Berharap Pada Sastra Anak
Oleh: ER. Setiyawan
Sebulan lebih program belajar dari rumah (learning from home) diterapkan. Hampir semua aktivitas pembelajaran bergeser dari ruang kelas ke ruang daring. Hal tersebut membuat sebagian orang tua jadi sangat permisif terhadap gadget.
Sebagiannya lagi mulai khawatir. Sikap permisif terhadap gadget atau instrument pembelajaran digital lain dapat menyebabkan anak-anak kita kecanduan, kemudian bisa mengantarkan anak kita menjadi semakin egois atau selfish.
Mereka lupa dengan dunia diluar mereka dan menjadi a-sosial.
Kondisi diatas membutuhkan peran orang tua. Orang tua perlu menjadi teman sekaligus guru untuk mengontrol aktivitas tersebut. Selain itu, kondisi wabah ini menjadi momentum bagi orang tua untuk menekankan pentingnya kerja tim dan nilai saling peduli kepada anak.
Sejak dini anak dikenalkan dengan nilai-nilai humanisme. Sebuah nilai tentang kepedulian terhadap sesama manusia tanpa membedakan agama, ras ataupun identitas lainnya.
Salah satu alat untuk mampu membentuk karakter anak yang humanis sejak dini adalah mengenalkannya dengan sastra. Karya sastra merupakan salah satu alat untuk membangun karakter.
Hal tersebut diperkuat dengan dengan banyaknya penelitian yang mengungkapkan bahwa sebuah cerita mampu menjadi sebuah medium untuk membangun imajinasi anak yang produktif dan humanis.
Waktu bersama dengan anak yang relatif banyak ketika pandemi harus dimanfaatkan orang tua untuk mengenalkan dan menggunakan narasi-narasi dalam sastra sebagai bagian dari pembelajaran dan interaksi dalam rumah.
Sastra Anak
Dalam konteks Indonesia, sastra anak belum terlalu mendapatkan perhatian yang serius. Padahal sastra anak memiliki peran yang cukup signifikan dalam membentuk watak dan cara berfikir seseorang ketika dewasa. Dengan sastra pula, anak mengasah imajinasi, rasa sosial, rasa etis, kemampuan fantasional, ide-ide, dan visi untuk menyehatkan daya nalarnya.
Bandura (2012) menjelaskan bahwa anak adalah peniru ulung atas apa yang dilihatnya. Melalui pengalaman kesehariannya, mereka mengamati dan meniru hal-hal yang dia amati. Menciptakan bacaan dan narasi yang humanis berupa teks sastra adalah upaya strategis ditengah wabah yang cenderung membuat anak dan orang tua terjebak pada kebosanan.
Friedrich Schiller (1993) menjelaskan bahwa sastra bisa menjadi semacam permainan penyeimbang segenap kemampuan mental manusia, yang didalamnya terdapat kelebihan energi yang harus disalurkan.
Singkatnya sastra mengalihkan kelebihan energi menjadi kreatifitas, perasaan, kepekaan, dan sensitivitas kemanusiaannya. Maka bisa jadi manusia terhindar dari tindakan-tindakan destruktif, sempit, kerdit, picik dan mudah marah.
Dalam kontek sejarah, KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah memberi tauladan bagaimana sastra di manfaatkan. Pengulatannya melakukan perubahan dalam bidang pendidikan dan sosial kala memanfaatkan sastra dan seni sebagai medium transformasi nilai.
Dalam novel sang Pencerah, Basral (2010) menceritakan bahwa Tembang Dolanan Lir-Illir sering diajarkan oleh KH. Ahmad Dahlan dengan permainan biola kepada para muridnya untuk memberikan semangat belajar dan menuntut ilmu.
Dolanan termasuk tembang berbahasa Jawa yang biasanya digunakan anak-anak sebagai sarana bersenang-senang mengisi waktu luang dan sarana komunikasi yang mengandung pesan mendidik dan menggerakkan.
Danandjaja (1985) mengkategorikan dolanan sebagai sastra lisan Jawa. Sastra yang lebih banyak diperuntukkan untuk anak-anak. Gambaran diatas menegaskan bahwa sastra anak kala ini menjadi bagian penting dalam membangun imajinasi anak.
KH Ahmad Dahlan di era itu sadar betul akan pemanfaatan medium sastra sebagai bagian dari dakwah. Salah satu tembang Dolanan yang popular adalah Lir-Illir. Tembang ini liriknya bernilai religius dan menggambarkan kearifan wali songo yang mengajarkan Islam secara menggembirakan dan tidak terasa menggurui.
