f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
JAhulu

Lebih Dekat dengan Masyarakat Pesisir

Oleh: Vella Rohmayani*

Pagi itu langit masih terlihat begitu gelap, semilir angin laut begitu dingin terasa, matahari pun masih belum menampakkan cahayanya, ternyata saat itu waktu masih menunjukkan pukul 01.30 WIB.

Pak rohim begitu sapaan akrabnya, merupakan salah seorang nelayan yang berada di desa paciran.  Terlihat ia sedang bergegas menuju laut dengan menenteng dua buah ember, di mana satu ember berisikan bekal makanan dan air minum, sedangkan ember lainnya berisikan ikan yang akan ia gunakan sebagai umpan.

Ia berjalan dengan cepat menuju laut bersama dengan seorang rekan kerjanya yang juga sedang menenteng dirigen berisi bensin (bahan bakar mesin). Tak terlihat kantuk sedikitpun di raut wajahnya, seolah sudah tak sabar ingin segera menjemput rezeki di pagi hari. Bahkan udara dingin di pagi itu seolah tidak ia rasakan, mereka memang sudah terbiasa menjalani rutinitas seperti itu, dipagi buta harus sudah bangun dan mulai untuk bekerja. 

Nelayan paciran merupakan kelompok nelayan harian, dimana ia akan pergi melaut pada saat pagi buta sekitar pukul 01.00 – 03.00 WIB (bergantung pada kondisi pasang surut air laut) dan akan kembali pada siang atau sore harinya, bergantung pada seberapa jauh jarak yang harus mereka tempuh untuk mendapatkan hasil tangkapannya.

Sehingga saat bulan ramadan seperti saat ini, nelayan akan melakukan sahur di tengah laut mengingat sholat subuh baru dilaksanakan pukul 04.00 WIB lebih.

Nelayan paciran biasanya melaut dengan jumlah dua orang dalam satu perahu, karena memang perahu yang mereka gunakan berukuran tidak terlalu besar. Nelayan paciran menangkap ikan menggunakan bubu lipat yang merupakan alat tangkap ramah lingkungan dan biasanya mereka akan meninggalkan alat tangkap tersebut di tengah laut dengan cara memberi tanda atau biasa disebut umbal, kemudian mereka akan kembali lagi dan mengambilnya esok hari.

Baca Juga  Memahami Budaya dalam Kerangka Klasik dan Kontemporer

Pekerjaan yang mereka lakukan memang hanya mendapatkan hasil harian, jadi kalau tidak pergi melaut berarti tidak akan mendapatkan penghasilan di hari itu.

Rajungan merupakan salah satu komoditi andalan yg berada di desa paciran, karena memang jumlahnya yang melimpah, walaupun terus menerus dilakukan penangkapan setiap harinya.

Dari hasil penelitian yang telah saya lakukan ternyata rajungan memang mengalami musim pemijahan sepanjang tahun, jadi tak heran jika keberadaannya di alam dapat terjaga dengan baik.

Mengingat nelayan disana juga melakukan penangkapan rajungan dengan menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan, hal itu tidak merusak ekosistem laut yang merupakan habitat rajungan.

Setidaknya mereka tahu bahwa menjaga lingkungan sangat penting untuk dilakukan, karena jika ekosistem laut rusak, maka mereka akan kesusahan mendapatkan penghasilan.

Kadang, nelayan juga tidak mendapatkan hasil tangkapan dari melaut, bahkan terkadang mereka malah mengalami kerugian, karena hasil yang mereka peroleh tidak dapat menutupi kebutuhan untuk modal melaut yang harus mereka keluarkan, seperti kebutuhan untuk membeli ikan yang dijadikan umpan, serta kebutuhan untuk membeli bensin sebagai bahan bakar mesin yang digunakan untuk melaut.

Tapi melaut sudah menjadi tuntutan hidup, jika tidak melaut tidak dapat penghasilan, jika tidak dapat penghasilan maka tidak bisa membeli bahan pokok, dan akhirnya tidak bisa makan. Jadi mau tidak mau mereka tetap harus melaut.

Daripada harus berdiam diri di rumah tanpa melakukan apa-apa, mereka lebih memilih melaut dengan harapan akan mendapat ikan melimpah agar bisa membahagiakan keluarga di rumah.

