f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
opu daeng

Opu Daeng Risaju dan Refleksi Perempuan Masa Kini

Opu Daeng Risaju menjadi salah satu tokoh perempuan pergerakan dari kalangan bangsawan yang menggugah perubahan di masa penjajahan. Beliau bergerak secara aktif di bidang pergerakan politik praktis dalam menentang pemerintah kolonial. Keterlibatan aktifnya nampak jelas dalam catatan sebagai salah satu bagian dari PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia). Bahkan, Opu Daeng  mendirikan cabang PSII di Palopo, tempat ia tinggal.

Lebih dari itu, pergerakan politik Opu Daeng Risaju tidak hanya pergerakan ala kadarnya yang terkesan tidak serius. Pergerakan politiknya begitu masif dan menyebabkan gonjang-ganjing pemerintah kolonial. Sehingga, ketika gerakan politiknya terkesan mulai berbahaya serta provokatif, maka pemerintah kolonial menangkapnya dan memenjarakannya selama 11 (sebelas) bulan. Parahnya, gelar kebangsawanannya pun turut digugurkan karena frontalitas pergerakan politiknya itu.

Namun, urusan hilangnya gelar kebangsawanan tak menjadi soal serius bagi Opu Daeng untuk tetap berjuang di kancah politik revolusi skala nasional. Lepas dari penjara, Opu Daeng tetap konsisten melanjutkan pergerakan politiknya bersama PSII dalam upaya menciptakan perubahan mendasar untuk kemerdekaan seluruh rakyat. Sebab, motto hidup yang ia pegang adalah “Terus berjuang melawan kedzaliman dan penjajahan adalah bentuk kedzaliman yang nyata dan jelas harus terus dilawan”.

Kepribadiaan dan Landasan Keislaman Opu Daeng

Pribadi Opu Daeng sebagai individu yang kritis dan politis tidak lahir begitu saja. Karakter dirinya yang pemberani dalam menentang penindasan muncul dari model pendidikan di ruang kehidupan keluarganya yang merupakan kalangan bangsawan. Lingkungan kebangsawanan membesarkannya dengan nilai-nilai luhur berdasar moralitas, keagamaan, dan kebudayaan. Dari sinilah, kemudian muncul jiwa kepemimpinan yang mantap.

Selain itu, Opu Daeng juga merupakan seorang pembelajar Al-Qur’an yang teguh. Secara rutin, beliau menghatamkan bacaan Al-Qur’an beserta artinya sebanyak 30 Juz. Lebih dari itu, beliau juga mempelajari berbagai ajaran ilmu keagamaan islam secara mendalam seperti, ilmu fiqih, sharaf, balghah, dan nahwu. Berdasarkan, penguasaannya inilah Opu Daeng menjalankan pergerakan politik kebangsaan dengan asas ideologi keisalaman untuk kesejahteraan rakyat.

Baca Juga  Mengenal Lady Evelyn, Perempuan Inggris Pertama yang Menunaikan Ibadah Haji

 Landasan keislamannya ini terlihat mencolok pada pergerakan politiknya dalam merekrut anggota PSII. Berdasarkan gagasannya, setiap anggota PSII memiliki kartu anggota yang di setiap kartunya tertulis lafadz syahadat. Artinya, setiap anggota PSII harus merupakan seorang muslim yang taat dan beriman pada Allah dan nabi Muhammad Saw.

Seiring berjalannya waktu, gerakan politik Opu Daeng kembali terdeteksi sebagai gerakan yang membahayakan kalangan pemerintah kolonial saat itu. Sehingga, untuk meredamnya, pemerintah kolonial kembali menangkapnya dan memasukkannya ke penjara selama 13 (tiga belas) bulan. Namun lagi-lagi, selepas bebas dari penjara, Opu Daeng tetap teguh dan semakin bersemangat menjalankan gerakan politiknya untuk melawan pemerintah kolonial serta terus berjuang mencapai kemerdekaan untuk kesejahteraan rakyat pribumi.

Kelalaian Vital Perempuan Masa Kini

Kisah perjuangan pergerakan politik Opu Daeng memanglah kisah lama. Akan tetapi, relevansinya bagi seluruh kalangan perempuan di Indonesia masih harus menubuh hingga hari ini. Perjuangan beliau harus menjadi salah satu jejak tapak perjuangan perempuan di era reformasi. Era yang semakin hari, justru semakin menggerus kegigihan dalam memperjuangkan suatu hal, karena teknologi telah mempermudah segalanya.

Bayangkan, hari ini kita lapar, tapi malas untuk belanja, memasak, dan keluar rumah untuk membeli makan, solusinya bisa pesan makanan dengan klik-klik sambil rebahan di Kasur. Lalu, beberapa menit kemudian makanan datang seperti turun dari langit. Masyaallah instan sekali hidup ini.

Belakangan, beredar penemuan ramuan pemutih kulit instan tanpa efek samping. Tujuan dibuatnya ramuan itu adalah agar meningkatkan standart kecantikan perempuan di Indonesia. Lalu, pertanyaannya adalah apakah perempuan cantik itu harus putih? Jika harus, inovasi ini justru mengandung unsur rasis? Mirisnya, inovasi ramuan ini justru mendapat rekor MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia).

Baca Juga  Siti Walidah dan Fatmawati : Pahlawan Perempuan dari Muhammadiyah

Kedua tragedi di atas menunjukkan 2 (dua) kelalaian vital yang sedang dialami perempuan modern hari-hari ini. Pertama, nilai perjuangan yang memudar. Kedua, orientasi pencapaian yang dangkal, seperti cantik fisik secara universal dan gagal menciptakan keragaman kecantikan yang merupakan esensi dari setiap perempuan.

Kegigihan Opu Daeng dan Relevansi Perjuangan Perempuan Masa Kini

Opu Daeng menunjukkan perjuangan gigih di kancah pergerakan politik untuk kemerdekaan. Sedangkan, generasinya setelah merdeka justru tak sanggup melawan rasa malas. Opu Daeng menguraikan definisi cantik dalam bentuk keteguhan belajar, melawan penjajah, dan memperjuangkan keberagaman untuk kesetaraan yang humanis. Sedangkan, generasi setelah merdeka justru menciptakan standarisasi cantik haruslah putih (baca: glowing).

Kisah perjuangan Opu Daeng perlu menjadi refleksi bagi seluruh kalangan muda hari-hari ini. Khususnya kalangan perempuan yang seringkali berada di ambang batas menyerah atas ketertindasannya. Opu Daeng menunjukkan kegigihan pantang menyerah, meskipun harus kehilangan gelar kebangsawanannya dan harus masuk penjara berkali-kali. Beliau adalah perempuan tangguh yang tak kenal menyerah pada penindasan dan kezaliman.

Barangkali, jika Opu Daeng masih hidup, ia akan berkata, “Bangunlah dari kasur rebahanmu wahai srikandi muda. Hidupkan gejolak perjuangan di dadamu dan ciptakan kesetaraan untuk seluruh kalangan tertindas dengan tanpa mengusik keberagamannya”.

Bagikan
Post a Comment