalam mengikuti program ini, saya katakan kepada teman-teman bahwa fisik dan psikologi saya merasa aman dan terlindungi berada di Thailand. Saya ragu untuk kembali dengan cepat ke Indonesia.

Singkat cerita, dengan keputusan banyak pihak serta pemikiran yang matang akhirnya saya kembali ke Indonesia pada akhir Maret. Perlu di ingat, saya kembali ke Indonesia dengan cepat karena virus corona. Pada bulan Maret lalu situasi di Indonesia memang sedang geger dan gencar-gencarnya membahas dan memberitakan segala hal tentang corona, yang mana pada bulan itu tercatat 10 orang telah meninggal dunia akibat virus corona ini.

Setelah diputuskan bahwa saya harus segera kembali ke Indonesia, saya berdiskusi dengan orang tua saya untuk melakukan Rapid test. Saya meminta kepada orang tua yang menjemput lalu mengantarkan saya ke Rumah Sakit kemudian melakukan test dan siap untuk dikarantina.

Sebagai warga yang ingin patuh kepada Pemerintah dan juga memikirkan banyak orang, Orangtua saya menelfon Kepala Desa menceritakan kronologi serta melaporkan kondisi saya yang sehat dengan suhu tubuh 35,4° Celsius. Kemudian salah satu perangkat Desa menyarankan untuk segara pulang ke rumah agar dilakukan pemeriksaan oleh petugas Kesehatan di Desa saja. Saya yang sebelumnya pasrah menjadi lebih bersyukur lega dan membawa mood bahagia, tentu saja syukur Alhamdulillah saya ucapkan tanpa henti sepanjang bandara menuju rumah.

Saya memang kembali ke rumah, namun saya memiliki kesadaran untuk tetap melakukan karantina. Saya melakukan karantina selama 2 Minggu lebih, Apakah Bosan? Tentu!! Psikologi saya berubah 180° hanya dalam beberapa jam setelah pulang dari Thailand.

Baca Juga  Memeluk Mimpi (3): Pecah Telur

Saya menghabiskan waktu di kamar dengan membaca beberapa buku yang pernah saya bawa ke rumah, (kebetulan buku saya semua ada di Kost), sesekali keluar 15 menit hanya untuk berjemur, chat WA dengan teman dan kerabat, baca surat dari teman-teman, lihat foto dan video lama, juga sesekali lihat kerjaan. Apakah dapat mengusir bosan? Sedikit. Boro-boro bisa berbagi cerita pengalaman selama mengikuti program dan oleh-oleh yang sudah direncanakan sebelum adanya Virus Corona.

Selama karantina, saya memang benar-benar merasa tinggal sendiri, sepi, panik, amarah, bingung, emosi, putus asa. Padahal saya tinggal di ruang atas, saya mendengar suara Bapak, Ibu, Adik-adik saya sesekali keluarga besar dan tetangga yang main ke rumah, ya hanya mendengar, tidak pernah berkumpul apalagi tidur bareng di depan TV.

Jika saya butuh sesuatu, saya memanggil Ibu dan salah satu dari anggota keluarga mengantarkannya itupun hanya sampai tangga tanpa bercakap-cakap. Dan karena saya ini tinggal di Desa kecil dan tentu saja susah mendapatkan sinyal internet dan mengakibatkan saya tidak bisa menonton tv, film, youtube atau main sosmed yang dapat menghibur diri sendiri. Ditambah terbatasnya buku. Bisa dibayangkan betapa bosannya hidup saya waktu itu hanya berada di sekotak kamar kecil tanpa fasilitas.

Perasaan stres, bosan, sepi lagi-lagi menghampiri hidup saya. Saya yang biasanya membaca buku dan dapat berimajinasi dengan bebasnya menjadi susah dan tidak dapat mencerna atau sekedar mengimajinasikan dari apa yang sudah saya baca. Pikiran buntu, kebingungan dan ketakutan saya rasakan saat itu. Tidak tau mengapa. Saya tidak pernah merasakan sesepi ini.

