f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pernikahan kedua

Pernikahan Kedua, Tak Seindah Impian, Tak Seburuk Ketakutan

Tahun ini tepat 10 tahun pernikahan saya. Lebih tepatnya pernikahan saya yang kedua. Begitu pula bagi suami, saya merupakan istri dari pernikahan keduanya. Pernikahan pertama saya berakhir dengan sangat menyakitkan dan meninggalkan trauma besar. Suami bercerai dengan istri pertama, setelah 9 tahun menjalani pernikahan yang menyedihkan.

Menjalani remarried atau pernikahan kembali pasca perceraian (baik cerai hidup maupun cerai mati), sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pernikahan pertama. Ada tarik menarik kepentingan antara dua individu yang berbeda latar belakang. Fase up and down muncul bergantian, kadang indah, kadang pula menakutkan. Disebut menakutkan karena berpotensi menjadi biang konflik yang berujung pada perceraian berulang, jika tidak diantisipasi dari awal.

Walaupun tidak jauh beda, tetapi permasalahan yang dihadapi oleh pasangan yang menjalani pernikahan kembali lebih kompleks. Penyesuaian yang dihadapi bukan hanya secara personal one to one. Tak hanya seputar penyatuan dua budaya keluarga yang berbeda – seperti umumnya dialami pasangan pada pernikahan pertama. Ada beberapa poin penting yang perlu menjadi perhatian siapapun, yang ingin atau akan menjalani pernikahan kembali. 

Luka Batin Yang Masih Menghantui

Sebelum memutuskan untuk menjalani pernikahan kembali, kita perlu memastikan sudah selesaikah luka batin atau trauma dari pernikahan sebelumnya?  Karena luka batin tidak bisa selesai dengan sendirinya, seiring dengan berjalannya waktu. Suatu saat bisa memunculkan masalah baru jika tidak dicabut akar permasalahnya. Sikap terbuka kepada pasangan dan kesediaan untuk meminta bantuan dari pihak lain yang berkompeten dibidangnya, sangat membantu seseorang untuk pulih dari traumanya.

Tita, seorang rekan kerja saya menghadapi masalah yang berhubungan dengan luka batin suami barunya. Tita adalah janda cerai hidup dengan 1 anak. Dia menikahi seorang duda cerai mati dengan 2 anak. Suaminya selalu membandingkan Tita dengan almarhumah mantan istrinya, mulai dari selera masakan, keuangan sampai pada urusan ranjang. Luka batin atas kehilangan istri pertama membuat suami Tita menjadikan almarhumah sebagai standar istri ideal pada pernikahan keduanya. Berbagai kasus ini mengundang polemik berkepanjangan dan sempat membuat “perahu” keduanya nyaris karam.

Baca Juga  Memahami Anak Insecure

Tidak jauh berbeda dari suami Tita, luka batin yang saya alami pada pernikahan pertama menjadikan saya sering menggeneralisir tindakan yang suami saya lakukan. Jangan-jangan suami berbohong, atau ingin menyakiti seperti pada pengalaman dulu dan prasangka-prasangka buruk lainnya. Ditambah dengan karakter saya yang sulit terbuka, seringkali timbul rasa jengkel yang tersimpan.  Kekecewaan yang terpedam, tanpa adanya saluran komunikasi yang cair antara suami dan istri, bisa menjadi bom yang siap meledak sewaktu-waktu. Namun sebelum itu terjadi saya mengambil langkah preventif dengan meminta bantuan orang ketiga, baik dari sahabat, maupun profesional.

Jeda

Jeda adalah memberi waktu pada diri sendiri untuk berkontemplasi yang sifatnya reflektif. Berdialog dengan diri sendiri tentang siapa kita, apa yang kita butuhkan, apa yang perlu diperbaiki dan bagaimana cara memperbaiki. Karena sesungguhnya menikah (lagi) adalah menambah “masalah” baru – perubahan dari hidup yang merdeka dan mandiri, menjadi terikat kembali. Sikap tenang dan mental yang stabil dibutuhkan sebelum mengambil keputusan.

Hal ini dialami oleh Om Ilham, paman saya. Dia baru saja bercerai dari istri pertama, saat mereka menjalani long distance marriage (LDM). Eyang memberi saran supaya paman menahan diri, semeleh lebih dulu, menenangkan batin seusai perceraian. Nasihat dari Eyang menunjukkan bahwa selflove itu penting sebelum memutuskan untuk mencintai orang lain. Karena pernikahan setelah perceraian tidak akan berjalan dengan baik, jika tujuannya sebagai pelarian dari kesepian atau rasa sakit hati.

