f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
penghuni surga

Menebar Kebahagiaan sebagai Kriteria Penghuni Surga

Tulisan ini berangkat dari pesan atau nasihat-nasihat guru penulis ketika masih duduk di bangku SMA. Sosok pribadi beliau yang bijaksana dan bersahaja, menggerakkan hati ini untuk mengabadikan sedikit nasihat yang pernah beliau sampaikan.

Beliau adalah ustaz Suyanta, pimpinan pondok pesantren yatim dan duafa Madania, kami terbiasa menyapanya Abi. Pesan Abi yang sangat berkesan di hati penulis adalah ketika berbicara tentang menebarkan kebahagiaan sebagai kriteria penghuni surga.

Abi mungkin bukan seorang ahli tafsir. Beliau juga bukan lulusan pondok pesantren sebagaimana kiai atau ustaz pada umumnya. Namun pembacaannya terhadap teks suci sangat dekat dengan realita.

Beliau sering berpesan kepada santrinya; agar mengaitkan pengetahuannya dengan  fenomena sekitar. Ini mungkin agak mirip dengan maksud prof. Amin Abdullah dalam bukunya multidisiplin, interdisiplin, dan transdisplin sebagai tafsir kontekstual-progresif.

***

Suatu ketika, setelah matahari tenggelam di ufuk barat, seusai umat muslim zikir salat Magrib, seperti biasa, kami melanjutkan kajian surah Al-Baqarah.

Saat memasuki ayat ke-25, “Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,” tiba-tiba Abi melontarkan pertanyaan kepada kami, apa kriteria penduduk surga?

Kami semua terdiam sejenak dan menerka-nerka jawaban yang paling cocok. Sebagian menjawab; penduduk surga adalah orang beriman, melakukan amal saleh dan menjauhi segala larangan Allah Swt.

Ada juga yang menjawab, penduduk surga ialah yang amal kebaikannya lebih unggul dari amal keburukannya. Namun, ternyata bukan itu yang Abi maksud.

Abi kemudian menjelaskan, orang yang masuk surga karena amal baik dan jatuh ke dalam api neraka karena amal buruk, sebenarnya masih kemungkinan, sebab kisah seorang perempuan tuna susila yang memberi minum seekor anjing menjadi bukti nyata betapa maha kasih-Nya Allah Swt.

Baca Juga  Tuhan, Ampuni Hamba

Sebaliknya ada Al-Qamah seorang ahli ibadah, tetapi dalam hidupnya pernah melakukan suatu kesalahan hingga mengakibatkan ia hampir terancam siksa neraka.

Kriteria Penghuni Surga

Kemudian berlanjut, Abi menjelaskan kriteria penghuni surga; yaitu membahagiakan sesama.

Menurut beliau, penghuni surga itu adalah orang yang bahagia. Kenapa ia bahagia? Karena, Allah Swt membahagiakannya. Kenapa Allah Swt membahagiakannya? Karena di dunia ia senantiasa membahagiakan hamba-Nya.

Selanjutnya, siapakah penghuni neraka?

Penghuni neraka adalah orang yang sengsara, kenapa sengsara? Karena Allah Swt telah menyengsarakannya. Kenapa Allah Swt menyengsarakannya? Karena di dunia ia tidak peduli terhadap kesengsaraan hamba-Nya.

Membahagiakan hamba atau sesama pada dasarnya cukuplah sederhana, namun harus seperti Abi, sebab beliau memadukan konsep kesalehan individu dengan konsep kesalehan sosial.

Ibadah ritual keagamaan harus mendatangkan dampak sosial yang ramah dan menyejukkan. Ibarat salat, ia memang ibadah individu tapi dampaknya mencegah perbuatan keji dan mungkar di lingkungan sosial.

Ini mengingatkan juga kepada pesan Kh. Ahmad Dahlan yang sering mengulang-ulang kandungan surah Al-Ma’un kepada muridnya yang kemudian kita kenal dengan teologi Al-Ma’un. Kebetulan setiap ngaji bersama, Abi sering menceritakan kisah tersebut.

“Kita yang siang dan malam beribadah tanpa henti, berpuasa, zakat bahkan haji berulang kali, jangan-jangan masih dituduh pendusta agama oleh surah Al-Ma’un ini,” kata Abi. Sebab kita tidak peduli dengan penderitaan anak yatim dan tidak menolong orang miskin, lanjutnya. Berawal dari sana, Abi bersama istri setianya, Umi Husnur, mendidik dan menghidupi sekitar ratusan anak yatim dan kaum duafa.

Perhatian Abi terhadap anak yatim, kaum lansia, difabel, dan balita menjadi spirit dakwah sosial yang harus tetap menggaung.

Membahagiakan Sesama

Untuk tetap eksis, Abi mendidik kami untuk mandiri dengan melatih softskill agar mampu bertahan dalam derasnya arus kehidupan. Abi seolah mengisyaratkan bahwa, “Hidup mandiri dan teguh pendirianlah, sebab aku tidak bisa selamanya mendampingi.”

Baca Juga  Harapan

Di bagian ini, saya teringat kisah nabi Muhammad Saw saat bertemu dengan seorang anak yatim yang sedang bersimpuh dan bersedih di hari raya Idulfitri.

Nabi Muhammad Saw bertanya: mengapa kamu bersedih?

Ia menjawab, “Bapakku wafat dalam sebuah peperangan bersama engkau ya Rasulullah, lalu Ibuku menikah dengan orang lain, mereka mengambil rumahku dan memakan hartaku, jadilah aku seperti yang engkau lihat, telanjang, kelaparan, sedih, dan hina. Saat tiba di hari Id, aku melihat teman sebayaku bermain, aku jadi bertambah sedih, lalu aku menangis.”

Nabi lalu menghibur anak yatim tersebut dengan berkata: “Apakah kamu mau saya jadi bapakmu, ‘Aisyah jadi Ibumu, Fatimah jadi saudara perempuanmu, Ali jadi pamanmu, Hasan dan Husain menjadi saudara lelakimu?” Lantas, anak yatim tersebut tersenyum mengiyakan.

Kejadian ini merupakan contoh dari nabi Muhammad Saw, bahwa sesama manusia harus senantiasa menebarkan kebahagiaan di muka bumi ini dan menjadi karakter dakwah setiap insan muslimin. Hal itulah yang kemudian menjadi spirit dakwah bagi Abi untuk terus menebar kebahagiaan dan menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Dengan pemahaman demikian, kriteria penghuni surga adalah orang yang senantiasa menebarkan kebahagiakan kepada hamba Allah Swt.

Bagikan
Post a Comment