Cerita Anak yang Patriarkal dan Tidak Produktif
Kontribusi sastra anak dalam perkembangan emosional, intelektual, imajinasi, rasa sosial, rasa etis, serta religiusitas dari seseorang atau sebuah komunitas menjadi bagian penting dari pembentukan karakter. Sastra anak adalah salah satu sumber terpenting untuk kesadaran itu.
Akan tetapi apakah semua karya sastra anak mengandung nilai-nilai positif untuk anak? Tentu saja tidak. Orang tua perlu secara cerdas membaca narasi-narasi sastra yang dikonsumsi oleh anak.
Setiyawan (2017) dalam penelitiannya menjelaskan tentang narasi-narasi sastra anak dalam cerita rakyat, fabel, dongeng dan cerita islami masih banyak yang cenderung patriarkal. Menempatkan laki-laki sebagai pusat utama dalam cerita meskipun pemeran utamanya perempuan.
Salah satu contohnya adalah cerita Merah dan Bawang Putih. Dalam cerita tersebut digambarkan konflik antara dua perempuan. Salah satu yang memicu konflik adalah perebutan sosok laki-laki, yakni pangeran.
Dalam cerita itu digambarkan begitu jelas bagaimana perempuan berada pada satu konflik dan menempatkan laki-laki sebagai pusat dari cerita yang diperebutkan. Hal serupa juga terjadi pada narasi cerita yang yang lain. Beberapa hal tersebut tergambar dalam beberapa poin.
Pertama, dominansi wacana kecantikan dalam kisah-kisah seperti Bawang Merah, Cinderella, Cinderalas, Beauty and The Beast, dan Sangkuriang. Tidak ada satupun dalam kisah itu yang menanggalkan wacana kecantikan perempuan sebagai bagian dari narasinya.
Kedua, inferioritas perempuan tergambar dari domestikasi tokoh-tokoh perempuan dalam kisah-kisah itu. Tokoh perempuan tetap menjadi bagian dari sosok yang bekerja di dalam rumah, rajin melakukan perkerjaan dalam rumah, menunggu di rumah, tidak melakukan aktivitas perburuan hewan dalam hutan, tidak melakukan sabung ayam, bahkan perannya sebagai Ibu pun harus diputuskan oleh tokoh laki-laki seperti yang dikisahkan dalam Abu Nawas.
Ketiga, inferioritas perempuan terlihat dari minornya penceritaan tokoh perempuan dalam kumpulan kisah-kisah Kancil, Abu Nawas, dan Nasrudin. Ketiga hal itu adalah wujud relasi patriarki yang jika hanya dibaca sekilas tanpa ditelaah dan dianalisis mendalam tidak akan muncul kepermukaan.
Selain dalam persoalan patriarkal, beberapa cerita anak berusaha membangun imajinasi yang tidak produktif.
Hal tersebut Nampak dalam kisah Malin Kundang. Citraningtyas (2004) dalam penelitiannya menegaskan terkait dikutuknya Malin menjadi batu justru menimbulkan sebuah masalah baru. Malin dikutuk menjadi batu, sebuah benda mati yang tidak produktif: keras, dingin, mati.
Kutukan menjadi benda mati yang tidak produktif ini mematikan dan membelenggu pihak yang dikutuk dan menjadi tidak bisa produktif kembali. Selain itu juga, memberi pesan bahwa orang yang bersalah/durhaka tidak memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.
Pada versi cerita Malin Kundang yang lebih baru, biasanya sudah diceritakan bahwa Malin telah memohon maaf pada ibunya, namun sudah terlambat. Hal ini justru lebih parah karena mengajarkan untuk tidak memberi maaf kepada orang yang bersalah. Meskipun telah meminta maaf, Malin tetap dikutuk.
Menghadapi narasi-narasi sastra anak yang cenderung patriarkal dan tidak produktif. Orang tua atau guru perlu melakukan rekonstruksi. Rekonstruksi cerita bukan sekadar retelling (menceritakan kembali). Rekonstruksi mengubah skema dan menggantinya dengan yang lebih baik. Penggantian ini selayaknya dilandasi dengan mengacu pada nilai-nilai humanis, tentunya setting dan pembangunan karakternya disesuaikan dengan zaman.
*Penulis adalah Ayah dua anak dan pemerhati sastra anak

achmad Hidayatullah
keren dan menginspirasi cak
uapikk