Talak Tiga pada YOLO, Mendekati YONO: Yes or No?
Yuk, sejenak mengingat story tentang seorang yang hidup hanya dengan satu baju. Dalam salat berjemaah ia selalu di saf pertama. Tapi Nabi heran, kenapa selepas salam, Tsa’labah namanya, selalu tergesa pulang. Ternyata ada satu alasan. Ia harus bergantian baju dengan istrinya di rumah.
Dunia sekarang bukan zaman 1400 tahun silam. Siapa sih, yang mampu hidup dengan satu baju? Fumio Sasaki sekalipun, sebagai penganjur minimalisme lewat buku Goodbye, Things: Hidup Minimalis ala Orang Jepang setelah membuang benda-benda di rumahnya paling minimal hidup dengan tiga kemeja, empat celana panjang, empat pasang kaos kaki. Pun kita tak perlu kepo berapa uang di rekening banknya.
Namun, berapapun digit saldo kita, konsumerisme telanjur menjadi oksigen di atmosfer yang dihirup berjemaah. Zaman now, manusia hidup dikellingi benda. Selain baju, ada makanan, sneaker, jam tangan, furnitur, alat olahraga, parfum, dan silakan tambahkan sendiri. Satu esai ini tak muat untuk mencatat. Setelah membelinya lewat medsos setiap orang bisa menjadi ”bintang” iklan” dengan mem-posting-nya.
Manusia digital ingin diakui dan mendapat label tertentu. Banyak benda di rumah atau melekat di tubuh dimiliki bukan karena penting. Melainkan agar seperti orang penting. Bukan dibutuhkan fungsinya, tetapi diinginkan untuk menunjukkan identitas. Zaman digital adalah zaman belanja tinggal klik. Tak ada uang, paylater atau pinjol pun jadi.
Bukan satu-satunya, tapi salah satu virus yang menjadi terdakwa perilaku belanja adalah filosofi ”hidup cuma sekali, kapan lagi kita menikmati kalau tidak hari ini”. Gaya hidupYou Only Live Once (YOLO) ini membuat manusia kian impulsif, nekat dan tak berpikir panjang. Naluri bersaing dan narsis tak terkendali bikin lelah fisik dan mental.
Belakangan dari roster dinding dunia digital yang pengap, berhembus angin kesadaran baru. Kesadaran hidup lebih bersahaja, sedikit melambat dan minimalis. Rujukan gaya hidup dari Gen Z yang semula YOLO menjadi You Only Need One (YONO). Kita “hanya butuh satu”. Kalau sudah punya ngapain beli. Kalau sudah berfungsi kenapa harus memiliki lagi.
Lalu, apakah kita harus menjadi Tsa’labah?
Mindset YONO
Gaya hidup YONO tentu tidak bisa dimaknai letterlijk. Dalam sebuah artikel yang ditulis Kim Young-ji dalam Chonnam Tribune, YONO dimaknai dengan tiga perspektif, yaitu pola pikir hemat (frugal mindset), konsumsi selektif dan berbagi, ekspresi nilai melalui konsumsi (value consumtion).
Mindset hemat memberi manfaat adanya tabungan untuk kebutuhan mendesak. Hemat bisa dialihkan untuk berinvestasi, meng-upgrade skill atau untuk pengeluaran sosial seperti sedekah.
Pola pikir yang selektif esensinya tak berbeda dengan gaya hidup minimalis yang dipromosikan Fumio Sasaki. Ketika hanya punya sedikit barang, manusia tak akan obsesif terhadapnya. Ia akan makin punya waktu untuk memperhatikan keluarga, kerabat, sahabat, tetangga dan sekitarnya. Tersedianya waktu luang akan menyehatkan mental.
Selain hemat dan selektif, life syle ini berpihak pada tren konsumsi yang bersandar pada nilai-nilai yang kita yakini sebagai kebaikan. Di antaranya nilai yang memihak hidup berkesinambungan. Mengkonsumi barang selain memperhatikan nilai berkelanjutan dengan alam bisa dimanfaatkan untuk kesinambungan generasi dan kemanfaatan kepada orang lain.
