f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pendidik

Jadilah Pendidik, Bukan Sekadar Pengajar

Beberapa waktu yang lalu, saya mengumpulkan seluruh kakak pembimbing di lembaga bimbingan belajar milik saya. Hari itu adalah kesekian kalinya, saya mengumpulkan kembali kakak-kakak pembimbing di kelas karena saya melihat seorang siswa saya yang bernama Vero, yang sudah lebih dari lima belas menit mengerjakan soal latihan perkalian bersusun tapi masih terus dibantu kakak pembimbing. Vero memang baru mengenal perkalian bersusun tapi bukan berarti terus dibantu untuk setiap soal.

Mengajar itu mudah apalagi untuk kakak-kakak pembimbing yang ada di kelas saya yang memang menguasai Matematika dan Bahasa Inggris. Latar belakang pendidikan mereka memang Matematika dan Bahasa Inggris. Begitu sedikit saja siswa bertanya, kakak-kakak pembimbing akan langsung dengan tangkas membantu menyelesaikan soal tersebut.

Tujuannya memang bagaimana supaya siswa dapat mengerjakan soal tapi seringkali lupa. Jika seperti itu, kakak pembimbinglah yang menyelesaikan soal, bukan siswa. Siswa senang dapat menyelesaikan soal tersebut tapi besar kemungkinan tidak dapat menyelesaikan di soal berikutnya. Mengapa? Karena yang diajarkan bukan konsep dan pola pikir penyelesaian soal.

Untuk kesekian kalinya, saya sampaikan untuk tidak sekadar mengajarkan dan selesai. Tapi berpikirlah bagaimana mengarahkan siswa supaya siswa bisa mandiri menyelesaikan soal latihannya. Jika berpikir memandirikan siswa, mau tidak mau, posisi  pengajar akan bergeser menjadi pendidik. Membantu siswa membentuk pola pikirnya, melatih kecerdasan berpikrnya, membentuk karakternya adalah bagian dari mendidik siswa.

Contohnya, saat Vero mengerjakan soal-soal perkalian bersusunnya tadi, kakak pembimbing  dengan sangat cekatan membantu mengalikan setiap angka. Menyebutkan hasilnya begitu siswa mengatakan tidak tahu, kemudian menambahkan dengan angka simpanan dan kembali menyebutkan hasilnya saat siswa masih berpikir berapa jawabannya. Apa yang sudah kakak pembimbing lakukan hanya sebatas mengajarkan.

Berbeda jka kakak pembimbing  melatih kecerdasan berpikir siswa. Melibatkan tanggung jawab membentuk pola pikir siswa, kakak pembimbing pasti akan mencari tahu lebih dahulu bagaimana hafalan perkalian dasarnya Vero. Tau, bisa, atau lancar dan hafal luar kepala. Perbedaan kemampuan hafalan perkalian dasar akan membedakan juga kemampuan mengerjakan perkalian bersusunnya.

Baca Juga  Biar Nggak Insecure, Ini Tipsnya!

Begitu juga saat menambahkan dengan angka simpanan, kakak pembimbing pastinya akan mencari tahu lebih dulu, Vero tidak lancar dalam menjumlahkan luar kepala atau hanya belum terbiasa dengan konsep menambahkan angka simpanan. Bantu di mana masalahnya, jangan dengan pukul rata ikut menjawab soal supaya soal tersebut bisa selesai. Proses seperti ini akan mengasah kecerdasan berpikir siswa, mendidik siswa menggunakan pola pikirnya sendiri untuk menyelesaikan soal.

Seperti juga saat siswa yang berbeda, Alan. Saat Alan tidak dapat menemukan jawaban dari pertanyaan bacaan Bahasa Inggris, kakak pembimbing pun langsung membantu menunjukkan jawaban di bagian mana dari bacaan tersebut, dan di waktu yang kilat siswa dapat menemukan jawabannya. Mereka seharusnya menjelaskan jawabannya yang tersirat dalam bacaan. Jika yang mereka lakukan seperti ini, kembali lagi saya sampaikan ke kakak pembimbing, bahwa yang mereka hanya sebatas mengajarkan.

Dan yang namanya sebatas mengajarkan tidak akan menjadikan siswa berkembang potensinya. Berbeda jika kakak pembimbing lebih dulu memastikan bahwa Alan memang sudah memahami isi bacaan secara keseluruhan dengan meminta Alan menceritakan ringkas isi bacaannya. Jika Alan tahu isi bacaannya, tidak akan sulit menggiring Alan menemukan di bagian mana kira-kira dapat menemukan jawaban dari pertanyaan, karena Alan memang sudah memiliki kemampuan mengambil poin-poin bacaan.

Berbeda lagi dengan Jindra yang memang belum memiliki kemampuan menemukan poin-poin bacaan. Untuk siswa seperti Jindra, masih perlu digiring per alinea bacaan sampai akhirnya Jindra bisa menemukan jawabannya. Kemampuan Jindra jadi berkembang dengan menggiring Jindra menemukan jawabannya sendiri.

Sebenarnya tidak hanya Matematika dan Bahasa Inggris. Mata pelajaran apapun yang kita pegang, dapat kita jadikan sebagai alat untuk mendidik siswa. Saat mengambil peran sebagai pendidik, artinya kakak pembimbing tidak hanya sekedar mengejar jawaban dari soal yang akan dengan mudah anak-anak mendapatkan. Berlanjut dengan mendapat nilai 100, nilai A plus. Output tidak semata2 angka cantik demi sekedar nilai rapor yg bagus.

Baca Juga  Mencicip Kehangatan Toleransi di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta

Menjadi pendidik akan berperan dalam pembentukan pola pikir pada siswa yang nantinya dapat dipertanggungjawabkan, karena akan mereka bawa sampai mereka besar. Pola pikir akan mempengaruhi karakter. Berperan dalam menanamkan pola pikir dan karakter, akan berdampak positif terhadap akhlak dan budi pekerti siswa. Hal tersebut adalah amanah bagi seorang pendidik yang harus dijaga.

Bagikan
Comments
  • Yanti

    Kereeen….. bu Andi, sangat menginspirasi….
    Buat lagi yaaa bu…., biar kita semangat membacanya.

    Desember 20, 2022
  • andi henni

    Terimakasih bu….Insya Allah

    Desember 21, 2022
Post a Comment