f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
dinar dan dirham

Rekonstruksi Dinar dan Dirham Sebagai Mata Uang

Pada pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi Kuala Lumpur Summit (KTT KL Summit 2019)  yang dihadiri oleh 450 delegasi dari 56 negara muslim dunia di Kuala Lumpur, Malaysia. Perdana Menteri Malaysia kala itu Tun Dr. Mahathir Mohammad menyatakan bahwa;

“Perbincangan kita di Kuala Lumpur Summit 2019 turut menyentuh mengenai mata uang, dan bagaimana kita (negara muslim) berdagang di kalangan kita. Saya mengusulkan agar kita sekali lagi melihat kepada ide berdagang menggunakan dinar emas dan barter dalam perdagangan kita”. Dr. M (julukan bagi Mahathir) menyampaikan hal itu dalam sambutan penutupan pada pertemuan empat hari di Kuala Lumpur Convention Center (21-12-2019).

Di kesempatan yang sama ia juga menambahkan “Dollar Amerika tidak stabil kadang ia kuat kadang juga ia lemah tetapi emas memiliki nilai tertentu untuk semua negara di seluruh dunia. Jika kita gunakan emas sebagai standar mau kita namakan mata uang kita apapun ia akan lebih stabil tetapi ia perlu berkait dengan emas di negara kita masing-masing”

***

Pemakaian koin emas dan perak sebagai alat tukar telah berlangsung sebelum Islam datang. Istilah dinar berasal dari koin Romawi, denarius, sedangkan dirham berasal dari koin Persia, drachma. Oleh sebagian orang yang belum mengetahui fakta sejarah ini sering dipahami bahwa Rasulullah SAW tidak menetapkan suatu ketentuan baru tentang mata uang, tetapi sekedar meneruskan apa yang dilakukan oleh kekaisaran Romawi dan Persia.

Dalam sejarah kehidupan manusia, komoditas terbaik yang lazim dipakai sebagai alat tukar yaitu emas dan perak. Memang ketika awal kehadiran Islam banyak koin yang berasal dari Romawi dan Persia. Hal ini dapat dipahami karena memang kedua kekaisaran tersebut yang berkuasa kala itu akan tetapi koin Romawi dan Persia yang beredar di Jazirah Arab ketika itu tidak seragam ukurannya pun bermacam-macam. Baru ketika ditetapkan takarannya oleh Rasulullah SAW koin dinar dan dirham (selanjutnya ditulis DnD) di Madinah memiliki standar baku.

Baca Juga  Renungan Kemerdekaan: Pulih Hutanku, Bangkit Energi Terbarukan

Dinar adalah koin emas berkadar 22 karat (91,70%) dengan berat 4,25 gram. Sedangkan dirham adalah koin perak murni (99,95%) dengan berat 2,975 gram. Standar DnD ini telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW pada 1 Hijriyah dan kemudian ditegakkan oleh Khalifah Umar bin Khattab pada 18 Hijriyah saat untuk pertama kalinya Khalifah Umar mencetak koin dirham.

 Sedangkan orang yang pertama kali mencetak dinar emas Islam adalah Khalifah Malik ibn Marwan pada 70 Hijriah, dengan tetap mengacu pada ketentuan dari Rasulullah SAW maupun Umar bin Khattab, yaitu dalam rasio berat 7/10 (7 dinar berbanding 10 dirham).

Dinar dan Dirham, Mata Uang yang Stabil

DnD adalah mata uang yang stabil, tidak seperti uang kertas yang terus menerus mengalami inflasi. DnD tidak mengalami inflasi sejak zaman Rasulullah SAW hingga sekarang. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Prof. Roy W. Jastram yang dituangkannya dalam buku The Golden Constant. Ia melakukan penelitian harga emas terhadap beberapa komoditi untuk kurun waktu selama kurang lebih 500 tahun (1560-1997); dan hasilnya didapati bahwa harga emas ternyata konstan dan stabil sekalipun selama waktu tersebut telah terjadi krisis, perang dan berbagai bencana alam.