Ini mengingatkan kita pada tren generasi muda muslim yang tulis oleh Shelina Janmohamed dalam M Generation saat menyinggung tema Konsumerisme Hijau. Kaum muda dapat memimpin dalam mempraktikkan konsumsi halalan thayyiban. Sebagai contoh konsumsi makanan hewani tidak melulu fokus pada bagaimana hewan disembelih tetapi bagaimana hewan tersebut diternakkan.
Termasuk mempromosikan tren diet, makanan organik dan bagaimana rantai pasokan makanan diproduksi dan dipasarkan. Dengan demikian dalam memilih produk, snack misalnya, tak hanya fokus pada logo halal di bungkusnya tetapi mempersoalkan apakah perusahaan pembuatnya sudah memperlakukan pekerja dengan layak.
Lebih dari, itu nilai keberlanjutan dimaknai dalam konteks kesinambungan hidup setelah mati. Filosofi ”hidup hanya satu kali” mengingatkan kita dengan hal yang berlawanan, yaitu salah satu film James Bond,You only Twice (1967) yang dibintangi Sean Connery. Film yang mengisahkan kecemasan tentang kemungkinan Perang Dunia III. Perang Dunia cukup dua kali. Konon judul ini terinspirasi dari haiku Jepang yang berarti ”Anda hidup hanya dua kali. Pertama, saat lahir dan kedua saat menatap kematian”.
Namun, dalam Lentera Al-Qur’an, Quraish Shihab memberikan perspektif hidup berkelanjutan versi Qur’ani. Hidup itu bukan cuma satu kali, melainkan dua kali. Hdup di dunia dan hidup di akhirat. Sembari mengutip ayat tentang para syuhada yang gugur berjuang tetap hidup dalam surat QS 40:11 yang artinya ”Wahai Tuhan kami, Engkau hidupkan kami dua kali dan mematikan kami dua kali pula”.
Memiliki benda secara selektif dan minimalis dekat dengan kebahagiaan. Sebab kita tidak mudah cemas. Ini berbasis pada pola pikir bahwa ada tujuan yang lebih jauh. Yaitu kehidupan yang tak perlu disesali dan dicemaskan sebagaimana ayat dalam Al-Qur’an yang berbunyi laa khaufun ‘alaihim walaa hum yahzanuun. Terhadap masa lalu, tidak ada yang harus disesali, dan masa depan tidak ada yang perlu dicemaskan. Inilah pegangan dalam menyehatkan mental manusia.
Oh ya, mumpung belum lupa. Melanjutkan kisah Tsa’labah bin Hathib, setelah curhat dan dibantu doa Nabi, nasibnya berubah drastis. Berawal dari seekor kambing yang mengubahnya menjadi peternak kaya raya. Segampang scroll sosmed dan belanja daring, dengan mudah ia meninggalkan kesalehannya. Dia mulai melupakan shalat. Salat Jum’at pun sudah tak terlihat. Bahkan menolak pula membayar zakat. Akibatnya, ia tidak diterima lagi dalam circle Nabi dan sahabat-sahabatnya. Kambing-kambing telah mendikte dirinya.
Fitrah Manusia
Kita berharap YONO ini bukan semata tren yang mudah memguap. Bukan pula sebatas milik golongan Gen Z saja. Kini semua generasi sudah hidup mengglobal dan terkoneksi.
Namun, setiap manusia punya fitrah yang sama. Dalam buku Menjadi Manusia Menjadi Hamba, Fahruddin Faiz bicara tentang fitrah. Perilaku manusia memang berpotensi negatif. Manusia mudah mengeluh saat susah, tapi lupa saat senang. Sebagaimana dalam Surah Al-Ma’arij ayat 19-21: Idzaa massahusy-syarru jazuu’aa, wa idzaa massahul-khayru manuu’aa. Manusia juga suka melampuai batas, Innal-insaana lirobbihii lakanuud (Surah Al Adiyaat ayat 100).
