Mencicip Kehangatan Toleransi di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta
Menuju penghujung tahun 2020, ada begitu banyak cerita tentang intoleransi yang menyeruak dan menyiksa batin kita. Berita-berita tentang tindakan tak ramah terus bergaung di linimasa, seakan memang sudah separah itulah kondisi intoleran di negeri ini. Saya memiliki pengalaman berbeda, yang sangat hangat dan rasanya mendesak untuk saya bagikan melalui tulisan sederhana.
Pengalaman saya perihal hangatnya sikap toleran ini saya dapatkan dalam perjalanan saya sebagai ibu dari tiga anak. Bagi saya, memilih rumah sakit untuk bersalin adalah perkara yang susah-susah gampang. Sama seperti ibu pada umumnya, saya berusaha mendapatkan pelayanan yang baik dari rumah sakit yang saya percaya, khususnya untuk pengalaman melahirkan yang pertama. Sebagai calon orang tua baru, saya dan suami memilih berdasarkan anggaran, layanan yang dimiliki rumah sakit, reputasi rumah sakit dan dokter kandungan, lokasi, dan kriteria pendamping lain.
Sayangnya, meski sudah memilih rumah sakit terbaik, trauma persalinan ternyata tetap terjadi. Setidaknya, inilah yang saya alami pada persalinan pertama saya pada tahun 2013. Pengalaman pertama yang kurang menyenangkan membuat saya harus mengulang proses seleksi rumah sakit untuk kehamilan kedua. Saya merasa kurang beruntung pada persalinan pertama saya, yang menimbulkan deretan pertanyaan kenapa dulu begini begitu, kenapa bayi saya akhirnya tidak satu ruangan, kenapa saya harus migrain selama 3 bulan pasca Sectio Caesarea, dan lain-lain.
Trauma saya, membuat saya bertekad untuk mendapatkan layanan yang benar-benar baik, bukan hanya sesuai brosur saja. Sama seperti saat menyeleksi rumah sakit untuk persalinan pertama, saya membuat kriteria tertentu saat memilih rumah sakit untuk persalinan kedua, pada tahun 2015. Saya memilih rumah sakit yang sangat pro ASI, mengizinkan IMD selepas operasi Sectio Caesarea dan berbiaya terjangkau bagi kami. Jika sebelumnya saya memasukkan unsur latar belakang agama untuk rumah sakit pilihan, kini tidak lagi. Soal agama saya coret dari daftar kriteria sebuah rumah sakit.
Memilih RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta
Awalnya, saya memilih rumah sakit khusus ibu dan anak, namun atas saran dr. Sulistiari Retnowati, Spog., saya mempertimbangkan soal ketersediaan kantung darah untuk mengantisipasi kejadian terburuk berupa pendarahan. Atas saran beliau, pilihan saya akhirnya jatuh ke Rumah Sakit PKU Muhammadiyah, Yogyakarta.
Pada kunjungan saya yang pertama, saya ceritakan pada dokter Retno, betapa trauma saya pasca persalinan pertama belum kunjung hilang. Pada persalinan pertama, saya mengalami ketidakwajaran dan rasa kurang nyaman pada rumah sakit pilihan saya. Beliau memerhatikan betul dan mendengarkan keluhan saya, bahkan memberi catatan khusus di rekam medis saya tentang trauma saya, sehingga dokter anastesi yang kemudian menjadi rekan dokter kandungan saat operasi, memahami trauma saya.
Saat hari yang dijadwalkan tiba, dokter anastesi ini, pria, sudah sepuh masuk ke ruangan saya. Mengajak berdoa, memohon pada Allah supaya disembuhkan dari trauma. Saya katakan, “Saya Katolik, Dok.” Beliau dengan bijak menjawab, “Tidak apa-apa, mari kita berdoa. Mbak dengan cara Mbak, dan saya mendoakan dengan cara saya.” Ada haru yang menyesak dalam dada saya kala itu. Bukan hanya trauma saya yang sembuh, namun ucapan beliau sungguh membuat saya menjadi percaya sepenuhnya pada beliau dan tim yang akan melakukan tindakan bedah.
