f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
bersyukur privilege

Bersyukur dan Menghargai Setiap Kesempatan

Hidup di lingkungan yang melihat bahwa seorang anak bisa berkuliah adalah suatu privilege, membuat sebagian remaja tumbuh dengan sudut pandang yang berbeda, sudah pandang yang lebih dewasa.

Kalimat yang mungkin sering dilihat, yaitu, “aktivitasmu saat ini adalah impian bagi sebagian orang di sana. Bersyukur – lah.” Merupakan kalimat yang memiliki makna dalam dan menjadikan kita punya alasan kuat untuk terus bersyukur. Aktivitas yang kadang kala dirasa membosankan, atau kurang tantangan, atau cukup melelahkan, nyatanya adalah aktivis yang orang lain impikan untuk bisa mencapai posisi itu.

Kejadian yang sering membuat hati kecil kita sesak adalah menyaksikan para mahasiswa mahasiswi yang berkuliah hanya sekedar absen, tanpa menghargai kelas yang mereka pijak. Betapa baiknya Allah Swt. menjadikan kita remaja yang bisa duduk di kelas, berdiskusi dan belajar dengan dosen. Allah memberikan rahmat itu bukanlah tanpa sebab, dan meminta untuk ditunaikan dengan sungguh-sungguh.

Lihatlah bagaimana orang tua yang semakin senja memberikan sejumlah harapan yang seharusnya terasa di pundak. Lihatlah bagaimana orang-orang di kampung tau bahwa tetangganya itu akan merantau jauh untuk menuntut ilmu. Dan lihatlah adik atau kakak yang semula tidur di atap yang sama berusaha berdamai akan kesepian setelahnya. Kita tertancap sebagai seseorang yang akan menuntut ilmu, maka tunaikanlah itu. Tuntutlah dengan sungguh-sungguh atau waktu akan mengejar kita diikuti bayang-bayang penyesalan karena masa yang telah hilang tidak akan bisa diputar kembali.

Untukmu, muda mudi yang sedang bersusah payah bertahan agar tetap kuliah di tengah situasi yang entah mengapa, seakan menghantam kita dari berbagai sisi, sabarlah. Bertahanlah. Tetap tebarkan seulas senyuman dan percaya bahwa semua akan terlewati. Tidak lama lagi akan selesai, air mata kesedihan yang berjatuhan akan terganti dengan kelegaan. Teruslah percaya kepada Tuhan, kepada mimpi – mimpimu di coretan kertas, kepada kaki yang seakan perih terluka namun masih dipaksa dan diseret untuk berjalan.

Baca Juga  Membangun Kemandirian Perempuan Melalui Gerakan Filantropi

Kamu dengan kepayahanmu mustahil tidak bernilai apa-apa di mata sang ilahi.

Bagaimana jika sebagian muda mudi itu sudah gagal sepenuhnya dan menghentikan langkah mereka? Tidak, kamu tidak gagal. Bukankah segala jerih payah di awal sudah kita kerahkan? Berbanggalah. Bukankah banyak ikhtiar ke sana kemari yang telah kita upayakan? Berbanggalah. Bukankah ratusan bahkan ribuan doa telah kita langitkan? Di sela-sela panggilan azan dan iqomah itu yang sering kau angkat kedua tangan, di bawah rintikan hujan itu yang sering kau termenung sambil memejamkan mata, di kala bertemunya dahi dengan sajadah itu yang sering membuatmu mengadu dan menumpahkan semuanya. Berbanggalah. Janji Allah yang menenangkan bahwa tidak mungkin semua akan kembali dengan tangan kosong. Akan ada jawabannya, akan ada penggantinya, akan ada hal yang besar untuk ikhlasmu.

Jangan lagi kita melihat mereka yang bodoh tidak memanfaatkan keluarga yang mendukung untuk bisa belajar dengan nyaman. Jangan lagi kita melihat mereka yang tidak karuan dalam bergaul dan menghambur-hamburkan uang sehingga membuat orang tua yang jauh di sana menahan sesak. Dan jangan lagi kita melihat mereka yang menghabiskan waktunya hanya untuk memadu cinta tanpa ikatan suci dan dibiarkan potensi-potensi itu digerogoti. Jangan. Karena semua itu hanya akan menambah kesedihan.

Tetapi lihatlah di belahan bumi sana anak-anak yang bahkan tidak berani bermimpi untuk kuliah. Kita mungkin punya ratusan langkah untuk menggapai status menjadi mahasiswa, tetapi mereka di sana bahkan tangga di depan sudah dibentang tembok yang tinggi. Tidak berpikir untuk coba melangkah ke depan, hanya bisa ke kiri, ke kanan, atau terjerumus ke belakang. Bahkan mungkin memang dari awal mereka tidak melihat adanya kehidupan di depan sana. Yang katanya orang banyak tangga yang bisa dinaiki, tetapi yang mereka lihat hanyalah gumpalan kabut besar. Kadang hitam, menakutkan, dan sepi.

Baca Juga  Menjadi Pemimpin Perempuan di Masa Covid-19

Mari melihat kilas balik sejarah tentang bagaimana sulitnya orang terdahulu dalam mengakses pendidikan terutama perempuan. Situasi yang mengharuskan manusia-manusia biasa bekerja kasar sedari kecil dan anak-anak perempuan disembunyikan demi keselamatan diri mereka. Di situasi itu, jangankan berpikir untuk mengambil kelas publik speaking atau otodidak bahasa asing. Bisa bermain dengan leluasa di lapangan saja merupakan sebuah keberkahan.

Lihat bagaimana sebelum datangnya Islam orang-orang jahiliyah itu memperlakukan perempuan sesuka mereka. Bagaimana mereka boleh mempunyai istri dalam jumlah banyak, seakan-akan hakikat perempuan begitu lemah, bebas untuk dimiliki dan tidak punya kendali yang kuat untuk hidup, selain bertumpu pada suami. Membayanginya saja begitu sakit harus berada di posisi ke sekian dalam membina rumah tangga yang visi misinya sakinah, mawaddah, dan warahmah.

Cukuplah apa-apa yang diupayakan berjalan. Jika begitu sakit, mengikhlaskan selalu menjadi opsi akhir yang tidak bisa terelakkan. Kita adalah manusia lemah yang hanya tau sedikit sekali dari apa-apa yang ada di dunia. Bukanlah hal yang buruk untuk berdamai dengan air mata, berdamai dengan kesendirian dan berdamai dengan semua doa-doa. Orang yang paling tau kapan waktunya untuk tidak lagi memaksakan kehendak adalah diri kita sendiri.

Gapapa, semoga tempat pulang kita surga.

Bagikan
Post a Comment