f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
stres pembelajaran

Guru Belajar Menulis, Kenapa Tidak?

Banyak orang mengira bahwa saya lulusan sastra Bahasa Indonesia karena katanya saya itu dapat menulis puisi, cerita pendek, esai, opini dan lain sebagainya. Tapi pada kenyataannya bukan, dan sebenarnya saya lulusan pendidikan Bahasa Inggris. Jelas dong, mereka tertipu, wong sahabat saya sendiri juga bingung, melihat keseharian saya hanya menulis dan menonton drakor.

Belum lagi jika mereka tahu bahwa pekerjaan saya sebenarnya apa? Iya, saya seorang guru Bahasa Inggris di dua sekolah yang berada di kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Pekerjaan pokok saya adalah mengajar. Mereka semakin heran, kok guru dapat menulis. Menulis itu dapat dilakukan oleh siapa saja, tua muda, tidak terbatas usia, pria atau wanita, profesi apapun termasuk guru.

Wajar saja sih, mereka menduga seperti itu, karena dulu ketika kuliah memang tidak ada mata kuliah menulis. Padahal sebenarnya menulis itu merupakan salah satu yang wajib dipelajari dan dikuasai guru. Saya sendiri belajar menulis karena hobi dan kebutuhan. Selain mata kuliah psikologi pendidikan, mata kuliah menulis  seharusnya ada di bangku kuliah khususnya untuk mereka yang mengenyam bangku perkuliahan di fakultas pendidikan. Agar suatu saat ketika menjadi seorang guru atau ASN  yang nantinya bakalan dituntut membuat tulisan, mereka tidak perlu kelabakan dan belajar lagi.

***

Padahal menulis adalah keperluan mendesak bagi guru. Berdasarkan data Depdiknas tahun 2006 menunjukkan bahwa jumlah guru yang terhambat kenaikan pangkatnya terdapat 347.565 guru yang berstatus golongan ruang IIId sedang antri naik golongan ruang IVa, dari golongan IVa ke golongan IVb sebanyak 334.184 orang.

Hal ini menjadi tanda tanya besar, Guru yang dianggap “serba bisa” tapi dapat terhambat dalam naik pangkat. Setelah ditelisik, hambatan terbesarnya adalah tidak dapat menulis. Sedangkan syarat naik pangkat bagi guru golongan III C ke atas, di antaranya harus ada pengembangan diri yaitu membuat publikasi ilmiah; seperti presentasi di suatu forum ilmiah, penelitian tindakan kelas, artikel, esai yang dimuat di surat kabar; membuat karya tulis Ilmiah, buku fiksi maupun non fiksi, jurnal yang menambah poin dalam penilaian naik pangkat.

Baca Juga  Bu Ela, si Pengajar Surat Al-Fatihah

Untuk dapat mewujudkan semuanya, maka diperlukan latihan untuk menulis. Karena banyak guru yang mengatakan sudah banyak ide yang hadir dalam pikirannya tapi sulit untuk menuangkannya ke dalam kata-kata. Tentu semuanya perlu latihan yang akhirnya menjadi terbiasa. Di mulai dari kemauan yang keras dan selalu mencoba untuk belajar dan terus belajar.

Menulis sepaket dengan membaca. Oleh karenanya kenapa sekarang digalakkan budaya literasi seperti membaca. Karena dengan membaca, pikiran akan terbuka dan mendapat banyak pengetahuan sehingga kendala dalam menulis dapat diminimalisir. Banyaknya referensi akan menjadi inspirasi untuk menciptakan ide dan gagasan yang mau diungkap, dinarasikan dan diargumentasikan.

***

Terlalu sempit jika guru menulis hanya ingin naik pangkatnya lancar, karena sebenarnya banyak hal yang guru dapatkan darimenulis. Bagi guru itu sendiri, menulis bermanfaat untuk mengembangkan bahan ajar pada mata pelajaran yang diampunya. Hasil karya tulisan tersebut menjadi inspirasi dan motivasi bagi siswanya juga dapat untuk mengikuti lomba-lomba di bidang kepenulisan; serta menulis dapat dijadikan kerjaan part time untuk menambah sumber penghasilan.

Misalnya, jika kita dapat menulis artikel, opini atau esai dikirim ke media online kemudian tulisan itu diterima dan dipublikasikan; maka kita akan dapat fee dari tulisan yang kita kirimkan. Banyak media online yang dapat memfasilitasi para penulis esai untuk terus berkarya. Bukan hanya soal pendapatan, tetapi kita dapat melihat tulisan kita layak atau tidaknya apabila tulisan kita diterima dan dipublikasikan oleh media online tersebut.

Tulisan yang sudah dirasa baik belum tentu diterima oleh media online. Bahkan banyak penulis yang pernah ditolak oleh redaktur media online termasuk saya sendiri; tetapi semua itu dijadikan cambuk atau motivasi untuk menulis lebih baik lagi agar tulisannya layak dipublikasikan.

Baca Juga  Menyalakan Api Kemanusiaan di Tengah Pandemi Covid-19

Contoh lain, jika kita senang menulis puisi dan cerpen, kenapa tidak puisi puisi dan cerpen-cerpen itu dikumpulkan kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku. Banyak penerbit yang bersedia menerima karya-karya kita dengan biaya yang terjangkau. Setelah menjadi sebuah buku kita dapat mempromosikan atau menjualnya kepada orang lain.

Tentu saja, kita akan mendapatkan penghasilan, dengan menjual karya, kita dapat memberikan inspirasi dan kebermanfaatan dengan orang lain. Yang paling mudah lagi kita dapat menulis secara keroyokan, artinya seperti buku buku antologi, kumpulan puisi dan cerpen. Kita dapat mengajak guru dan siswa untuk menulis bersama-sama kemudian dibukukan.

***

Sebagai guru yang biasa menjadi narasumber bagi siswa siswanya, sudah terbiasa berbicara di depan orang banyak, seharusnya mudah untuk memulai menulis. Karena bahan dasar untuk menulis sudah ada seperti dari pengalaman mengajar, suka dan duka dalam mengajar, metode dan strategi pembelajaran yang dipilih sesuai dengan karakteristik siswa yang nantinya dapat memberikan inspirasi bagi para pembacanya.

Kendala yang sering didengar ketika guru ditanya kenapa tidak menulis? Dan jawabannya adalah karena tidak mempunyai ide, gagasan, terlalu sibuk sehingga tidak punya waktu untuk menulis, tidak mempunyai jiwa seni, tidak mempunyai mentor, susah membuat kerangka, dan banyak lagi yang lainnya.

Semua kendala di atas sebenarnya dapat diatasi dengan mulailah menulis dari sekarang, saat ini juga, dari apa yang kita dengar, lihat dan rasakan. Ditulis saja, dapat diawali dengan sebuah ilustrasi dari pengalaman sendiri maupun orang lain.

Untuk masalah waktu, hanya kita sendiri yang tahu kapan kita sibuk, kapan kita tidak sibuk, sebanyak apapun pekerjaan jika kita pandai membagi waktu pasti akan dapat dikerjakan sesuai jadwal yang sudah disepakati. Menulis itu tidak harus terjadwal, karena ide itu dapat muncul kapan saja dan di mana saja, maka dari itu jika ide itu sudah ada langsung saja untuk menulisnya. Kita tidak akan pernah tahu kapan tulisan kita akan selesai, jika kita tidak pernah memulainya, jadi mulailah menulis. Rahmania, tidak ada kata terlambat untuk berkarya.

Bagikan
Post tags:
Post a Comment