Sangat disayangkan, paman tetap berkeras untuk menikah lagi, sebulan setelah resmi cerai. Dia menikahi seorang kenalan di sosial media yang belum lama dia kenal. Pernikahannya hanya berlangsung selama 8 bulan, lebih cepat dari pernikahan pertama selama 2 tahun. Bukan kebahagiaan yang beliau terima, tindakan grusa grusu nya itu justru membuat hidupnya kian terpuruk.

Baca Juga  Yang Muda Yang Berbagi
Ekspektasi terhadap Pasangan

Semakin realistis, semakin rendah resiko perceraian berulang. Realistis berarti menerima bahwa tidak ada satupun manusia yang seratus persen mampu memenuhi keinginan kita. Bukankah kita sendiri juga tidak sempurna?

Dalam kasus Tita, ekspektasi yang tidak realistis ini menjadikan suami “memaksa” Tita sama seperti almarhumah istrinya. Seseorang yang tidak open mind, akan keukeuh memegang nilai-nilai yang dianggap berhasil di masa lalu. Padahal yang dihadapi adalah individu lain yang sama sekali berbeda baik dari segi karakter ataupun budayanya.

Saya menyadari, mungkin saya belum memenuhi semua ekspektasi suami, begitu pula sebaliknya. Saat konflik terjadi, kami berusaha selalu menjaga komunikasi satu sama lain. Dan ternyata konflik yang ada lebih disebabkan karena ketidak-tahuan salah satu dari kami atau salah menginterpretasikan keinginan pasangan. Daripada menuntut pasangan sesuai dengan yang kita inginkan, menurut saya sikap legowo adalah pilihan termudah, alih-alih memperpanjang masalah.

Kehadiran Anak Sambung

Anak sambung (jika sudah memiliki) hadir menjadi satu paket yang tidak bisa dipisahkan dari pasangan pernikahan kembali. Namun kehadirannya bisa menjadi sumber konflik yang serius, dan memicu perceraian berulang. Seperti kejadian di tahun 2015 lalu, publik dikejutkan oleh berita perceraian berulang artis Resty Tagor karena sikap keras Stuart – suami barunya kepada Arsen anak kandung Resty. Sikap Resty menggugat cerai suami barunya menunjukkan bahwa kesiapan menjadi orang tua sambung memegang peran penting, dalam menjaga keberlangsungan sebuah pernikahan kembali.

Perbedaan pola asuh di antara suami dan istri baru juga menjadi salah satu faktor pemicu. Saya menganut gaya pengasuhan yang disiplin dan tegas, sedangkan suami termasuk tipe orang tua yang permisif. Pola asuh yang bertolak belakang ini awalnya memicu banyak pertengkaran di antara kami. Sampai pada suatu titik ketika kami sama-sama menyadari bahwa tidak semua persoalan harus “diselesaikan”, tapi hanya cukup dipahami, dimengerti dan dimaklumi.

Baca Juga  Dua Istri Lebih Baik?

Pemakluman itu berangkat dari kesadaran bahwa anak adalah amanah dari Allah – terlepas dari mana mereka berasal – yang menjadi tanggung-jawab kedua orang tuanya, baik kandung maupun sambung. Tidak berhenti mencoba untuk menjalin komunikasi yang baik dengan anak-anak, nrimo atau menerima segala kekurangan diri, kekurangan pasangan, dan juga kekurangan anak-anak. Penerimaan menciptakan rasa percaya dan rasa aman. Kepercayaan yang terbentuk, menjadikan seseorang melihat perbedaan sebagai hal yang lumrah. Mungkin cara yang kami pilih berbeda, tapi karena kami percaya tujuannya sama-sama baik, tak perlulah menjadikannya sebagai polemik.

Pernikahan kedua sejatinya adalah bagian dari kehidupan yang biasa saja. Kadang indah, kadang tidak menyenangkan, tapi harus terus diperjuangkan. “Kalau belum berhasil, maka ulangi. Kalau belum berhasil maka ulangi lagi. Jangan bosan dan putus asa.” (AR Fachrudin)

Bagikan
Post a Comment