f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
dengan teladan

Yang Wajib Diketahui Istri Sebelum Taat Kepada Suami

“Bagaimana hukumnya seorang suami yang menganggur di rumah, sementara sang istri bekerja di luar negeri dan dia tetap menuntut sang istri untuk taat kepada suaminya?”

Pertanyaan tersebut terlontar dari seorang mahasiswi saat kami mengadakan diskusi bedah kitab Uqud al-Lujjain karya Syaikh Nawawi al-Bantani. Jujur saya terkejut mendengar pertanyaan itu. Dalam sekejap muncullah berbagai hasil pengamatan saya bersama ibu-ibu saat mengobrol di sebuah teras rumah.

“Lihatlah si Anu, kerjanya hanya gosip. Kalau nggak di warung ya di rumah tetangganya, sambil menunggu kiriman dari istrinya yang kerja di Hongkong,” begitu kata Mbak Tun tetangga saya dengan penuh semangat.

Ternyata jumlah suami yang menjalankan ‘ritual’ di rumah saja dan istri bekerja cukup banyak. Kalau dihitung jari pun tidak cukup. Sebagai suami yang ehm sayang istri saya tiba-tiba merasa sesak mengetahui informasi tersebut. Bukan karena model rumah tangganya, namun ini karena ada tuntutan kepada sang istri untuk bekerja dalam waktu yang sama menuntut mereka untuk taat pada suaminya. Ibarat jatuh tertimpa tangga pula.

Berbicara mengenai kewajiban taat seorang istri, saya yakin, itu merupakan sebuah konstruksi sosial yang lahir dari pemahaman kitab Uqud al-Lujjayn yang banyak dikaji di berbagai pesantren di Indonesia. Lebih jauh mengenai kitab itu, ada sebuah hasil penelitian yang menegaskan bahwa kitab karya Syaikh Nawawi Al-Bantani berpeluang melahirkan kekerasan dalam rumah tangga. Bagi saya, itu adalah tuduhan yang cukup serius.

Yang Perlu Diketahui Suami

Dengan begitu, tergambarlah dalam benak saya imajinasi tentang suami yang sama sekali tidak ramah istri. Jika suami yang bekerja, pulang dari tempat kerja dalam keadaan cemberut karena kelelahan dan menuntut istrinya untuk selalu menyambut dengan senyuman dan kopi hangat di meja makan. Sementara bila istri bekerja, sang istri pulang dengan menemukan rumahnya dalam keadaan porak poranda, tumpukan cucian piring dan baju tetap menggunung tak tampak disentuh juga.

Baca Juga  Setiap Suami-Istri Perlu ‘Kencan’

Bayangan saya menjadi suami bak menjadi monster yang siap memaksa sang istri untuk selalu tunduk kepadanya. Jika istri tidak bersedia, berbagai ancaman disiapkan, dari kekerasan fisik hingga psikis berupa laknat para malaikat hingga masuk ke neraka. Bukankah itu cukup mengerikan?

Sebagai seorang suami alangkah baiknya bila kita mengetahui bahwa ketaatan yang menjadi kewajiban istri sekaligus menjadi hak seorang suami baru bisa didapatkan manakala seorang suami telah melaksanakan seluruh kewajibannya. Di titik inilah, penceramah agama jarang membicarakannya. Paling saya temukan ialah nasihat untuk taat dan melayani selalu tepat mengarah kepada mempelai perempuan. Padahal kewajiban laki-laki tidaklah sedikit.

Pertama, tugas seorang suami ialah memperlakukan seorang istri dengan baik. Misalnya sepulang kerja, sang suami pulang ke rumah dengan senyuman. Hal ini dikarenakan khitab (yang diajak bicara oleh)ayat, “Pergaulilah istrimu dengan baik,” adalah para suami. Meskipun pada akhirnya kata ‘pergaulilah’ di sana berarti saling artinya baik suami maupun istri wajib saling memperlakukan dengan baik.

Adapun tentang pemukulan—yang ini banyak disalahpahami—Syaikh Nawawi mengajukan syarat yang cukup panjang sebelum melakukannya. Di antaranya memberikan nasihat kebaikan dengan cara yang baik. Jika ini sudah dilakukan, langkah selanjutnya ialah mendiamkan istri atau biasa kita sebut pisah ranjang.

*

Bila dalam jangka waktu tiga bulan masih saja terjadi penyelewengan, pemukulan dilakukan dengan syarat tidak memukul wajah dan tidak boleh meninggalkan bekas. Jika suami yang melakukan penyelewengan, lakukan juga hal semacam itu kepadanya. Karena, baik suami maupun istri keduanya mempunyai peluang untuk berbuat penyelewengan.

Saya jadi membayangkan sendiri langkah-langkah tersebut hingga saya mempunyai kesimpulan: Tindakan pemukulan istri tidaklah mungkin bisa dilakukan. Adakah di antara kita yang cukup betah mendiamkan istri selama tiga bulan? Seminggu saja saya sudah ‘kelaparan’. Hehehe.

Baca Juga  Cegah Perceraian, Wujudkan Keluarga Impian

Kedua, nafkah. Inilah kunci menjadi seorang suami. Saya ulangi, nafkah ialah kewajiban suami dan menjadi hak seorang istri. Dengan nafkah inilah laki-laki menjadi lebih utama dari perempuan sesuai dengan ayat suci Al-Qur’an (QS. 4:34). Apabila laki-laki tidak menafkahi perempuan, dan yang terjadi adalah sebaliknya, maka perempuanlah yang menjadi lebih utama dari laki-laki. Itu sudah seharusnya kan?

Kalau dikorek lagi, nafkah di situ berupa sandang, pangan, dan papan. Maka logikanya, yang wajib mencuci pakaian, memasak masakan dan membersihkan rumah ialah suami. Karena nafkah tersebut diterimakan kepada istri sudah siap pakai. Bukankah begitu saudara-saudara?

Maka sudah sepantasnya seorang istri yang tetap bertahan menjalankan kewajiban pasangannya mendapatkan kasih sayang yang berlebih dari kita para suami. Hanya dengan bersabar mendengarkan keluhan mereka, selalu sigap, tanggap, dan trengginas saat mereka terlihat membutuhkan bantuan, atau bahkan mendahului mengerjakan tugas rumah tangga, saya yakin istri kita akan sangat bahagia. Dan, Tuhan menyukai hamba-Nya yang mengukir kebahagiaan di hati manusia lainnya.

Bahkan, apabila istri yang menjalankan kewajiban itu, apalagi istri yang menjadi tulang punggung keluarganya, pembaca sudah tahu sendiri siapa yang wajib untuk taat.

Bagikan
Post a Comment