Wisdom: Sukses Pinjaman
“Mamah Halim wafat jam 15.an tadi di RSPP”, begitu isi pesan whatsapp dari abangku pada Rabu, 15 Desember 2021 pukul 17.12. Saya tak punya saudara kandung lain kecuali dia. Abangku yang tak banyak bicara, tak banyak spam di jalur komunikasi kami. Jadi jika ada pesan masuk, pastilah pesan penting.
Mamah Halim adalah ibu bagi kami, bukan ibu kandung. Bukan ibu yang melahirkan kami. Ia adalah ibu dari teman main di komplek dimana kami tinggal. Kebetulan saja rumahnya selalu terbuka jadi tempat kumpul anak-anak komplek. Ia baik hati, seringkali menyediakan kue-kue. Bahkan sampai menawarkan makan siang untuk anak-anak yang kumpul. Sosok Mamah Halim begitu penting untukku dan abangku. Sosok yang hadir di masa-masa kami beranjak dari usia remaja ke dewasa. Kami mengenalnya sejak kecil, setelah pindah dari komplek baru di kawasan Jakarta Barat awal 1980an.
***
Suatu malam pada pekan ketiga Oktober 2021 lalu, saya bermimpi tentang Mamah. Setelah itu, saya memutuskan mengunjunginya. Ia memang sudah sepuh, usianya sekitar 82 tahun. Hari itu bukan kunjungan pertamaku, silaturahmi kami tidak pernah putus layaknya orang tua dan anak. Apalagi makam Ayahku pun dekat dengan rumah Mamah. Saya kerap kali update kondisi Mamah via whatsapp melalui anak-anaknya. Hanya saja jarak yang cukup jauh, pandemik dan kesibukanku menjadi hambatan untuk berkunjung rutin.
Kunjungan Oktober 2021 itu membuatku terhenyak. Kondisi Mamah cukup menurun, jauh berbeda saat terakhir saya mengunjunginya. Matanya menatap kosong dan menerawang jauh. Saya sempat menyampaikan satu kalimat ke salah satu putrinya, “Kita harus banyak doa buat Mamah, sepertinya Mamah tak lama lagi. Kita doakan yang terbaik.”
***
Hari itu saya duduk di samping Mamah. Mengusap-usap tubuhnya sambil berurai air mata. Ia sudah gak mengenaliku. Kuceritakan penggalan-penggalan cerita yang kami alami bersama, antara ingat dan tidak ia menjawab terputus-putus. Saya terus mengusapnya, kenangan masa lalu seperti layar film melintas di pikiranku. Saya seperti memasuki mesin waktu, mengingat jalan cerita bagaimana awal perkenalan dengan Mamah hingga saya menumpang di rumahnya. Itu dimulai saat saya mengenal anak-anaknya, teman kecilku.
1987 ketika orangtuaku pindah ke Makassar karena Ayah pindah dinas, saya baru saja naik kelas 3 SMA. Serba tanggung untuk ikut pindah, namun rumah jabatan Ayah sudah harus kami kosongkan. Teman-teman kecilku bilang, “Lo kan bisa tinggal bareng Mamah Halim”. Kekerabatan dan semua aktivitas di komplek, juga membuatku enggan ikut pindah.
Akhirnya saya membujuk Ayah dan Ibu untuk silaturahmi agar saya bisa ikut Mamah Halim. Orangtuaku sebenarnya merasa sungkan, karena tak terlalu mengenal Mamah Halim. Lantas koq tiba-tiba mau nitipkan anak? Ibuku, ibu bekerja yang jarang sekali bisa ikut kegiatan rumpi dan arisan di komplek. Dilala, akhirnya mereka saling berkomunikasi dan menyampaikan maksud untuk menitipkanku juga abangku di keluarga Halim Hakim, begitu nama suami Mamah.
Jadi sejak itu saya tinggal bersama keluarga Halim Hakim. Saya tak ingin canggung, sesuai pesan orangtuaku, aku harus bisa mengambil hati dan membawa diri. Apa yang berlaku di rumah keluarga itu, harus kutaati. Sholat 5 waktu utamanya, juga ada jadwal mengaji. Aku juga ambil bagian mengerjakan tugas-tugas rumah tangga.
