f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
toleran

Kaum Toleran yang Dirindukan

“Nah ‘kan, mereka yang ingin kita bubar malah mereka yang dibubarkan!”

Saya tiba-tiba teringat sebuah kalimat yang pernah muncul, menyusul sebuah keputusan pembubaran sebuah ormas di Indonesia. Tanpa menyebut nama ormas tersebut, yang jelas keberadaannya sering menimbulkan polemik, terutama carut-marut keseragaman dan keberagaman ber-Islam.

Meskipun di satu sisi ada senengnya juga ketika pemerintah mengambil langkah tegas, tetapi di saat yang sama, sebagai manusia sempat juga mengelus dada dan menghela napas. Terbayang rumitnya membangun organisasi, meningkatkan ghirah anggota, setelah besar malah bubar..

Kesemrawutan pikir tidak berhenti di sana, karena organisasi berlabel agama yang pemerintah bubarkan. Di luar masalah aktivitas yang sering meresahkan, tapi tetap ada bendera agama di sana. Saya teringat sejenak dengan sebuah kalimat dari Gus Dur, bahwa keimanan tidak bisa dihakimi.

Ucapan Gus Dur muncul pada saat kasus Lia Eden dibawa ke meja hijau. Saya yakin statement tersebut bukan dalam konteks Gus Dur setuju dengan ajaran yang dibawa Lia Aminudin, tetapi lebih ke nggak ‘nemu klausul yang pas untuk menghakimi keimanan.

Mendambakan Kehidupan yang Toleran

Sore saya bersama kopi sejenak tersentak, ketika mendapat sebuah tautan untuk mengisi petisi, “Bubarkan MUI”. Ini kok, seperti mengulang kenangan meskipun bukan bersama mantan. Lebih mengejutkan lagi ketika melihat yang mengisi sudah ribuan.

Sampai detik ini, saya yakin banyak yang baru paham kalau MUI adalah ormas. Hanya karena beberapa fatwanya pernah diangkat menjadi landasan hukum positif, kedudukan tetap tidak sejajar dengan lembaga pemerintah yang terlihat dalam kacamata Hukum Tata Negara.

Tapi bukan itu masalahnya. Saya bukan ahli hukum meskipun pernah kuliah hukum. Saya lebih suka memandang segala hal dari kaca mata rakyat jelata yang ingin hidup tenteram. Rakyat yang tidak peduli siapa nama presidennya, yang penting negara ini aman dan tidak dijajah diam-diam.

Baca Juga  Bapak dan Penyesalannya

Saya ingin mengupas sebuah sikap toleran yang didambakan, tetapi jarang dipraktikkan. Siapapun yang mengirim tautan petisi ataupun mengisinya, saya yakin mereka adalah segolongan orang yang tidak suka keseragaman.

Lebih detail lagi, barangkali satu atau beberapa di antara pengirim dan penanda tangan petisi itu adalah anggota sebuah ormas juga yang berseberangan pandangan dengan MUI. Maka sudah barang tentu, tanda tangannya pada petisi itu berlandaskan emosi belaka.

Majelis yang mengumpulkan para ulama dan cendekiawan muslim ini memang sering mengeluarkan fatwa, yang dianggap kontroversi. Menjelang akhir tahun, pasti akan ada pembahasan fatwa haram mengucapkan Natal lagi.

Siapapun yang ingin hidupnya bebas tanpa aturan, sering sekali sembunyi di balik kata toleransi. Sayangnya, kehidupan yang toleran yang mereka dambakan juga belum tentu dipraktikkan.

Menegakkan Sikap Toleran

Sederhanaya, saya sering membayangkan andai saya terlahir bukan sebagai saya saat ini. Saya sejenak bersyukur berada di lingkungan Islam yang moderat, yang fleksibel cara pandangnya sepanjang tidak mengurangi hak Allah dan tidak mengganggu hak manusia. Seimbang haququllaah dan haququl ibaad.

Tapi saya selalu meredam emosi, terutama jempol ketika bermedia sosial, ketika membayangkan seandainya saya lahir sebagai anak dari ketua MUI, atau anak dari seorang tokoh ormas-ormas yang sudah dibubarkan itu. Apakah saya tidak punya perasaan dan pendapat yang juga ingin ditoleransi?

Mereka, atau saya dalam konteks “seandainya” tadi, tentu punya alasan yang paling saya yakini untuk memilih jalan hidup yang sekarang. Hanya karena sekelompok orang pernah menyerang masjid saya karena “berbeda”, apakah menjadikan kita punya hak untuk menilai para penyerang sebagai organisasi terlarang dan saya paling benar?

Kalau ingin iklim toleran merebak wangi di muka bumi, maka coba gali makna toleransi yang arti sederhananya adalah saling menghargai. Kata saling, bukankah artinya ada dua pihak yang berhak menerima porsi penghargaan yang sama?

Baca Juga  Teruntuk Semuanya yang Telah Berlalu, Terima Kasih Sudah Bertahan Sampai Saat Ini

Maka ketika kita menginginkan toleransi, tetapi kemudian bersikap antipati dengan organisasi yang berseberangan, dan merayakan pembubaran ormas mereka dengan mengumbar status bahagia di WA, lha apa bedanya kita dengan mereka?

Alih-alih menginginkan toleransi, yang ada justru kita sedang mempertontonkan kebrutalan diri sendiri. Ingin toleransi tegak di bumi, caranya dengan membubarkan organisasi lain yang berseberangan.

Andai pun mereka dibubarkan, hal itu karena perspektif hukum. Sama sekali, wallaahu a’lam, belum tentu merupakan pengabulan doa orang yang terzhalimi. Ormas dibubarkan karena negara punya kewenangan mengatur, dan bukan karena menang-menangan keyakinan.

***

Maka dari itu, nasihat “iman tidak bisa dihakimi” tetap relevan dengan saat ini. Ketika ada sekelompok orang yang merasa mendapat perlakuan intoleransi, lalu bersikap seolah dia yang paling benar. Ketika ormas penentang dibubarkan, seketika merasa dibela dan mendapat pengabulan doa.

Sadarlah bahwa, dari kaca mata orang lain diri ini adalah orang aneh yang masih percaya agama di tengah kemajuan sains dan teknologi. Maka janganlah menambah keterpurukan citra dengan mencela yang berbeda, tapi berharap setiap aktivitasnya ditoleransi. 

Bagikan
Post a Comment