Suatu hari buku yang saya bawa ke rumah habis (saya tidak membawa banyak buku hard file ataupun soft file karena tidak ada persiapan) kemudian Adik dan Bapak saya mengantarkan buku ke atas tapi ternyata Genre kita berbeda, bukan terhibur tapi kok malah tambah pusing akhirnya saya putuskan untuk tidak melanjutkan membaca buku itu, saya merasa aneh pada diri saya sendiri, sebodoh dan selemah inikah aku? Membaca buku dengan genre yang berbeda membuat pusing kepala? Pertanyaan itu muncul lumayan lama di kepala.

Baca Juga  Mendidik dengan Teladan

Pada hari ke 8 karantina, saya memutuskan keluar rumah untuk berjemur, saya memutuskan berjemur lebih dari 15 Menit, selain untuk mencari sinyal (kadangkala sinyal memang banyak di luar rumah) tujuan keluar rumah adalah untuk mengamati keadaan sekitar, ingin menyapa dan berinteraksi dengan tetangga, saya benar-benar merasa bosan berada di dalam kamar terus-terusan terlebih saya ini seorang yang senang bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang.

Hingga suatu hari saya berfikir dan meyakini dengan sebenar-benarnya bahwasannya sebagai makhluk sosial kita saling bergantung dan saling membutuhkan satu sama lain, lahir dari saling kebergantungan kita yang mendalam ini kita perlu dengan segera menjadikan dan mengulurkan welas asih sebagai sebuah kekuatan yang jelas dan dinamis ditengah pandemi virus corona saat ini.

Saya meyakini welas asih yang diberikan oleh seseorang mendorong kita untuk bekerja tanpa lelah menghapuskan penderitaan termasuk kepanikan, amarah, emosi, bingung dan putus asa. Selain itu welas asih atau Rahman yang telah diajarkan dan bersemanyam di dalam jantung seluruh agama, etika dan tradisi dapat memperkuat imunitas diri dalam melawan virus corona ini, tentu saja dengan dilengkapi usaha dan do’a.

Kesepian saya dalam ruang karantina waktu itu mengingatkan saya pada Armstrong, Benar memang kata Armstrong, Kita ini sebagai manusia dibandingkan dengan spesies-spesies lainnya, kita ini bergantung secara lebih radikal pada cinta. Otak kita ini telah berevolusi untuk peduli dan membutuhkan kepedulian sedemikian rupa sehingga mereka menjadi lemah jika kepedulian ini tak ada.

Saya membayangkan apa saja di tengah kesepian saya alami kala itu, sebenarnya tidak sepi-sepi amat toh saya punya banyak teman yang masih berkomunikasi dengan saya walaupun secara online. Toh saya juga masih berkomunikasi dengan keluarga. Namun rasa panik, amarah, bingung tadi menjadikan saya lemah dan seakan butuh kasih sayang. Haha

Baca Juga  Surat dari Nia

Saya juga akhirnya sadar wabah virus corona yang mengerikan ini telah menunjukkan bahwa apa yang terjadi pada satu orang dapat segera mempengaruhi setiap makhluk lainnya. Artinya wabah ini menunjukkan pada kita bahwasannya virus corona ini tanggung jawab bersama. Ya, semua harus bertanggung jawab dimana kita bisa, mengulurkan tangan kepada orang lain yang kekurangan makan, rumah, kebutuhan, sumber daya atau keluarga untuk melindunginya termasuk juga welas asih atau kasih sayang dan perhatian kepada semua.

Dalam masa ketakutan yang luar biasa ini penting bagi kita untuk selalu memperlakukan orang lain sebagaimana kita sendiri ingin diperlakukan, saling ber-welas asih kepada semua sehingga dapat menguatkan hati, menumbuhkan stamina dan simpati bagi orang lain, wels asih juga dapat sekaligus memuaskan dan memberi kekuatan untuk tidak mementingkan diri sendiri, yang tak kalah penting di situasi virus corona sekarang ini kita harus tetap semangat dalam menghadapi wabah dan tidak kehilangan harapan untuk sebuah mimpi di masa depan.

*) Hindun Niyatus Sa’adah , Pegiat pusat studi budaya dan perubahan sosial Universitas Muhammadiyah Surakarta

Bagikan
Post a Comment