Bandingkan dengan inflasi dan resesi ekonomi yang diakibatkan oleh penggunaan uang kertas selama beberapa tahun saja. Di Amerika pada tahun 1775 ketika Conggres Amerika kebingungan mencari dana untuk membiayai perang; maka dicetaklah uang kertas yang disebut continental sebesar 241 juta $. Uang ini antara lain dipakai untuk membeli senjata, membayar tentara dan kebutuhan perang lainnya. Namun karena sejatinya uang kertas hanyalah secarik kertas (tidak memiliki nilai intrinsik) maka uang ini berakhir sebagai kertas penutup dinding (wallpaper) di barber shop. Tragis!.

Baca Juga  Menyoal Larangan Aktivitas LGBT di Piala Dunia 2022

Kegagalan uang kertas di Indonesia tak kalah menyedihkan. Dalam periode 5 tahun antara 1960-1965 tingkat inflasi mencapai 650% dan indeks biaya mencapai 438, indeks harga beras mencapai 824, tekstil 717 dan harga rupiah 1/75 dari angka 160/US$ menjadi 120.000/US$. Sungguh tragis inflasi yang ditimbulkan akibat penggunaan uang kertas!.

Mencegah Resesi dengan Dinar dan Dirham

Penggunaan DnD juga dapat meminimalisir penurunan ekonomi atau resesi. Karena transaksi menggunakan DnD tidak terpengaruh oleh tingkat inflasi dan pengaruh moneter lainnya; maka akan menciptakan sistem moneter yang adil dan berjalan secara harmonis dengan sektor riil. Sektor riil yang tumbuh bersamaan dengan perputaran DnD akan menjamin ketersediaan kebutuhan masyarakat.

Selain itu DnD juga dapat mengatasi berbagai permasalahan sosial, permasalahan sosio-ekonomi seperti kesenjangan yang tinggi antara si kaya dan si miskin akan sendirinya berkurang karena stabilnya tingkat perekonomian. Dan pada akhirnya kemakmuran rakyat sebagai salah satu tujuan didirikannya negara dapat benar-benar terwujud; karena krisis moneter yang menjadi pintu utama masuknya kapitalisme untuk menguasai perekonomian negara tidak akan terjadi.

Sudah semenjak 15 abad yang lalu Rasulullah SAW mengingatkan kita tentang pentingnya menggunakan DnD sebagai mata uang dan alat transaksi lainnya. Beliau bersabda; akan datang suatu masa di mana tidak ada lagi yang bisa dibelanjakan (karena kehilangan nilai) kecuali dinar dan dirham. Selamatkan dinar dan dirham. (HR Ahmad)

Akibat hilangnya DnD, selama hampir seabad terakhir ini masyarakat terus-menerus menanggung akibat merosotnya nilai alat tukar modern yang diberlakukan saat ini, yaitu uang kertas. Kemiskinan menjadi fenomena umum akibat inflasi dan pemajakan segalam macam kebutuhan masyarakat yang tiada henti.

***

Dari beberapa penjelasan tersebut telah ditunjukkan keunggulan pemakaian DnD ketimbang uang kertas, ide dari mantan Perdana Menteri Malaysia Tun. Dr. Mahathir Mohammad yang ingin kembali menggunakan DnD dalam bertransaksi patut kita apresiasi.

Baca Juga  Pendidikan John Dewey dan Relevansinya dengan Pendidikan Islam

Di Indonesia DnD sudah diterbitkan kembali oleh Wakala Induk Nusantara dan didistribusikan oleh  wakala-wakala yang ada di setiap daerah. Untuk melihat daftar daerah yang sudah memiliki wakala sebagai tempat untuk menukarkan DnD dapat dilihat di situs pasar muamalah.

Tetapi bukan hanya karena keunggulan secara ekonomis yang sudah dijelaskan sebelumnya saja alasan kita kembali menggunakan DnD melainkan kita kembali menggunakan DnD demi mentaati perintah Allah SWT dan menghidupkan kembali Sunnah Nabi SAW yang telah lama hilang.

Bagikan
Post a Comment