Sungguh tak saya duga, suasana operasi berjalan lancar, suntik anastesi sama sekali tidak sakit. Diselingi senda gurau dari para tenaga kesehatan tentang keseharian mereka. Saya menangis saat bayi saya diberikan pada saya untuk IMD (Inisiasi Menyusui Dini) yang tidak saya alami pada persalinan pertama saya, sementara para dokter merapikan jahitan. Saya menangis haru tentunya, Sectio Caesarea yang sebelumnya tak semenyenangkan ini.
Pasca operasi, saya dilatih untuk berjalan, diawali dengan senam ringan dari terapis. Bayi saya diperiksa oleh dokter H. Komaruddin, SpA yang kemudian menjadi dokter untuk anak-anak saya kala sakit pun saat imunisasi. Keramahan beliau, membuat anak-anak hapal sekali dengan beliau. Kadang saat periksa, yang sakit satu yang minta diperiksa semuanya.
Persalinan Anak Ketiga
Di tahun 2018, saya kembali lagi ke RS PKU Muhammadiyah, Yogyakarta. Operasi sesar lagi untuk anak ketiga. Kali ini dengan dokter anastesi yang berbeda, namun suasana hangat dan ramah seperti yang saya alami di tahun 2015 tetap saya rasakan. Yang berbeda adalah baju untuk pasien saat operasi, sudah menggunakan baju muslim khusus, sehingga yang terbuka hanya di bagian yang akan dikenai tindakan saja. Dilengkapi jilbab untuk muslimah, sementara saya tidak dipakaikan jilbab meski menggunakan baju khusus yang sudah menjadi standard di rumah sakit tersebut.
Saya pikir, layanan baik ini hanya terjadi karena saya memilih kelas VVIP. Ternyata tidak. Saya pernah dirawat inap di RS PKU Muhammadiyah Gamping tahun 2016 karena gejala radang empedu. Saya mencoba dari kelas 2 hingga VVIP, karena masalah ketersediaan kamar. Perlakuan perawat, keramahan petugas cleaning service, sama saja. Tidak berbeda saat melayani di kelas 2 maupun di VVIP, dari segi keramahan dan teknis. Saya pikir, standar layanan ini mungkin ada di setiap RS PKU Muhammadiyah.
Muhammadiyah dan Toleransi
Belakangan saya menyadari bahwa keberadaan Muhammadiyah sangat dekat dengan masyarakat. Tak hanya rumah sakitnya yang ada sampai pelosok, ruang pendidikan pun banyak dibangun oleh Muhammadiyah. Semoga sinar Muhammadiyah dapat selalu menerangi dan membangun kehangatan toleransi di negara ini, seperti yang sudah saya rasakan sendiri.
Seperti saat saya duduk mengantre giliran periksa atau menunggu obat, saya sadari busana saya berbeda, saya tidak berkerudung. Namun selalu ada percakapan hangat dari sesama pasien pun tenaga kesehatan yang jelas busananya berbeda dari saya. Dalam pikiran saya terlintas, kata siapa toleransi mulai pupus?
Mungkin saat kita terlalu sering bermain di lingkungan homogen, kita berpikir bahwa toleransi mulai pupus. Sekali waktu, cobalah untuk berkunjung ke lingkungan yang berbeda busana dan atributnya, barangkali Anda akan merasakan pengalaman berharga seperti yang saya rasa, bukti nyata bahwa sekalipun ajaran agama ditegakkan, toleransi bisa hadir dalam percakapan-percakapan antar manusia.
Butet Rs M adalah ibu dari tiga anak, tinggal di Bantul.

Mohammad Komarudin
Trm kasih atas tulisannya,salam sehat,smg Allah sll melingungi keluaga kita,aamiin
Jirah azizah
MasyaAllah
Tabarakallah
Moncer
Amien…
Nur Hidayani
Terimakasih atas inspirasinya Ibu Butet, sungguh Ibu bisa menilai demikian karena hati ibu bersih dari prasangka buruk sehingga dipertemukan dengan petugas2 RS yang bersih dan tulus melayani. Di alam ini kadang tidak disadari bahwa Allah akan mempertemukan segala sesuatu yang sefrekwensi, seirama. Dan inilah jadinya.