Istri para nelayan di desa paciran biasanya akan menunggu suaminya di rumah kemudian mereka akan mengolah rajungan hasil tangkapan tersebut dengan cara dikupas (memisahkan rajungan dari cangkangnya atau mengambil daging rajungan) yang nantinya akan dijual ke pengepul rajungan dalam bentuk daging.

Baca Juga  Kota Macam Apa Ini?

Biasanya daging rajungan tersebut kemudian akan disortir dan dikemas dalam bentuk kalengan yang selanjutnya akan diekspor ke luar negeri.

Tidak dapat terelakkan bagaimana kesedihan hati para nelayan, jika tiba-tiba harga rajungan mengalami penurunan. Karena selain harus memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka juga harus menyisihkan penghasilannya untuk membayar biaya pendidikan anaknya, bukan hanya itu saja masyarakat nelayan di desa paciran ini juga terkenal dengan sifat religiusnya, dimana pada setiap harinya mereka juga biasanya akan menyisihkan sedikit penghasilan dari hasil tangkapannya untuk disumbangkan, biasanya sumbangan tersebut diberikan dalam bentuk rajungan.

Uang hasil swadaya masyarakat nelayan pesisir paciran tersebut biasanya akan digunakan untuk pembangunan masjid atau untuk menyelenggarakan kegiatan pengajian akbar.

Bekerja menjadi seorang nelayan memang tidaklah mudah, dimana mereka harus berjuang di tengah laut melawan ombak dan teriknya sinar matahari, apalagi ketika terjadi hujan lebat maupun angin kencang.

Bayangkan saja ditengah laut mereka tidak dapat berlindung dari hujan, angin kencang dan juga dari panasnya matahari yg menyengat, ditambah lagi dengan badan yang basah kuyup terkena air laut, tentu membuat kulit terasa seperti terbakar matahari ketika cuaca sedang panas-panasnya.

Namun hal tersebut tidak sedikitpun menyurutkan niat mereka untuk pergi melaut. Laut memang merupakan sumber kehidupan dan penghasilan bagi mereka, laut sudah menjadi rumah kedua bagi para nelayan, karena tidak dapat dipungkiri hidup meraka bergantung dengan hasil laut yang mereka peroleh.

Selain religius masyarakat pesisir paciran juga sangat menjunjung nilai kekeluargaan dan juga gotong royong, mereka memiliki semboyan “Rukun seguyupan”.

Nelayan disana membentuk kelompok yang dinamai dengan paguyupan nelayan. Paguyupan tersebut sering melalukan perkumpulan yang biasanya rutin dilaksanakan tiga bulan sekali, dimana kegitan tersebut bertempat di rumah ketua paguyupan nelayan yang mereka dipilih dari hasil musyawarah bersama.

Baca Juga  103 Tahun ‘Aisyiyah: Membangun Budaya Baru Indonesia

Biasanya dalam acara tersebut ketua paguyupan akan mengumumkan jumlah uang yang sudah terkumpul dari hasil sumbangan swadaya nelayan, serta merembukkan  tentang agenda apa yang akan dilakukan dari hasil sumbangan tersebut, dan acara tersebut biasanya akan diakhiri dengan kegiatan makan-makan bersama yang bertujuan  untuk menjalin rasa keakraban dan persaudaraan diantara mereka.

Berbeda dengan masyarakat pesisir selatan Laut Jawa, masyarakat nelayan desa paciran yang merupakan masyarakat pesisir utara laut jawa ini sudah sangat lama tidak mempercayai mitos dan sudah sangat lama meninggalkan kegiatan sedekah bumi seperti mengirim sesajen kelaut sebagai bentuk rasa syukur, dan seterusnya.

Walaupun masyarakat nelayan desa paciran rata-rata memiliki latar belakang pendidikan yang rendah, namun mereka merupakan masyarakat yang sangat realistis. Nilai religius memang sudah ditanamkan sejak dini disana, dimana diketahui bahwa Paciran merupakan desa yang terkenal religius yang memiliki banyak pondok pesantren dan juga masjid.

Sebagaian besar masyarakat nelayan di pesisir Paciran juga banyak yang sudah berhasil menyekolahkan anak-anaknya sampai kejenjang perguruan tinggi. Satu hal yang menjadi harapan besar bagi mereka adalah bahwa mereka sangat berharap anak-anak atau generasi penerusnya akan memiliki nasib yang lebih baik dari pada orang tuanya.

*Penulis adalah ibu dari 2 anak dan Dosen di Universitas Muhammadiyah Surabaya.

Bagikan
Post a Comment