Adaptasi dalam Menikah, Sebuah Ibadah Yang Tidak Mudah
Teman saya sedang gundah. Sepertinya, usia pernikahannya yang baru dua tahun di ujung tanduk. Menurut teman saya ini, suaminya terlalu cuek dan egois. Tidak mau mengerti apa maunya sang istri. Mau enaknya sendiri saja. Dia sebagai istri selalu merasa jadi pihak yang tersakiti, terutama secara psikis. Akhirnya dia menyerah. Dia mau pergi saja. Lebih baik melajang lagi, daripada menikah tapi merasa sendiri.
Saya pun bingung. Astaga, baru dua tahun lho!
Saya sebenarnya tidak mengenalnya dengan baik. Tapi, saya bisa mengenal gonjang-ganjing rumah tangganya. Darimana lagi kalau bukan dari medsos? Mulai dari berita politik sampai “jeroan” rumah tangga orang, otomatis tersedia. Benar-benar merangsang orang untuk ber-ghibah demi memuaskan rasa kepo yang awalnya tiada, menjadi ada.
***
Tapi ya memang ini kebiasaan orang zaman sekarang. Saat masih single, mungkin sudah terbiasa update keseharian di medsos. Tapi setelah menikah, apa tidak sebaiknya dipilih-pilih mana yang pantas di-share dan mana yang tidak? Sekarang, tidak hanya ada ‘dua hati’ yang harus dijaga, tapi juga amanah serta kewajiban yang harus dijalankan.
Saya sadar, menikah adalah ibadah yang tidak mudah. Apalagi ibadah ini diharapkan bisa dijalani seumur hidup. Menikah tidak seperti pacaran yang tinggal putus kalau merasa tidak cocok. Lah ini urusannya berat, lho. Tidak cuma dengan keluarga besar masing-masing, tapi bagaimana tanggung jawabnya ke Pencipta. Jadi apapun yang terjadi, justru riak-riak pernikahan inilah yang seharusnya bisa memberikan pembelajaran diri buat pasutri.
Buat saya, menikah itu tidak cuma menyatukan dua sifat dan karakter yang berbeda. Tapi juga dua keluarga besar dengan budaya, adab, kebiasaan, pengalaman hidup, bahkan trauma yang berbeda pula. Buat istri, makan sambil membaca buku mungkin tidak masalah, tapi buat keluarga suami bisa saja tidak sopan. Buat istri, tidur setelah shalat Shubuh adalah biasa. Tapi buat keluarga suami, setelah Shalat Shubuh sebaiknya tidak tidur karena menurutnya, rejeki bisa hilang.
Walaupun terlihat sepele, tapi perbedaan-perbedaan ini kerap memancing kekesalan dan pertengkaran di antara pasutri. Masalah pun bisa merembet ke pribadi pasangan yang menurut penilaian terlalu kaku, banyak aturan, sampai anti toleransi.
***
Tidak sedikit teman saya yang mengeluh, dari status medsos tentunya, kalau pasangan mereka berubah sifatnya setelah menikah. Menurut saya, setelah menikah pasutri ya memang harus berubah. Setelah menikah, harus kita sadari bahwa tidak hanya tentang diri sendiri, tapi juga pasangan (suami/istri), anak, bahkan keluarga pasangan. Jadi coba kita pahami, mungkin pasangan kitapun sebenarnya juga sedang berjuang untuk beradaptasi dengan perilaku dan kebiasaan kita dan keluarga.
Saya sendiri merasakan, betapa sulitnya proses adaptasi di kehidupan awal pernikahan. Apalagi, saya mengenal suami tidak sampai setahun sebelum akhirnya kami memutuskan untuk menikah. Berbagai pertanyaan seperti ‘kok begini?’ atau ‘lho, salahku di mana?’, sering sekali mengganggu batin saya.
Namun alhamdulillah, setiap ada perselisihan, saya selalu berhasil menguatkan hati dan pikiran saya bahwa ‘ini jodoh saya’. Saya tidak ingin pernikahan ini hancur hanya karena kami tidak bisa menyesuaikan diri dari sifat dan karakter pasangan. Mungkin selama ini, beberapa sifat yang saya anggap baik, ternyata tidak cukup baik bagi suami. Demikian sebaliknya. Kalau hal ini ternyata bisa bermasalah dalam kehidupan pernikahan kami, apa ada alasan lain yang menahan kami untuk berubah?
***
Yang pasti, saya meyakini bahwa perubahan-perubahan yang kami alami adalah sesuatu yang baik. Yang paling terasa, kami dituntut untuk lebih sabar dalam memahami karakter masing-masing. Selain itu, setiap saat kami juga harus selalu toleran dan mau memaafkan satu sama lain.
Mungkin awalnya ego kami bisa naik sampai ke planet Mars. Namun setelah menikah, kami harus menekan ego kami mentok setinggi atap rumah saja. Awalnya, emosi kami gampang naik kalau kesinggung sedikit. Tapi saat ini, kami lebih sering menginjak-injak emosi kami, walaupun kelihatannya sudah “matang” seperti jerawat mau pecah.
Hal ini jelas tidak mudah, tapi adalah suatu keharusan. Kalau niatnya ibadah, saya yakin masalah apapun bisa terselesaikan.
Buat saya, menjalani kehidupan pernikahan itu seperti sedang membangun sebuah tim. Di dalam tim, walaupun masing-masing anggota memiliki cara kerja yang berbeda, namun pada akhirnya tetap mengerucut ke satu tujuan yang sama. Sakinah, mawadah, warahmah. Langgeng sampai akhir hayat.
Salah satu kriterianya yang kalau bisa saya nobatkan sebagai “momen paling romantis” buat saya, adalah melihat pasangan kakek-nenek yang berjalan bersama sambil bergandengan tangan. Tidak saya pungkiri, kejadian itu menjadi salah satu cita-cita “tim” saya, yang saat ini masih beranggotakan saya dan suami. Insya Allah, kami masih berharap suatu saat bisa memperoleh keturunan yang dapat melengkapi anggota “tim” ini.
Dan saya sadar, tidak ada “tim” yang bisa dibangun dengan instan, dan tidak ada tujuan akhir yang bisa dicapai semudah membalikkan telapak tangan. Semua perlu perjuangan, pengorbanan, dan waktu yang tidak sebentar. Bahkan seumur hidup. Tapi saya yakin, proses adaptasi yang dijalani selama masa pernikahan merupakan ibadah yang akan dinilai oleh Sang Pencipta. Seberapapun sulitnya!
Wiraswasta, Mantan kru televisi

Murniyati
Artikel yg sangat bagus