Cinta Beda Agama dalam Pandangan Islam
Banyak yang mengatakan tentang cinta, tapi bingung ketika ada pertanyaan apa itu cinta. Banyak yang bermain cinta, namun gugup dalam mendefinisikannya. Lantas apa itu cinta? Mengapa begitu sulit untuk dipahami perihal kata sederhana itu. Sejatinya kata “cinta” terdiri dari lima huruf, namun memiliki makna yang begitu luas dan mendalam. Siapapun yang bermain cinta, acap kali bingung arti sesungguhnya cinta itu. Setiap orang bebas memiliki pandangan dalam memaknai arti cinta. Namun, tak sedikit dari kita yang tersesat dalam mendefinisikan cinta.
Apa sebenarnya arti cinta? Pengertian cinta pun datang dari Abraham Maslow, ia mengatakan bahawa cinta merupakan proses aktualisasi diri yang mana dapat membuat orang melahirkan beragam tindakan-tindakan yang kreatif dan produktif. Dengan adanya cinta, maka seseorang akan mendapatkan kebahagiaan jika mampu Ia akan berusaha membahagiakan orang lain yang ia cintainya.
Dapat kita simpulkan bahwa cinta adalah sesuatu yang muncul dalam diri manusia tanpa tersadari kehadirannya. Rasa itu hadir melalui naluri seseorang sehingga menimbulkan suatu tindakan. Memang terkadang sulit untuk diartikan oleh akal sehat, jadi wajar jika banyak yang memaknai bahwa “cinta itu buta”. Ungkapan tersebut tak bisa kita salahkan, sebab orang yang jatuh cinta memang menganggap semua hal yang ia lakukan begitu terasa indah dan bahagia.
Ujian Cinta
Cinta pun tak absen dari ujian, cinta beda agama contohnya. Kasus seperti ini acap kali kita temui dalam dunia ini, bahkan banyak di sekeliling kita yang melakukannya. Tanpa mereka sadari dampak ke depannya. Sesuai dengan tafsir cinta yang mengatakan bahwa “cinta itu buta”, maka ketika seseorang sudah terselimuti oleh rasa cinta semua yang terjadi seakan benar dan indah.
Lucunya, saat ini banyak yang melakukan kasus tersebut atas dasar toleransi. Dalam Islam memang mengajarkan kita untuk toleransi terhadap agama lain. Akan tetapi Islam melarang keras kepada umat muslim untuk menjadikan mereka sebagai pasangan hidup. Ketika seseorang sudah terkuasai oleh cinta maka selalu ada pembenaran terhadap tindakan yang ia lakukan walapun itu sudah jelas melanggar syariat Islam. Allah telah menegaskan dalam surah Al-Kafirun ayat 6.
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku”
Dalam surah tersebut telah menjelaskan bahwasanya islam melarang keras kepada umat muslim untuk mencampur adukan urusan antar agama. Seperti halnya memilih pasangan beda agama yang sudah jelas tidak diperbolehkan namun seolah-olah mengatasnamakan toleransi antar umat beragama. Islam memang menjujung tinggi toleransi antar umat beragama tapi tidak untuk melakukan pembenaran suatu tindakan yang memang sudah melanggar ketentuan dan syariat islam.
Keyakinan yang Berbeda
Islam melarang adanya cinta dengan dua keyakinan yang berbeda. Menurut Ibnu Katsir Beliau adalah seorang pemikir dan ulama muslim. Orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang sangat mencintai Allah, dan karena kecintaannya itu maka seseorang atau orang-orang beriman akan berusaha untuk menyempurnakan pengetahuannya tentang islam, dan senantiasa mematuhi dan menjauhi larangannya serta senantiasa bertawakal dan menyerahkan segala sesuatu kepada Allah Swt.
Menurut perkataan Ibnu Taimiyyah seorang pemikir dan ulama besar islam. Sesungguhnya orang-orang beriman yakni mereka-mereka mencintai Allah Swt melebihi kecintaan pada orang-orang musyrik terhadap tuhan-tuhannya. Hal tersebut adalah karena orang-orang musyrik melakukan kesyirikan dalam cinta atau mahabbah, sedangkan orang-orang beriman akan senantiasa mencintai dan rasa cinta mereka pada Allah Swt dengan tulus tanpa mengharapkan suatu apapun selain rahmat dan ridhonya.
Kesimpulannya Islam melarang kepada orang mukmin untuk mencintai sesuatu melebihi dari kecintaanya kepada Allah, karena sesungguhnya Allah hadirkan rasa cinta pada diri manusia melainkan untuk senantiasa mematuhi perintahnya dan menjauhi larangannya serta menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah tanpa mengharapkan suatu apapun selain rahmat dan ridhonya. Jadi, ketika sudah cinta kepada Allah Swt maka tidak akan ada kasus cinta beda agama.
Tampak Keindahan
Bahayanya, ketika jatuh cinta banyak yang tak sadar akan syariat yang melarangnya. Mereka cenderung mengabaikan tentang latar belakang agama pasangannya. Sebagian besar yang melakukan percintaan beda agama berpendapat bahwa, yang terpenting adalah seseorang yang baik, tampan/cantik, perhatian, serta memiliki pekerjaan dan hal-hal yang bersifat duniawi lainnya. Padahal Allah telah menegaskan dalam firmannya surah Al-Imran ayat 14:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang ditumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia, dan disisi Allah lah tempat kembali yang terbaik.”
Dalam surah tersebut sudah jelas bahwasanya ketika mencintai sesuatu baik itu lawan jenis, keluarga, pekerjaan, dan harta benda. Allah tampakan keindahan di hadapan mereka padahal sesungguhnya semuanya hanyalah ujian bagi kita sebagai manusia untuk dapat melewatinya. Karena pada hakikatnya dunia hanyalah jalan untuk insan menuju rumah abadinya, yang tentunya dengan keadaan yang baik.
Ikhlas atau Bertahan?
Mengikhlaskan atau mempertahankan? Jika kita dihadapkan kasus serupa, maka sudah sepatutnya yang dipilih adalah mengikhlaskan, karena cinta itu hadir karena Allah maka sudah sepantasnya untuk kita kembalikan rasa itu kepada sang pemilik hati. Biarlah Allah yang mengatur skenario terbaik untuk kita sebagai hambanya, yang perlu kita lakukan yaitu terus memperbaiki diri, serta belajar menjadi manusia yang lebih baik dan bermanfaat untuk sekitar.
Benang merahnya, Islam memang sangat menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama, namun tidak dengan menyatukan kedua agama dalam satu pernikahan. Jangan jadikan “toleransi” sebagai alasan untuk melakukan tindakan yang bertentangan dengan syariat islam. Sebagai umat muslim yang taat akan syariat, pegang teguh aqidah kita. Jangan nodai keimanan hanya karena hal duniawi, lebih baik dicintai dari pada mencintai maka berikanlah cinta itu kepada Allah. Maka akan Allah hadirkan kebahagian dalam kehidupan kita. Jodoh adalah misteri serahkan itu kepadanya maka akan Allah hadirkan seseorang yang mecintainya seperti kita mencintai Allah. Aamiin…