Anak Mamah Halim ada 5, ditambah kami berdua jadi 7 orang. Dalam kesehariannya abangku tinggal dekat kampus di Kawasan Jagakarsa dan pulang tiap week end ke rumah Mamah. Sedangkan saya menetap full the whole week, hingga akhir 1989 saya pamit untuk bisa kost dekat kampus. Namun tidak sepenuhnya pamit, aku menginap di kost pada saat ada kuliah malam saja.
***
Saya mengingat detil semua peristiwa. Pada saat lebaran jauh dari orangtua dan rindu orang tua. Saat sakit, saat ujian, juga saat ada cowok naksir ngotot datang ke rumah dan ingin sembunyi saja rasanya. Pokoknya every single things, saya curhat ke Mamah just like my own mother! Seringkali saya bermanja-manja tidur di atas pangkuannya yang empuk. Dan kuingat sekali kekhawatiranku saat abangku dehidrasi kritis akibat muntaber ketika pulang dari kost. Akhirnya abangku di rawat di RS Pelni. Perasaanku diaduk-aduk cemas melihat kondisinya, dan Mamah merawatnya seperti anak sendiri.
Saya bahkan mengingat detil detik-detik bagaimana kami memulai hari. Suara Ayah Halim yang lembut dengan iringan dentingan sendok dan blender… pada saat beliau meracik jamunya. Suara Mamah yang menggelegar sambil sibuk dengan rutinitas pagi.. “Hey bangun kelen, sholat shubuh, telat nanti kelen kuliah!”
***
1991, Ayahku balik ke Jakarta, dilala dapat rumah bersebelahan dengan rumah Mamah Halim. Mungkin itu jalan Allah, jadi kami gak pernah berjauhan. Hingga abangku menikah, aku menikah… sampai benar-benar berjauhan ketika kami harus mengosongkan rumah jabatan setelah Ayah berpulang pada 1996.
Begitulah Mamah dalam kehidupan kami. Kabar berpulangnya Mamah cukup menghentak dan membuat pedih di hati. Hari ini kami sudah menjadi orang tua, abangku memiliki 3 anak, begitu pula aku. Kami menyelesaikan sekolah, memiliki pekerjaan yang cukup stabil, bahkan saya bisa menyelesaikan jenjang pendidikan lanjutan S2.
Aku sukses menjadi diriku kini. Perempuan yang suka belajar, seorang ibu dari 3 anak yang baik-baik, memiliki pekerjaan stabil, menyelesaikan beberapa sertifikasi dan seorang istri dari lelaki terpelajar, jurnalis, akademisi and the bla.. bla. Di hari Mamah berpulang, aku merenung dan menyambung tiap puzzle hidupku as human being. Orangtuaku sudah pasti memiliki peran penting, tapi Mamah Halim yang bukan sesiapa juga menjadi bagian itu. She is not flesh neither my blood, only the heart that makes her Mother for us.
***
Ia salah satu dari beberapa atau banyak orang yang berjasa dalam hidupku. Siapa sih aku jika bagian puzzles bersama Mamah gak ada? Begitu juga bagian puzzles yang lain, siapa aku jika orang-orang yang ikut andil dalam hidupku nggak ada?
Definisi sukses untuk tiap orang memang berbeda. Sukses merupakan status yang menunjukkan bahwa kita telah sampai pada suatu titik. Bisa juga diartikan mencapai status sosial tertentu untuk menggambarkan kemakmuran atau mendapatkan ketenaran. Bagiku sederhana, sukses adalah susunan puzzles ketulusan dan kebaikan hati orang-orang yang memiliki andil dalam hidupku. Plus, ilmu dan wisdom yang mereka bagi dan tularkan kepadaku. Sukses pinjaman dari Allah SWT, lewat tangan mereka.
Suksesku bukan sukses sendiri! Begitu makna sukses untukku. Versi sederhana, namun sangat membantu untuk menghindari sifat ujub. Terima kasih Mah dan Ayah Halim… for being part of my puzzles
Saat ini bekerja di BUMN bidang logistik pangan (Perum BULOG). Menangani negosiasi & teknis ekspor dan impor.
Saat ini juga menekuni dunia Coaching & Mind Practitioner sebagai Associate Business Coach di Hijrah Coach

Nadya
Keren ibuuu, ditunggu tulisan lainnya 🤗🤍
Sri Istiqamah
terima kasih Nadya, semoga tetap konsisten menulis.