Petugas2 RS PKU selalu diajarkan Senyum….Salam…Sapa, Ibu juga merasakannya?
Mujahidin Ahmad
masyaa Allah… terima kasih Bu Butet …
Kaharuddin Yunus
Terima kasih Bu Butet, tulisan yg tulus dan sangat menginspirasi. Mohon izin untuk sy bagikan
Agus Budi Prasetyo
Gantian saya yang terharu dengan tulisan ibu Butet , semoga ibu dan kelurga sehat selalu, aamiin
Mustain
Subhanallah……semoga ini dibaca, didengar banyak orang khususnya orang2 yg senengnya menfitnah, mengadu domba………
Untuk internal muhammadiyah, semoga pelayanan terbaik ini merata disemua amal usahanya, dimanapun berada……..aamiin….
Iswandi Nawawi
Alhamdulillahhirobbilalamin, salam hangat untuk Ibu Butet sekeluarga.
Faesol
Terima kasih bu Butet atas narasinya yg cukup inspiratif dan konstruktif, mudah2an ibu sekeluarga senantiasa diberikan kesehatan…..aamiin
HD. Iriyanto
Bu Butet…. boleh jadi inilah bukti nyata bahwa Allah Swt senantiasa bersama prasangka hamba-Nya. Saat yg Ibu pikirkan adalah hal yg positif, maka yg positif itu pula yg hadir membersamai Ibu. Selamat mjd Ibu yg dibanggakan anak-anak…..
Hatta
Tulisan yang sangat menyejukkan semoga menjadi bekal pengabdian kita semua terhadap kemanusian dalam rangka ibadah pada Allah.
trimkasih Bu Butet
Nurwachid
Pernyataan tulus dr pengalaman nyata bu Butet sungguh sangat menginspirasi, semoga ke depan pelayanan muhammadiyah ke masyarakat bisa lebih baik. Tentu tiada gading tak retak. Ibu Butet & keluarga selalu sehat & sukses.
Nurwachid
Pernyataan bu Butet yg tulus sungguh sangat menginspirasi, semoga pelayanan muhammadiyah kpd masyarakat kedepan akan lebih baik. Tiada gading yg tak retak. Ibu Butet & keluargs semoga selalu sehat & sukses.
J.A. Aryawan
Saya merasa bahagia sekaligus terharu membaca tulisan Ibu. Sejuk sekali membacanya. Matur nuwun Bu sudah berbagi cerita yang mak nyess di hati
Dani Abdullah
Cerita Bu Butet enak di dengar
Subhana Alloh
Damam Purwanto
Semoga menginspirasi petugas RS yang lain, karena hal yang dialami spt ibu ini mungkin Allah mempercepat kesembuhan
*Muhammadiyah bagai sang surya menyinari dunia
Vivin Salma
Saya terharu membaca tulisan Ibu Butet… Salam sehat… Semoga Ibu senantiasa menjadi Ibu Bijak yang dibanggakan putera Puteri Ibu…
Salam Toleransi dan salam cinta damai
RS PKU Muhammadiyah lenjutkan pelayanan yang terbaik
In syaa Allah mendapat hasil terbaik pula… Aamiin…
Lina
Terima kasih sharingnya yang tulus, Ibu Butet. Inspiratif.
Ismarwati
Testimoni yang objektif dan tulus bu Butet semoga senantiasa diberi kesehatan. Amin.
@ RSPKU lanjutkan u layanan prima berbasis nilai nilai islam berkemajuan.
Wahyudin
Sesungguhnya toleransi masih ada dan menjadi karakter asli umat manusia. Terkadang politik praktislah yang membuat kita saling curiga
damar
ketika pulang ke yogya thn 2012, anakku yg baru pertama kali ke yogya terkena asma. aq bawa ke PKU yogya di dekat perempatan BNI 1946. perawatan cepat, anak suka dan diajak omong dgn bhs inggris oleh perawatnya pula ( anakku tak bisa omong bhs indonesia ). biaya – pun tdk mahal meskipun tak punya asuransi kesehatan dan mereka tahu si pasien bukan org indonesia