Namun secara umum Al Qur’an mengajarkan optimisme bahwa manusia punya fitrah cenderung pada kebaikan. Manusia adalah makhluk yang diciptakan dengan mukarram atau dimuliakan, walaqad karramnaa banii aadama dalam Surah Al-Isra ayat 70.
Merayakan gaya hidup YONO sehari hari adalah bagian dari merayakan fitrah manusia menuju kebaikan. Mendekati gaya hidup YONO bukan hidup dengan satu baju. Semula Tsa’labah adalah tokoh protagonis dan mendapat ”like” dari Nabi. Tetapi kesibukan dengan bisnis kambingnya menjauhkannya dari lingkaran Nabi. Tentu semua muslim ingin masuk dalam circle Nabi, para sahabat, tabiin dan generasi ulama saleh setelahnya.
Manusia modern disibukkan dengan ”kambing-kambing” urban. Benda bernama, baju, sepatu, kendaraan, koleksi hobi, dan bisa ditambkan puluhan atau ratusan item lagi. Terutama ponsel cerdas. Benda-benda yang menyibukkan manusia mati-matian untuk mampu membelinya, merawatnya hingga ”kambing-kambing” itu menyita perhatian dan mendikte manusia.
Tentu bukan underkonsumsi yang dituju oleh YONO. Islam mengajarkan untuk hidup layak sesuai standar kemanusiaan. Jadi, tidak perlu menjadi YONO garis keras seperti Tsa’labah ketika miskin. Apalagi lalai ketika berkecukupan.
Memilih yes pada gaya hidup YONO memang mudah. Semudah menganggukan kepala. Agar tidak melangit, cara hidup ini perlu contoh praktik-praktik sederhana. Seperti nasihat jangan memiliki barang kembar dan memiliki sesedikit mungkin benda. Belum lama ada liputan tentang Joli Jolan di Solo, yaitu fenomena komunitas untuk saling tukar barang. Juga gaya hidup janjian nebeng. Kearifan bertetangga yang mulai punah seperi pinjam perkakas ke tetangga (berbagi) tidak selamanya jelek
Kita perlu menekan tombol start, memulai belajar dengan hidup minimalis. Sembari mengimani bahwa mati di dunia bukanlah finish. Sebagai pre tes, niat ini boleh diuji saat kita hendak pergi. Tak sedikit di antara kita yang akan hadir ke suatu acara, lalu tertegun di depan almari. Seketika merasa tak punya baju. Anehnya sambil memandang tumpukan baju yang terlipat dan puluhan digantung. Sekali lagi, masihkah kita sering merasa tak punya baju yang layak untuk pergi?
Jadi, siapa yang bilang mudah? Tsa’labah yang dinasihati langsung oleh Nabi saja tak mampu menahan tipuan dunia. Begitu beratnya, hingga Ali bin Abi Thalib pada suatu waktu berkata tegas: talak tiga kepada dunia. Tugas berat manusia di zaman ini melawan arus tipu-tipu berupa narsisme, ego dan keserakahan. Setidaknya di zaman now, bagian kecil dari upaya itu mari talak tiga pada YOLO, mendekati YONO.
Bukankah fitrah manusia hidup pada akhirnya rujuk dengan Sang Khalik? Sementara kita, urusan baju saja rumitnya seolah-olah memikirkan negara.

Semula ayanya berniat menyematkan Nurul Ka’bah di akta kelahiran sebagai namanya. Bertautan kisah itu, kata “cahaya” diwariskan menjadi nama puterinya. Keseharian ia menjadi policy analyst di Pemerintah Kota Tegal. Suka membaca dan menulis menjadi caranya untuk “mencahayai” setidaknya untuk dirinya sendiri.
