Pesantren, Perjalanan, dan Cara Kami Menanam Nilai
Membangun rumah tangga bagi kami bukan sekadar soal ekonomi yang cukup atau rumah yang nyaman. Sejak awal, kami sepakat menjadikan organisasi rumah tangga kami berbasis nilai dan agama yang kokoh.
Tentu saja bukan dalam pengertian simbolik, tetapi dalam praktik sehari-hari: bagaimana bersikap jujur, bertanggung jawab, dan mampu hidup berdampingan dengan perbedaan. Agama bukan hanya ada di ruang-ruang tempat ibadah, tapi justru dia harus menyebar di berbagai aspek kehidupan.
Salah satu ikhtiar yang kami pilih adalah menyekolahkan tiga anak laki-laki kami di pondok pesantren. Kami menjadikan pesantren sebagai fondasi pendidikan dasar, bukan semata tempat belajar agama, tetapi ruang panjang pembentukan karakter—integritas, moral, keluasan wawasan, dan toleransi.
Di pesantren itu, anak-anak kami tidak hanya belajar dari kitab dan kelas, tetapi dari kehidupan sosial yang sangat beragam. Teman-teman mereka datang dari berbagai wilayah di Indonesia seperti dari pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Maluku, NTB, NTT, dan banyak daerah lain.
Latar belakang keluarga teman anak-anak kami pun beragam: ada yang anak pegawai pemerintah, polisi, tentara, anggota dewan, pengusaha, guru, kiai; ada pula yang berasal dari keluarga petani, pedagang, atau wiraswasta.
Selama bertahun-tahun, mereka hidup bersama dalam ruang yang sama—makan bersama, antre mandi, berbagi kamar, berbagi masalah. Dari sanalah mereka belajar bahwa hidup tidak pernah tunggal. Bahwa perbedaan bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dipahami.
Setiap libur semester, kami selalu berusaha mengajak anak-anak melakukan perjalanan bersama. Tidak selalu jauh, tidak selalu mahal. Kadang hanya berkunjung ke keluarga, naik gunung, atau singgah ke satu daerah yang jauh dari hiruk-pikuk kota.
Bagi kami, perjalanan bukan pelarian, tetapi ruang percakapan.
Di dalam mobil, di penginapan sederhana, atau saat berjalan pelan di desa, obrolan mengalir tanpa agenda. Tentang apa yang mereka alami di pesantren. Tentang pertemanan. Tentang konflik kecil. Tentang mimpi dan ketakutan. Tentang masa depan yang masih samar.
Di momen-momen seperti itulah kami sebagai orang tua belajar lebih banyak mendengar. Tidak selalu memberi nasihat. Tidak selalu menghakimi.
Kadang hanya menimpali dengan pertanyaan ringan. Kadang menunggu waktu yang tepat untuk menyelipkan penekanan tentang kejujuran, kesungguhan, toleransi, atau mengajak mereka meniru semangat teman-teman yang berprestasi tanpa merasa minder.
Kami percaya, nilai tidak selalu ditanamkan lewat ceramah. Ia sering tumbuh lewat percakapan santai yang jujur.
Pesantren bagi kami bukan tempat yang mengharuskan anak-anak lulus menjadi ustaz, ahli agama, atau penghafal 30 juz. Itu mulia, tetapi bukan satu-satunya tujuan. Setiap anak, punya potensi dan kecenderungan berbeda. Kita tidak bisa memaksa.
Yang lebih penting, pesantren menjadi ruang latihan hidup: mengelola pergaulan, mengatur waktu, menghadapi konflik, mencari solusi atas masalah apa pun yang datang, dan yang terpenting adalah memiliki pondasi hidup yang kuat, dengan basis moral dan agama.
Dalam salah satu waktu libur tersebut, kami memilih perjalanan ke Kulonprogo, tepatnya ke wilayah pegunungan Kalibawang, Daerah Istimewa Yogyakarta, tidak begitu jauh dari lokasi Candi Borobudur.
Kami menginap di rumah saudara, di sebuah desa yang sunyi. Akses internet terbatas, listrik sering padam, malam terasa lebih lama, dan suara alam tampak lebih dominan daripada notifikasi ponsel.
Kami shalat berjamaah di masjid desa yang sepi. Jika bukan karena kami—saya dan tiga anak laki-laki saya—jamaah tetap masjid itu hanya empat orang: seorang imam, seorang muadzin, dan dua jamaah perempuan.
Tidak jauh dari masjid, berdiri gereja Katolik atau Gua Maria, menjadi penanda bahwa di desa ini memiliki sejarah keyakinan yang unik, mereka tumbuh berdampingan dalam tantangan dan harmoni yang langka.
Saya mengajak anak-anak mengamati bagaimana warga desa bertahan hidup dari bertani dan berkebun. Begitu juga belajar dari perdagangan hasil bumi atau jajanan pasar yang sederhana.
Di desa ini, ada yang menyayat kelapa setiap pagi, mengumpulkan air nira untuk diproses menjadi gula merah. Ada yang menjual hasil kebun, menunggu musim durian, atau panen tanaman lain. Hidup berjalan pelan, tetapi nyata.
Kami juga bersilaturahim ke salah satu sanak keluarga yang tengah diuji hidupnya. Seorang pria dewasa dengan pekerjaan serabutan. Pernikahan yang retak setelah perkenalan singkat di media sosial. Perceraian yang meninggalkan satu anak yang kini harus ia urus sendiri, sementara sang ibu memilih pergi menjadi TKI.
Saya tidak memberi anak-anak saya kesimpulan instan. Saya hanya mengajak mereka melihat, mendengar, dan merasakan. Bahwa hidup tidak selalu lurus. Bahwa pilihan memiliki konsekuensi. Bahwa setiap orang memikul ujiannya sendiri.
Di setiap perjalanan, selalu ada hikmah yang diam-diam bekerja. Dan itulah yang ingin saya tanamkan kepada anak-anak: bahwa hidup tidak hanya perlu dijalani, tetapi juga dipahami.
Perjalanan, bagi kami, adalah cara menjaga percakapan tetap hidup. Agar anak-anak tidak tumbuh hanya dengan gawai, tetapi dengan cerita. Tidak hanya dengan prestasi, tetapi dengan empati.
Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan sejauh apa mereka melangkah, melainkan nilai apa yang mereka bawa pulang. Terutama ketika pulang kepada pemilik hidup dan mati.
Coach ASN Menulis

Fery
Hidup bukan hanya sekedar hidup
Memahami hidup memang rumit
Tetapi pilihan tetap menjalaninya adalah yang terbaik